Kades Doda Jelaskan Alasan Platdeker Diganti Gorong-gorong, Sebut Pertimbangan Anggaran
Nurhadi Hasbi June 25, 2026 11:47 AM

 

TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU - Pemerintah Desa Doda, Kecamatan Sarudu, Kabupaten Pasangkayu, memberikan penjelasan terkait pertanyaan sejumlah warga mengenai penggunaan gorong-gorong yang menggantikan rencana pembangunan platdeker pada salah satu titik saluran air di desa tersebut.

Kepala Desa Doda, Angel Irfan, saat dikonfirmasi Tribun-Sulbar.com, Kamis (25/6/2026), mengatakan keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kondisi lapangan, anggaran yang tersedia, serta kebutuhan masyarakat pengguna jalan.

Menurutnya, lokasi yang saat ini dikerjakan sebelumnya memiliki deker yang mengalami penyumbatan sehingga harus dibongkar.

Baca juga: Tiga Kali Dibobol Maling, Warga Jalan Moh Hatta Pasangkayu Mengaku Rugi Jutaan Rupiah

Baca juga: Pemkab Pasangkayu Siap Tindaklanjuti Kritik DPRD Terkait Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025

"Itu deker lama tersumbat, makanya dibongkar. Kemudian anggaran yang tersedia juga tidak cukup untuk membangun deker baru dengan ukuran yang sesuai," kata Angel Irfan.

Pertimbangkan Anggaran dan Aktivitas Masyarakat

Ia menjelaskan, pembangunan platdeker baru membutuhkan biaya yang lebih besar serta waktu pengerjaan yang relatif lama.

Selain itu, proses pembangunan platdeker mengharuskan akses jalan ditutup selama pekerjaan berlangsung.

"Kalau dibangun deker lagi, jalan harus ditutup. Pengerjaannya bisa sampai sekitar satu bulan. Saya juga mempertimbangkan masyarakat yang melintas di situ, termasuk kendaraan pengusaha sawit yang setiap hari menggunakan jalan tersebut," ujarnya.

Menurut Angel, penutupan jalan dalam waktu lama berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat maupun distribusi hasil perkebunan yang menjadi salah satu penopang ekonomi warga.

Terkait kekhawatiran warga mengenai potensi banjir, Angel menilai asumsi tersebut masih perlu dibuktikan setelah pekerjaan selesai.

Ia menyebut saluran yang berada di lokasi tersebut merupakan "sungai mati" yang hanya akan menampung air dalam kondisi tertentu.

"Itu sungai mati. Kalau hujan sangat deras memang bisa saja ada luapan, tetapi kita lihat dulu setelah pembangunan selesai. Sekarang ini masih dalam proses pekerjaan," katanya.

Angel juga mengaku belum menerima laporan atau penyampaian keberatan secara langsung dari warga yang mempertanyakan proyek tersebut.

"Warga yang menyampaikan keberatan itu tidak pernah datang melapor atau berdiskusi ke desa terkait persoalan ini," tambahnya.

Sebelumnya, sejumlah warga mempertanyakan penggunaan gorong-gorong pada proyek yang dibiayai Dana Desa Tahun Anggaran 2026 tersebut. Mereka khawatir kapasitas gorong-gorong tidak mampu menampung debit air saat hujan deras sehingga berpotensi menyebabkan genangan maupun banjir.

Berdasarkan informasi pada papan proyek, pekerjaan tersebut memiliki nilai anggaran sebesar Rp29.260.000 yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) melalui Dana Desa Tahun Anggaran 2026.

Saat ini pembangunan masih berlangsung dan pemerintah desa memastikan pekerjaan akan diselesaikan sesuai perencanaan yang telah ditetapkan. (*)

Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Taufan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.