Tabut Bersanding, Malam Puncak Festival Tabut yang Mengenang Kejayaan Islam
Ricky Jenihansen June 25, 2026 11:52 AM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU – Cahaya lampu warna-warni dari belasan bangunan Tabut mulai menyala satu per satu ketika malam menyelimuti Simpang Tugu Dol, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu, Rabu (24/6/2026).

Di sepanjang Jalan A Yani, ribuan masyarakat berdesakan memenuhi sisi jalan.

Sebagian mengabadikan momen dengan telepon genggam, sebagian lainnya menikmati keindahan Tabut yang berjajar rapi dalam prosesi Tabut Bersanding atau Arak Gedang, puncak rangkaian Festival Tabut 2026.

Suasana Malam Tabut Bersanding

Bangunan-bangunan Tabut yang dibuat oleh keluarga kerukunan Tabut tampil dengan ragam bentuk dan ornamen khas.

Lampu kelap-kelip yang menghiasi setiap Tabut membuat suasana malam semakin semarak, sekaligus menjadi daya tarik bagi pengunjung yang datang dari berbagai daerah.

Tak sedikit masyarakat yang bergantian berfoto di depan Tabut.

Di sela keramaian, deretan pelaku UMKM turut meramaikan kawasan festival, menghadirkan suasana yang bukan hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga tempat berkumpulnya masyarakat menikmati malam puncak Festival Tabut.

Namun, di balik kemeriahan tersebut, Tabut Bersanding bukan sekadar atraksi budaya.

Bagi keluarga pewaris Tabut, malam itu menyimpan makna yang telah diwariskan lintas generasi.

Makna Tabut Bersanding

Pewaris Budaya Tabut Imam Senggolo, Adil Qurniawan, mengatakan bahwa Tabut Bersanding atau Arak Gedang merupakan malam yang menggambarkan kejayaan Islam sekaligus menjadi penutup seluruh rangkaian ritual budaya Tabut.

“Tabut Bersanding atau Arak Gedang merupakan malam mengenang kejayaan Islam. Pada malam itu seluruh kelompok Tabut berkumpul dan bersanding dalam satu arena sebagai penutup rangkaian prosesi budaya Tabut,” ujar Adil Qurniawan saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Rabu (24/6/2026).

Sebelum mencapai malam Tabut Bersanding, keluarga Tabut terlebih dahulu menjalani rangkaian prosesi yang panjang.

Tahapan itu dimulai dari mengambil tanah, kemudian duduk penja, menjara, meradai, arak jari-jari, arak sorban, hingga akhirnya arak gedang atau Tabut Bersanding.

Menurut Adil, prosesi Tabut Bersanding biasanya dimulai setelah Salat Isya.

Pada masa lalu, kegiatan tersebut berlangsung hingga sekitar pukul 22.00 atau 23.00 WIB.

Perubahan Tradisi Tabut

Ada satu hal yang kini berubah dibandingkan masa lampau.

Dahulu, setelah prosesi selesai, setiap Tabut dibawa kembali ke rumah pembuatnya sebagai bagian dari tradisi keluarga Tabut.

Kini, seiring Festival Tabut berkembang menjadi agenda budaya yang menarik ribuan pengunjung, Tabut tidak lagi langsung dibawa pulang.

“Dahulu Tabut dibawa pulang lagi ke rumah pembuatnya. Sekarang karena sudah menjadi bagian dari festival dan pengunjungnya sangat ramai, Tabut tetap berada di lokasi,” jelasnya.

Meski demikian, tradisi inti tetap dipertahankan.

Penjal, hiasan berwarna putih yang menjadi bagian penting dari Tabut, tetap diambil dan dikembalikan ke gerga sebagai bagian dari tradisi yang masih dijalankan oleh keluarga Tabut.

Kelompok Tabut Sakral

Hingga kini, tradisi tersebut terus dijaga oleh 17 kelompok Tabut sakral yang masih aktif di Bengkulu.

Jumlah itu terdiri dari sembilan kelompok Tabut Imam dan delapan kelompok Tabut Bangsal.

“Tabut sakral ada 17 kelompok. Sembilan kelompok berasal dari Tabut Imam dan delapan kelompok dari Tabut Bangsal,” tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.