TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketika ditanya bagaimana Indonesia bisa menjadi kekuatan yang lebih diperhitungkan di kawasan, Menteri Koordinator (Menko) Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) justru tidak memulai jawabannya dari kapal perang atau persenjataan.
Dia memulai dari ekonomi.
Menurut AHY, kekuatan pertahanan sebuah negara pada akhirnya bertumpu pada kemampuan ekonominya.
Semakin kuat fondasi ekonomi nasional, semakin besar kemampuan negara membangun teknologi, industri strategis, dan alat utama sistem persenjataan secara mandiri.
Baca juga: Indonesia-Rusia Sepakat Perkuat Kerja Sama Maritim hingga Bentuk Kelompok Kerja
“Ekonomi kita harus tumbuh dengan baik. Karena dengan ekonomi yang tumbuh, kita punya kemampuan yang lebih besar untuk memajukan alutsista dan memajukan sumber daya manusia pertahanan kita,” ujarnya saat berkunjung ke Akademi Angkatan Laut di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (23/6/2026).
AHY menilai Indonesia harus terus memperkuat kemandirian teknologi pertahanan tanpa menutup diri dari kerja sama internasional.
Menurutnya, kerja sama dengan negara-negara yang lebih maju perlu dimanfaatkan untuk mempercepat transfer pengetahuan dan teknologi.
“Kita tidak perlu malu bekerja sama dengan negara lain. Tetapi semangat akhirnya harus sama, yaitu kita memiliki kemampuan teknologi itu sendiri,” katanya.
AHY menyebut sejumlah langkah yang perlu terus diperkuat, mulai dari _transfer of knowledge, transfer of technology, joint research_ hingga _joint production_.
Ia juga menegaskan bahwa pembangunan kekuatan maritim tidak hanya berbicara tentang kapal perang dan personel Angkatan Laut. Di belakangnya terdapat ekosistem besar yang harus dibangun secara simultan, mulai dari pelabuhan, industri galangan kapal, jalur logistik laut, hingga pengembangan ekonomi biru.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang besar menjadikan sektor maritim sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional.
Karena itu, menurut AHY, pembangunan ekonomi dan pembangunan pertahanan tidak boleh dipandang sebagai dua agenda yang terpisah.
“Kita ingin menjaga kedaulatan. Kita ingin mandiri. Dan semua itu dimulai dari kemampuan bangsa membangun kekuatannya sendiri,” tegasnya.