TRIBUNSTYLE.COM - Cuma Rp30 ribu, rasakan sensasi seru mendayung kano di bawah Tol Bali Mandara. Saatnya agendakan ke Mangrove Batu Lumbang!
Di tengah deru mesin dan hiruk-pikuk pusat kota Denpasar, sebuah oase hijau tersembunyi menawarkan pelarian yang kontras. Ekowisata Mangrove Batu Lumbang, yang terletak strategis di Jalan Tanah Kilap, Pemogan—berdampingan langsung dengan Waduk Tukad Badung kini menjelma menjadi salah satu destinasi wisata alam favorit bagi mereka yang ingin sejenak lepas penat dari rutinitas urban.
Daya tarik utama tempat ini terletak pada petualangan menyusuri rimbunnya hutan mangrove menggunakan kano. Pengalaman ini semakin ikonik saat air laut sedang pasang; para pengunjung dapat mengayuh kano melintasi kolong Jalan Tol Bali Mandara, menyajikan perpaduan unik antara kemegahan infrastruktur modern dan keasrian alam yang sulit ditemukan di belahan Bali lainnya.
Surga Murah Meriah Bagi Para Pemancing
Bukan hanya bagi pencinta olahraga air, destinasi ini telah lama menjadi "surga rahasia" bagi para pemancing. Hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp30.000, pengunjung sudah bisa mengeksplorasi jalur mangrove seharian penuh, dari pagi hingga sore hari.
Untuk menjamin kenyamanan dan keselamatan, pihak pengelola telah menyediakan fasilitas yang sangat lengkap. Mulai dari kano, dayung, pelampung (life jacket), hingga sepatu karet sudah termasuk dalam paket wisata.
I Made Megantara Johanes, salah satu anggota pengelola Ekowisata Mangrove Batu Lumbang, membeberkan bahwa kelompok pemancing memang masih menjadi motor utama perputaran wisata di sini, meski trennya kini mulai bergeser ke ranah internasional.
“Kebanyakan pengunjungnya itu dominan para pemancing karena dengan 30 ribu aja mereka sudah dapat sepuasnya dari pagi sampe sore untuk mengakses jalur mangrove ini. Ada pula wisatawan asing yang penasaran dan eksplor sekitaran mangrove, tapi tetap lebih dominan para pemancing,” ujar Johanes.
Dari Kelompok Nelayan hingga Panggung G20
Menilik sejarahnya, kawasan asri ini tidak tumbuh begitu saja. Johanes menceritakan bahwa takdir tempat ini berubah berkat inisiasi komunitas lokal yang konsisten menjaga ruang hidup mereka.
“Awalnya, Ekowisata Mangrove Batu Lumbang adalah bagian dari kelompok nelayan setempat bernama Segara Batu Lumbang yang dibentuk pada tahun 2005. Seiring waktu, kelompok ini dibina dan diberi izin oleh pemerintah untuk mengonservasi lingkungan mangrove, sekaligus mengembangkannya menjadi tempat wisata,” jelasnya.
Komitmen konservasi itu pula yang membawa tempat ini ke panggung dunia. Nilai ekologisnya yang tinggi membuat Ekowisata Mangrove Batu Lumbang terpilih menjadi salah satu lokasi kunjungan resmi para pemimpin negara pada KTT G20 lalu. Hingga kini, kawasan ini aktif digunakan sebagai pusat kegiatan penanaman mangrove bersama, mempertegas statusnya sebagai benteng hijau pesisir Denpasar.
Dengan kombinasi lanskap memukau, edukasi lingkungan, dan harga yang sangat ramah di kantong, Ekowisata Mangrove Batu Lumbang membuktikan bahwa pariwisata Bali tidak selalu soal pantai dan kelab malam. Bagi Anda yang mencari sisi lain Bali yang autentik, tenang, dan terjaga, mendayung di antara akar-akar mangrove Batu Lumbang adalah sebuah agenda yang wajib masuk dalam daftar perjalanan.
( Tribun-Bali.com / I Made Wira Adnyana / Tribunstyle.com / Selviana Safitri )