TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Yulia Romaza membagikan kisah inspiratif perjuangannya mengabdi di daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) dalam acara Intimate Gathering bertema "Sinergi Wanita Hebat - Merayakan Cerita di Balik Karya" yang digelar Sriwijaya Post dan Tribun Sumsel di Kebun Gede Palembang, Kamis (25/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Yulia menceritakan perjalanan kariernya sebagai tenaga pendidik hingga dipercaya menjadi kepala SD Negeri 187 OKU yang berada di Desa Air Itam, Kecamatan Kedaton Peninjauan Raya.
Yulia mengawali kariernya sebagai guru pada tahun 2008 setelah lulus seleksi penerimaan guru di Muaradua, Kabupaten OKU Selatan. Saat itu ia ditempatkan di wilayah yang masih berada di sekitar perkotaan.
"Tahun 2008 saya ikut tes di Muaradua OKU Selatan. Alhamdulillah lulus dan ditempatkan tidak terlalu jauh, masih di wilayah kota," kata Yulia saat di Kebun Gede Palembang.
Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 2011, Yulia kembali ke kampung halamannya di Kecamatan Peninjauan dan mengabdikan diri sebagai guru Pendidikan Agama Islam sesuai dengan latar belakang pendidikannya di IAIN Raden Fatah Palembang.
Pada tahun 2023, ia mendapat amanah sebagai Kepala SD Negeri 187 OKU.
Jabatan tersebut menjadi tantangan besar karena lokasi sekolah berada di daerah yang cukup terpencil dengan akses jalan yang sulit.
"Ketika dipercaya menjadi kepala sekolah, tantangannya luar biasa. Dari desa menuju sekolah harus melewati jalan berlumpur dan penuh rintangan," katanya.
Menurut Yulia, perjalanan dari jalan utama beraspal menuju sekolah membutuhkan waktu sekitar 30 menit.
Saat musim hujan, kondisi jalan menjadi sangat licin dan berlumpur sehingga ia kerap terjatuh dari sepeda motor.
"Masuk lumpur atau motor roboh itu sudah berulang kali saya alami. Tidak ada tempat berteduh sepanjang perjalanan. Kalau hujan, kami sering berteduh di bawah batang-batang karet," ungkapnya.
Ia mengaku sempat terkejut saat pertama kali ditempatkan di wilayah tersebut.
Sebab, sebelumnya ia lebih banyak bertugas di daerah yang aksesnya relatif mudah.
"Saya tidak menyangka akan ditempatkan di lokasi seperti itu. Tapi saya percaya semua sudah menjadi takdir yang harus dijalani dengan ikhlas," ujarnya.
Yulia juga mengenang peristiwa memilukan yang terjadi di wilayah tersebut pada tahun lalu, yakni meninggalnya seorang guru muda yang baru satu bulan bertugas setelah lulus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Korban yang berasal dari Lampung itu ditempatkan di sebuah SMP yang lokasinya tidak jauh dari SD Negeri 187 OKU. Kejadian tersebut sempat membuat dirinya merasa khawatir.
"Saya sempat gentar karena bagaimanapun kondisi di sana masih berupa kawasan hutan. Namun, panggilan jiwa sebagai pendidik membuat kami tetap bertahan," katanya.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan dan risiko, Yulia menegaskan dirinya tetap berkomitmen menjalankan tugas demi masa depan anak-anak bangsa.
"Anak-anak berhak mendapatkan pendidikan dan memiliki mimpi untuk masa depan mereka. Karena itu, kami menjalankan tugas ini dengan sepenuh hati," tegasnya.
Kisah perjuangan Yulia menjadi salah satu inspirasi dalam kegiatan yang menghadirkan perempuan-perempuan hebat dari berbagai bidang untuk berbagi pengalaman, semangat, dan kontribusi bagi masyarakat.
Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp TribunSumsel.com