Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung- Antusiasme masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya di SMK Negeri 4 Bandar Lampung pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2026 mengalami peningkatan yang sangat signifikan.
Baca juga: Membeludak, Animo Masyarakat Lampung Daftarkan Anak ke SMA Negeri Unggulan
Tercatat, total pendaftar tahun ini mencapai 3.115 orang. Angka ini meningkat sekitar 30 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu yang berada di kisaran 2.000-an pendaftar.
Kepala SMKN 4 Bandar Lampung, Dewi Ningsih mengungkapkan bahwa dari total 3.115 pendaftar tersebut, sebanyak 1.785 pendaftar lolos proses verifikasi berkas.
Sementara itu, ada 1.290 pendaftar yang terpaksa ditolak atau gugur dalam proses verifikasi awal.
Sengitnya persaingan makin terasa lantaran daya tampung atau total kuota yang disediakan oleh SMKN 4 Bandar Lampung hanya sebanyak 840 kursi.
Terkait banyaknya pendaftar yang tidak lolos, Dewi menjelaskan bahwa sistem penerimaan SMK menggunakan penilaian yang komprehensif.
"Sistem penerimaan di SMK terdiri dari jalur akademik dan non-akademik dengan bobot 70 persen, serta tes minat bakat dengan bobot 30 persen. Penentuan kelulusan dilakukan murni melalui sistem perankingan nilai akumulasi tersebut. Jadi, pendaftar yang tidak diterima disebabkan karena nilai perankingannya tidak masuk dalam batas kuota," ujar Dewi saat dikonfirmasi, Kamis (25/6/2026).
Adapun jalur pendaftaran yang dibuka di sekolah ini meliputi jalur domisili, afirmasi, hingga jalur disabilitas.
Keketatan persaingan ini pun merata di hampir seluruh program keahlian yang tersedia.
Dari 10 jurusan yang ada di SMKN 4 Bandar Lampung, Jurusan Perhotelan sukses menjadi primadona utama.
Jurusan yang sudah berdiri sejak tahun 2020 (sekitar 5-6 tahun lalu) ini mencatatkan jumlah peminat paling tinggi.
Berdasarkan data monitoring pilihan pertama per 19 Juni 2026:
Perhotelan diserbu 413 pendaftar untuk memperebutkan 105 kursi (Rasio persaingan 3,93 pendaftar per kursi).
Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT/TKJ): Menempati posisi kedua dengan 331 pendaftar (Kuota 105 kursi).
Akuntansi Keuangan Lembaga (AKL) Berada di posisi ketiga dengan 241 pendaftar (Kuota 175 kursi), sekaligus memegang rata-rata Nilai Akhir (NA) tertinggi sebesar 59,03.
Manajemen Perkantoran Membuntuti dengan 235 pendaftar (Kuota 70 kursi).
Sementara itu, Nilai Akhir (NA) tertinggi tertinggi secara keseluruhan diraih oleh pendaftar di Jurusan Kuliner dengan skor fantastis 104,32.
Di sisi lain, Jurusan Busana (Tata Busana) menjadi jurusan dengan pendaftar paling sedikit, yakni hanya 23 pendaftar dari kuota 35 kursi.
Meski demikian, kuota akhir dipastikan akan tetap terpenuhi.
Menariknya, daya pikat SMKN 4 Bandar Lampung tidak hanya dirasakan oleh warga lokal.
Meski mayoritas pendaftar berasal dari Kota Tapis Berseri, banyak pula pendaftar yang berdatangan dari luar kabupaten, bahkan hingga luar Provinsi Lampung seperti Bengkulu dan Riau.
Saat ditanya mengenai faktor utama melonjaknya jumlah pendaftar hingga 30 persen, Dewi membeberkan dua strategi utama.
"Pertama adalah optimalisasi metadata dan media sosial sekolah yang digencarkan sesuai arahan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung. Media sosial sekolah dibuat aktif dan informatif sehingga masyarakat luas bisa mengenal keunggulan sekolah dengan lebih baik," ujarnya.
Faktor kedua yang tidak kalah krusial adalah faktor ekonomi dan kebijakan daerah.
"Mungkin karena program dari Pak Gubernur, yaitu sekolah gratis. Nah, ini mungkin yang menjadi faktor utama meningkatnya jumlah pendaftar secara signifikan tahun ini," jelasnya.
Sebagai salah satu SMK unggulan, SMKN 4 Bandar Lampung menegaskan komitmennya dalam mengasah keahlian praktis siswa.
Sekolah ini menerapkan metode pembelajaran berbasis Teaching Factory (TeFa).
"Pembelajaran teaching factory itu artinya pembelajaran yang berbasis pabrik. Siswa kami di 10 jurusan melakukan real praktik seperti di dunia industri. Fasilitas penunjang pun sudah lengkap, standarnya sama dengan industri, dan setiap tahun peralatan praktiknya selalu kami upgrade," kata Dewi.
Ia juga menambahkan, filosofi utama SMK adalah menyiapkan lulusan yang siap terserap pasar kerja atau mandiri menjadi wirausahawan, bukan memprioritaskan untuk kuliah.
"Kalau di SMK itu lebih banyak bagaimana output kita nanti bekerja atau berwirausaha. Kalaupun ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi, idealnya untuk SMK itu hanya sekitar 15 persen saja," pungkasnya.
( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )