Pasar Legi Solo, Pasar Induk Bersejarah yang Tak Pernah Tidur dan Terus Berbenah
Tim TribunStyle June 25, 2026 03:05 PM

Laporan Reporter TribunStyle.com, Nafis Abdulhakim 

TRIBUNSTYLE.COM - Pasar Legi menjadi salah satu denyut nadi perekonomian Kota Solo yang tidak pernah berhenti beraktivitas, berstatus sebagai pasar induk terbesar di Solo Raya.

Pasar Legi bukan hanya menjadi tempat transaksi jual beli kebutuhan pokok, tetapi juga menyimpan sejarah panjang perkembangan perdagangan di Kota Bengawan sejak ratusan tahun lalu.

Berlokasi di Jalan Letjen S. Parman No. 19, Setabelan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Pasar Legi memiliki posisi yang sangat strategis. Letaknya berdekatan dengan Terminal Tirtonadi dan Stasiun Solo Balapan sehingga mudah dijangkau oleh pedagang maupun pembeli dari berbagai daerah di Solo Raya dan sekitarnya.

Baca juga: Pasar Elpabes Solo: Surga Klitikan yang Menyimpan Beragam Barang Unik dan Murah

Salah satu keunggulan utama Pasar Legi adalah jam operasionalnya yang berlangsung selama 24 jam setiap hari. Aktivitas perdagangan bahkan sudah ramai sejak dini hari ketika para pedagang grosir mulai mendatangkan berbagai komoditas kebutuhan pokok, mulai dari sayur-mayur, buah-buahan, daging, hingga aneka bumbu dapur.

Dengan luas lahan sekitar 21.978 meter persegi dan luas bangunan mencapai 31.072 meter persegi, Pasar Legi mampu menampung lebih dari 3.000 pedagang. Tak heran jika pasar ini menjadi pusat distribusi berbagai kebutuhan pokok yang memasok banyak pasar tradisional lain di wilayah Solo Raya.

PASAR LEGI SOLO - Suasana aktivitas jual beli di Pasar Legi Surakarta yang beroperasi 24 jam dan menjadi pusat perdagangan terbesar di Solo Raya. (TribunStyle.com/Nafis Abdulhakim)

Di balik megahnya bangunan modern yang berdiri saat ini, Pasar Legi memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Pasar ini diyakini telah berdiri sejak abad ke-18 pada masa pemerintahan Mangkunegara I atau yang dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa.

Pada masa awal berdirinya, pasar hanya berupa los-los sederhana berbahan kayu dan bambu yang digunakan masyarakat untuk melakukan aktivitas perdagangan.

Baca juga: Pasar Ikan Balekambang Banjarsari Solo, Sentra Seafood Segar yang Ramai Saat Malam Hari

Nama “Legi” sendiri berasal dari salah satu hari pasaran dalam kalender Jawa. Pada masa lalu, para petani dan pedagang dari berbagai wilayah datang ke pasar pada hari Legi karena dianggap sebagai waktu paling ramai untuk melakukan transaksi jual beli.

Seiring perkembangan zaman, Pasar Legi terus mengalami perubahan. Pada tahun 1936, ketika pemerintahan Mangkunegara VII berlangsung, pasar mulai dimodernisasi dengan pembangunan los permanen berbahan beton.

Setelah Indonesia merdeka, pasar kembali diperluas pada tahun 1992 untuk menyesuaikan meningkatnya jumlah pedagang dan kebutuhan ruang usaha.

Namun perjalanan Pasar Legi tidak selalu berjalan mulus. Pada Oktober 2018, kebakaran besar melanda kawasan pasar dan menghanguskan sebagian besar bangunan beserta ribuan lapak pedagang. Peristiwa tersebut menjadi salah satu musibah terbesar dalam sejarah Pasar Legi.

Meski demikian, kebakaran itu justru menjadi titik awal kebangkitan baru. Pemerintah melalui Kementerian PUPR melakukan pembangunan ulang secara menyeluruh hingga akhirnya Pasar Legi diresmikan kembali pada awal tahun 2022 dengan konsep pasar tradisional modern.

Wajah baru Pasar Legi kini tampil lebih tertata dan nyaman. Pedagang dikelompokkan berdasarkan jenis komoditas melalui sistem zonasi yang memudahkan pengunjung mencari kebutuhan. Area sayuran, buah-buahan, daging, sembako, hingga kuliner ditempatkan pada zona yang berbeda sehingga lebih rapi dan efisien.

PASAR LEGI SOLO - Suasana aktivitas jual beli di Pasar Legi Surakarta yang beroperasi 24 jam dan menjadi pusat perdagangan terbesar di Solo Raya.
PASAR LEGI SOLO - Suasana aktivitas jual beli di Pasar Legi Surakarta yang beroperasi 24 jam dan menjadi pusat perdagangan terbesar di Solo Raya. (TribunStyle.com/Nafis Abdulhakim)

Bangunan pasar juga dirancang dengan atap tinggi dan sirkulasi udara yang baik sehingga suasana di dalam pasar terasa lebih terang, sejuk, dan tidak pengap. Selain itu, sistem keamanan turut ditingkatkan melalui pemasangan sprinkler otomatis sebagai langkah antisipasi kebakaran.

Tak hanya itu, Pasar Legi juga mulai mengikuti perkembangan teknologi. Sejumlah pedagang kini telah melayani pembayaran non-tunai menggunakan QRIS, sehingga transaksi menjadi lebih praktis bagi pembeli.

Informasi Pasar Legi Surakarta

  • Lokasi: Jl. Letjen S. Parman No. 19, Setabelan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah.
  • Jam Operasional:
    24 jam setiap hari.
  • Komoditas Utama: Sayur-mayur, buah-buahan, sembako, bumbu dapur, daging, ikan, kebutuhan rumah tangga, hingga kuliner tradisional.
  • Fasilitas: Area parkir luas, Toilet, Mushola, Jalur ramah disabilitas, Food court, Sistem pembayaran QRIS, Sprinkler pemadam kebakaran, Zonasi komoditas yang tertata.

Didukung fasilitas parkir yang luas, toilet, mushola, serta akses ramah disabilitas, Pasar Legi terus mempertahankan perannya sebagai pusat perdagangan utama sekaligus simbol ketahanan ekonomi masyarakat Solo.

Dari pasar tradisional sederhana pada masa Mangkunegaran hingga menjadi pasar modern yang beroperasi tanpa henti, Pasar Legi tetap menjadi bagian penting dari kehidupan Kota Surakarta hingga saat ini.

(TribunStyle.com /Nafis Abdulhakim/Farah Aulya)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.