Bukan Sekadar Kampung Biasa, Kajoetangan Malang Simpan Jejak Kota Lama dan Bangunan Bersejarah
Tim TribunStyle June 25, 2026 03:05 PM

TRIBUNSTYLE.COM - Kampoeng Heritage Kajoetangan di Kota Malang bukan sekadar tempat wisata, tetapi kawasan bersejarah yang menyimpan jejak panjang perkembangan kota dari masa ke masa.

Berada di Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, kawasan ini dikenal sebagai salah satu kampung tua di pusat Kota Malang yang kini berkembang menjadi destinasi wisata berbasis sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat.

Berbeda dari tempat wisata buatan, Kampoeng Heritage Kajoetangan menawarkan pengalaman menyusuri lorong kampung lama yang masih hidup. Di sini, wisatawan tidak hanya melihat bangunan tua, tetapi juga merasakan langsung suasana kampung bersejarah yang tetap dihuni warga dan terus berdenyut dengan aktivitas sehari-hari.

Jejak Sejarah di Kawasan Kayutangan

Kawasan Kajoetangan tumbuh di sekitar Jalan Kayutangan, salah satu koridor penting di Kota Malang sejak masa kolonial Belanda. Pada masa Hindia Belanda, kawasan ini dikenal dengan nama Kajoetanganstraat dan menjadi bagian dari perkembangan kota modern Malang.

Nama Kayutangan sendiri memiliki beberapa versi asal-usul. Salah satu cerita yang cukup dikenal menyebutkan adanya penanda jalan berbahan kayu berbentuk tangan di sekitar persimpangan jalan pada masa lalu. Penanda itulah yang kemudian diyakini menjadi asal nama Kayutangan.

Terlepas dari asal-usul namanya, kawasan ini telah lama menjadi bagian penting dari sejarah Kota Malang. Jejak tersebut masih terlihat dari deretan rumah tua, gang-gang sempit, serta bangunan berarsitektur lawas yang tetap bertahan di tengah perkembangan kota modern.

Berubah Menjadi Kampung Wisata Heritage

Kampoeng Heritage Kajoetangan resmi dikembangkan sebagai kampung wisata tematik pada 2018. Sejak saat itu, kawasan ini tidak hanya dikenal sebagai permukiman tua, tetapi juga menjadi destinasi wisata yang mengangkat kekuatan sejarah, arsitektur, dan budaya lokal.

Daya tarik utama kampung ini terletak pada suasananya yang autentik. Wisatawan bisa berjalan kaki menyusuri lorong-lorong kampung, menemukan mural bertema tempo dulu, mencicipi kuliner tradisional, hingga menikmati berbagai sudut yang masih mempertahankan nuansa Kota Malang masa lampau.

Transformasi ini juga memberi ruang bagi warga untuk terlibat langsung dalam pengembangan wisata. Banyak rumah yang dibuka sebagai spot heritage, sementara sebagian warga mengembangkan usaha kuliner, kedai kopi, hingga jasa pemandu wisata lokal.

Bangunan Tua yang Masih Terjaga

Salah satu kekuatan terbesar Kampoeng Heritage Kajoetangan adalah keberadaan bangunan-bangunan tua yang masih dipertahankan. Di kawasan ini terdapat puluhan rumah lawas yang menjadi saksi perubahan arsitektur dari masa kolonial hingga era setelah kemerdekaan.

Beberapa rumah di kawasan ini diperkirakan telah berdiri sejak akhir abad ke-19. Ciri khasnya terlihat dari jendela besar, ventilasi kayu, dinding tebal, dan bentuk bangunan sederhana namun kokoh. Arsitektur semacam ini menjadi penanda kuat gaya rumah kolonial yang dulu berkembang di Kota Malang.

Selain rumah kolonial, ada pula bangunan bergaya jengki, gaya arsitektur yang populer di Indonesia pada era 1950-an hingga 1960-an. Rumah jengki mudah dikenali dari bentuk atap dan fasadnya yang cenderung asimetris, unik, dan berbeda dari rumah-rumah konvensional.

Keberagaman gaya bangunan ini membuat Kajoetangan terasa seperti ruang terbuka yang menyimpan lapisan sejarah arsitektur dalam satu kawasan.

Rumah-Rumah Ikonik dengan Cerita Berbeda

Tidak semua rumah di Kajoetangan hanya berfungsi sebagai hunian. Sejumlah bangunan memiliki cerita unik karena pernah menjadi tempat usaha, toko, hingga lokasi produksi pada masa lalu.

Ada rumah yang dulu difungsikan sebagai toko mesin jahit dan tempat produksi es, mencerminkan kehidupan ekonomi warga di era awal perkembangan kota. Ada pula bangunan yang dikenal sebagai Rumah Cerobong, karena memiliki sistem pembuangan asap di area dapur yang dulu dipakai untuk kegiatan usaha pengolahan makanan.

Beberapa rumah lain tetap difungsikan sebagai tempat tinggal sekaligus ruang usaha. Hal ini menunjukkan bahwa Kampoeng Heritage Kajoetangan bukan kawasan mati yang hanya dipajang sebagai objek wisata, melainkan lingkungan yang masih hidup dan berkembang bersama warganya.

Wisata Sejarah yang Tetap Hidup

Keunikan Kampoeng Heritage Kajoetangan justru terletak pada perpaduan antara wisata dan kehidupan sosial masyarakat. Saat berkunjung, wisatawan tidak hanya melihat bangunan tua, tetapi juga menyaksikan aktivitas warga, berbincang dengan penduduk setempat, hingga menikmati kuliner rumahan yang dijual di sekitar kampung.

Pengalaman inilah yang membuat Kajoetangan berbeda dari museum atau kawasan heritage biasa. Tempat ini menghadirkan suasana kota lama yang nyata, lengkap dengan dinamika kampung yang masih berjalan seperti biasa.

Selain menjadi ruang wisata, kawasan ini juga memberi dampak ekonomi bagi warga sekitar. Kehadiran pengunjung membuat usaha kecil, kuliner, dan jasa wisata lokal ikut berkembang, sehingga pelestarian sejarah berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.

Daya Tarik Kampoeng Heritage Kajoetangan

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Malang, Kampoeng Heritage Kajoetangan layak menjadi salah satu destinasi yang disinggahi. Kawasan ini menawarkan lebih dari sekadar spot foto atau bangunan lawas. Di dalamnya tersimpan cerita tentang perkembangan kota, jejak arsitektur lintas zaman, hingga kehidupan kampung yang tetap bertahan di tengah modernisasi.

Kampoeng Heritage Kajoetangan membuktikan bahwa warisan sejarah tidak harus berdiri terpisah dari kehidupan masa kini. Di tempat ini, masa lalu tetap hidup, dirawat, dan dikenalkan kembali kepada generasi sekarang melalui wisata yang sederhana namun penuh makna.

 

 

(Tribun Jatim / Ayesha Naila Tsabita / TribunStyle.com / Siti Efrilia)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.