Perjalanan hidup Indera Aria Wee Jeeny berubah drastis dari seorang CEO yang berhasil meraup penghasilan Rp26 miliar kini menjadi pengantar makanan. Begini kisahnya.
Indera Aria Wee Jeeny adalah sosok di balik aplikasi pemesanan dan pengiriman makanan, ODA Malaysia. Pria 40 tahun ini sukses mendirikan platform tersebut pada Oktober 2019.
Dalam waktu cepat, Indera berhasil mengembangkannya hingga ODA Malaysia jadi salah satu 'pemain' terbesar di Kelantan, Terengganu, dan Kedah.
Pada puncaknya, ODA Malaysia berhasil mengelola sekitar 3.000 pengantar aktif di wilayah Pantai Timur. Keuntungan yang pernah diraihnya bahkan mencapai RM 6 juta (sekitar Rp26 miliar), seperti dikutip dari (25/6).
Perusahaan tersebut juga beroperasi sebagai mitra strategis di bawah (MDEC). Namun, kisahnya berubah drastis sejak Januari 2021.
Indera mengklaim bisnisnya mengalami kerugian besar setelah alamat (IP) perusahaan diduga dijual kepada pesaing oleh seorang individu untuk keuntungan pribadi.
Insiden tersebut dilaporkan memicu penurunan tajam pendapatan. Keuntungan perusahaan turun dari jutaan ringgit menjadi antara RM40.000 (Rp174,5 juta) dan RM80.000 (Rp349 juta), sebelum perusahaan akhirnya bangkrut.
Saat bisnisnya berjuang untuk bertahan, Indera mengatakan ia mulai menjual aset pribadinya guna memastikan karyawan terus menerima gaji mereka.
Namun, ayah dua anak itu mengatakan kehidupan menjadi sangat sulit setelah bisnisnya gagal. "Tidak mudah untuk bangkit kembali karena ketika pertama kali jatuh, saya bahkan harus mencari uang receh untuk membeli makanan. Saya juga harus berjalan jauh karena tidak punya transportasi," katanya kepada .
Di luar kesulitan keuangan, ia juga memperhatikan perubahan dalam cara orang-orang di sekitarnya memperlakukannya.
"Saat itu, saya mulai memperhatikan perubahan pada orang-orang di sekitar saya, terutama mereka yang dulunya dekat tetapi mulai menjauh, mungkin karena mereka takut saya akan meminta uang," kata Indera.
Ia menambahkan, "Itu menyakitkan karena ketika saya sukses, saya telah membantu mereka." Indera pun mengatakan pengalaman ini 'memaksanya' menerima kenyataan baru dan merenungkan tantangan yang dihadapinya.
Saat Indera hampir menyerah, ia terinspirasi dari obrolannya dengan salah satu mitra pengantar. Pengantar itu hanya mendapatkan RM 20 (Rp87 ribu) pada hari itu, tapi uangnya cukup untuk beli makanan anaknya.
"Kata-kata itu memberi saya motivasi dan harapan untuk bangkit kembali," kata Indera.
Akhirnya kini ia memilih jadi pengantar makanan secara mandiri, sambil menjalankan tugas-tugas kecil dari pelanggan, seperti membeli barang atas nama mereka. Tarif yang ia kenakan berkisar antara RM 5 (Rp21.800) dan RM 10 (Rp43.600).
Indera mengatakan pengalamannya telah membuatnya lebih bertekad untuk membantu orang lain yang menghadapi kesulitan.
Saat menyelesaikan pengiriman, ia sering berhenti untuk membantu orang-orang yang mengalami masalah kendaraan seperti ban kempes atau aki mati.
Menurutnya, ia pernah bertemu dengan sebuah keluarga yang belum makan selama dua minggu.
"Saya pernah berada di titik terendah dan kehilangan harapan, jadi saya tidak ingin orang lain merasakan hal yang sama," katanya.
Terlepas dari semua yang telah ia lalui, Indera memandang runtuhnya bisnisnya sebagai pelajaran daripada akhir dari perjalanan kewirausahaannya.
"Saya juga bertekad untuk bangkit kembali sebagai pengusaha sukses dan menciptakan peluang kerja, sehingga saya dapat membantu lebih banyak orang di luar sana," ujar Indera.
Sebagai mantan CEO yang pernah mengawasi ribuan mitra pengantar makanan, Indera kini telah 'kembali ke jalan'. Meski begitu, ia mengaku belum menyerah untuk membangun bisnis lain dari nol.





