POS-KUPANG.COM, KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) menemukan sejumlah pelanggaran serius dalam proses Seleksi Mandiri Masuk Universitas Nusa Cendana (SMMU) Tahun 2026, mulai dari manipulasi nilai rapor hingga indikasi penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) pada jawaban peserta.
Kepala Kelompok Kerja Data Akademik Biro Akademik dan Kemahasiswaan (BAK) Undana, Hendro Soepranoto, S.Kom., M.Si., mengungkapkan tim seleksi menemukan sejumlah peserta yang mengisi data nilai tidak sesuai rapor asli.
“Ditemukan sejumlah peserta yang mengisi data nilai tidak sesuai rapor asli, bahkan ada indikasi sengaja menaikkan nilai. Tim langsung mengambil tindakan tegas dengan melakukan koreksi berdasarkan dokumen resmi yang valid,” ungkap Hendro, Selasa (23/6).
Selain manipulasi nilai, komponen esai deskripsi diri juga menjadi perhatian serius tim penilai. Undana mendeteksi sekitar 70 persen jawaban peserta memiliki kemiripan tinggi yang mengindikasikan penggunaan AI dalam penyusunan jawaban.
Meski kampus tidak melarang penggunaan teknologi AI, sistem penilaian memberikan bobot lebih tinggi pada jawaban yang jujur, reflektif, dan berbasis pengalaman nyata peserta.
Tim penguji juga mencatat masih rendahnya kemampuan literasi kritis calon mahasiswa. Banyak peserta dinilai masih kesulitan meramu ide dan menyusun argumentasi yang sistematis secara tertulis.
Ketegasan Undana dalam memverifikasi data dan mendeteksi intervensi AI dinilai menjadi langkah penting dalam menjaga kualitas pendidikan tinggi di NTT.
Jalur mandiri selama ini kerap dipandang sebagai jalur formalitas yang hanya mengejar pemenuhan kuota. Namun melalui proses verifikasi berlapis, Undana menegaskan bahwa integritas moral dan kejujuran akademik menjadi prioritas utama.
Dengan penyaringan ketat tersebut, Undana memastikan 1.738 kursi yang tersedia benar-benar diberikan kepada calon mahasiswa yang kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan transformasi digital tanpa mengabaikan etika akademik.
Wakil Rektor I Bidang Akademik Undana, Dr. drh. Annytha I. R. Detha, M.Si, membenarkan temuan tersebut. Temuan diperoleh saat proses verifikasi data yang dilakukan tim selama kurang lebih dua minggu.
Terkait penggunaan Artificial Intelligence (AI), Annytha mengatakan, hal tersebut menjadi perhatian serius tim penilai setelah ditemukan banyak jawaban esai deskripsi diri peserta yang memiliki kemiripan tinggi.
“Sekitar 70 persen jawaban peserta pada komponen deskripsi diri menunjukkan pola yang seragam dan terindikasi menggunakan AI dalam penyusunannya,” jelasnya.
Dikatakan, para peserta diminta menjawab sejumlah pertanyaan mengenai kondisi pendidikan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT), tantangan yang dihadapi anak-anak NTT untuk melanjutkan studi, alasan memilih program studi tertentu, hingga proyeksi masa depan setelah lulus.
“Deskripsi diri ini sifatnya sangat personal. Kami ingin melihat bagaimana pandangan mereka terhadap pendidikan tinggi di NTT, alasan memilih program studi, sampai gambaran masa depan mereka,” ujarnya.
Annytha menjelaskan jawaban yang dibuat menggunakan AI umumnya bersifat umum dan kurang mencerminkan pengalaman pribadi peserta. Hal tersebut membuat tim penilai relatif mudah mengidentifikasi jawaban yang diduga tidak murni berasal dari pemikiran peserta sendiri.
“Nah, ketika dimasukkan ke AI, biasanya yang keluar adalah gambaran yang umum. Dari situ kami bisa identifikasi bahwa uraian yang diberikan sifatnya generik,” jelasnya.
Meski demikian, Undana tidak memandang AI sebagai ancaman yang harus ditolak sepenuhnya. Menurut Annytha, perkembangan AI merupakan realitas yang tidak bisa dihindari dan perguruan tinggi harus beradaptasi.
Ia menyebut sejumlah universitas besar di Indonesia seperti UI, IPB, dan UGM bahkan telah memiliki panduan khusus terkait penggunaan AI dalam pembelajaran. Undana pun tengah menyiapkan pedoman serupa.
“Kita tidak bisa lagi menganggap AI sebagai musuh. Kita harus berdamai dengan teknologi ini dan mengatur penggunaannya secara bijak,” katanya.
Namun khusus untuk esai deskripsi diri, Undana menilai penggunaan AI kurang tepat karena bagian tersebut dirancang untuk mengukur orisinalitas cara berpikir peserta. Setiap peserta diharapkan menunjukkan pandangan, pengalaman, dan motivasi yang berbeda.
“Setiap orang punya pandangan berbeda. Perbedaan pandangan itulah yang menjadi poin penting dalam penilaian kami,” tambahnya.
Ia menegaskan peserta yang terdeteksi menggunakan AI tidak otomatis digugurkan dari seleksi. Akan tetapi, penggunaan AI dapat berdampak pada penurunan skor karena komponen deskripsi diri memiliki bobot 10 persen dari total penilaian portofolio.
“Kalau terdeteksi AI, berarti dia kehilangan poin dari bobot deskripsi diri. Tidak langsung gugur, tetapi tentu memengaruhi nilai akhir,” tegasnya.
Dengan temuan tersebut, Undana menegaskan pentingnya integritas peserta dalam mengikuti seluruh proses seleksi mandiri.
Manipulasi Nilai Rapor
Menurut Dr. drh. Annytha I. R. Detha, dalam proses seleksi mandiri, peserta diwajibkan mengunggah berbagai dokumen portofolio, mulai dari akreditasi sekolah, nilai rapor semester 1 hingga semester 5, nilai ujian sekolah, hingga sertifikat prestasi bila ada.
Menurut Annytha Detha, seluruh data yang diinput peserta diperiksa secara detail untuk memastikan kesesuaian antara dokumen asli dan data yang ditulis pada sistem.
“Saya punya tim verifikasi yang bekerja sekitar dua minggu untuk melihat kesesuaian data yang di-upload dengan data yang ditulis peserta,” kata Annytha Detha, kepada Pos Kupang (24/6) di ruang kerjanya.
Annytha Detha mencontohkan, jika peserta mengunggah nilai asli 80 tetapi menuliskan 90 di sistem pendaftaran, maka ketidaksesuaian itu akan langsung terdeteksi. Namun, Undana tidak serta-merta menggugurkan peserta.
Sebaliknya, tim akan menyesuaikan penilaian berdasarkan data yang sebenarnya. “Kalau dia upload nilai 80 lalu tulis 90, itu pasti terdeteksi. Kami menyesuaikan dengan data yang sebenarnya,” jelas Annytha Detha.
Meski tidak langsung didiskualifikasi, Annytha Detha menilai tindakan tersebut sulit dianggap sebagai kesalahan input biasa. Ada indikasi kuat unsur kesengajaan untuk meningkatkan peluang lolos seleksi.
“Kami berpikir tidak mungkin itu sekadar salah input. Pasti ada aspek kesengajaan,” tegas Annytha Detha.
Annytha Detha menambahkan, kejujuran menjadi aspek penting dalam seleksi mandiri karena seluruh komponen penilaian saling memengaruhi hasil akhir. Manipulasi data, sekecil apa pun, dapat merugikan peserta sendiri karena tim seleksi tetap menggunakan dokumen valid sebagai dasar penilaian.
Undana, lanjut Annytha Detha, berkomitmen menjaga integritas seleksi agar penerimaan mahasiswa baru berjalan adil dan transparan.
Gunakan E-rapor
Menanggapi adanya dugaan manipulasi nilai rapot tersebut pihak Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Kupang memastikan tidak melakukan perubahan nilai bagi siswa, terutama dalam pengisian nilai rapor.
Wakil Kepala SMKN 2 Kupang Regina Thine menjelaskan, biasanya di sekolah itu setiap semester saat pengisian buku rapor dalam sistem berdasarkan waktu yang ditentukan. Setelah itu, rapor itu dikunci di dalam sistem.
"Di SMKN 2 ini kita sudah gunakan E-rapor. Jadi ini terintegrasi langsung dengan Data Pokok Pendidikan di Kemendikdasmen. Saat nilai semester atau rapor dicetak, nanti dengan sendirinya dia terkunci," kata Regina, Selasa (23/6).
Ia menjelaskan, penguncian otomatis itu membuat akses pada bagian itu sangat tidak dimungkinkan. Perubahan nilai, menurut dia, sangat kecil dilakukan. Ia tidak mengetahui kalau adanya tindakan memanipulasi nilai.
"Jadi itu tidak bisa merubah nilai lagi, apalagi nilai masa lalu. Apalagi kalau sudah masuk ke Kemendikdasmen. Jadi tidak bisa berubah," katanya.
Regina mengatakan, konfirmasi perubahan nilai rapor oleh Perguruan Tinggi atau pihak terkait, sangat bisa dilakukan. Namun, ia menyebut membuka sistem E-rapor harus menunggu jadwal pengisian pada setiap akhir semester.
Alternatif lainnya, para pihak bisa berkoordinasi dengan Kemendikdasmen agar sistem ini bisa dibuka sebagai bagian dari konfrontasi. Kalau terdapat perbedaan nilai bisa saja itu dilakukan oleh oknum atau siswa yang bersangkutan.
"Entah dengan caranya seperti apa, sistem digital. Sekarang peluang bisa merubah. Sistem digital Pemerintah sudah melihat peluang itu sehingga melakukan itu, tidak memberikan kesempatan sebebasnya ke kita untuk akses E-rapor," ujarnya.
Biasanya, kata dia, dalam pendaftaran masuk Perguruan Tinggi, terdapat kuota yang diberikan ke masing-masing sekolah. Misalnya, SMKN 2 Kupang mendapat kuota 90. Namun jumlah ini tidak semua siswa mengikuti jalur tersebut.
Sebab, di SMKN 2 Kupang sendiri kebanyakan siswa jarang melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Mereka lebih memilih berwirausaha. Kalaupun berkuliah, mereka baru mendaftar pada tahun berikutnya.
"Pendaftaran jalur mandiri ini melalui operator dapodik, sehingga mereka sudah ada penyesuaian. Tidak ada peluang merubah itu. Jadi misalnya ada penemuan, pasti ada koordinasi dengan Kemendikdasmen sehingga bisa tahu nilai sebenarnya," ujarnya.
Regina menjelaskan, E-rapor memang sangat sulit untuk dilakukan manipulasi. Nilai yang diperoleh selama tiga tahun di bangku sekolah menengah atas merupakan kemampuan dari siswa. Sebetulnya, persiapan memasuki bangku kuliah telah dilakukan sejak dini.
Menurut dia, tindakan semacam ini sengaja dilakukan hanya untuk mengejar beasiswa yang disiapkan kampus. Pemalsuan nilai dilakukan agar registrasi bisa lebih murah.
"Saran saya, ikut aturan yang ada. Kalau bisa mandiri, lakukan itu dengan jujur, dan berwibawa. Kesalahan yang dibuat ini terekam jejak dan menyusahkan diri sendiri. Kalau tidak dengan mandiri, bisa tes. Dengan tes kan kita bisa belajar lebih baik," ujarnya.
Dia menyayangkan adanya manipulasi nilai rapor sebagaimana temuan tim seleksi calon mahasiswa baru Universitas Nusa Cendana (Undana). Ia menyebut itu akan sangat merugikan siswa atau lulusan itu sendiri. (fan)
1.738 Calon Lolos Jalur Mandiri
Universitas Nusa Cendana (Undana) resmi mengumumkan hasil Seleksi Mandiri Masuk Universitas Nusa Cendana (SMMU) Tahun 2026. Dari total kuota 6.982 pada periode Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026, sebanyak 1.738 calon mahasiswa dinyatakan lolos seleksi dan siap memulai perjalanan akademik di kampus terbesar di NTT tersebut.
Pengumuman kelulusan disampaikan langsung Rektor Undana, Prof Dr Ir Jefri Samuel Bale, ST, MEng. Ia menegaskan seluruh proses seleksi mandiri tahun ini dilaksanakan dengan menjunjung tinggi prinsip objektivitas, transparansi, akuntabilitas, dan keadilan.
Penetapan kelulusan dilakukan melalui penilaian komprehensif yang mengukur aspek akademik dan non-akademik. Kepala Kelompok Kerja Data Akademik Biro Akademik dan Kemahasiswaan (BAK) Undana, Hendro Soepranoto, S.Kom., M.Si., menjelaskan terdapat enam komponen utama dalam penilaian.
Komponen tersebut meliputi akreditasi sekolah, nilai rapor semester 1 hingga 5, nilai mata pelajaran pendukung program studi, rata-rata nilai ujian akhir sekolah, esai deskripsi diri, serta prestasi tambahan. Bagi peserta yang dinyatakan lulus, tahapan berikutnya adalah lapor diri secara daring pada 22 hingga 26 Juni 2026.
Kepala Subbagian Akademik dan Kemahasiswaan Undana, Maxi Charles Talaen, ST, MSi, mengatakan seluruh calon mahasiswa wajib mengisi biodata pada aplikasi UKT Undana menggunakan nomor pendaftaran SMMU 2026.
Dalam proses tersebut, peserta diwajibkan mengunggah berbagai dokumen pendukung penentuan kelompok Uang Kuliah Tunggal (UKT), mulai dari identitas orang tua, dokumen penghasilan, bukti tagihan utilitas, foto rumah, hingga dokumen pribadi mahasiswa.
Maxi mengingatkan seluruh data diisi secara jujur sesuai kondisi ekonomi keluarga. “Apabila di kemudian hari ditemukan pemalsuan dokumen atau ketidaksesuaian data, Undana secara sepihak berhak menetapkan mahasiswa tersebut pada kelompok UKT tertinggi,” tegasnya.
Ia juga menegaskan peserta yang tidak melakukan lapor diri hingga batas akhir 26 Juni 2026 akan otomatis dinyatakan gugur atau mengundurkan diri. (uan)
Beri Sanksi Tegas
Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT, Winston Rondo mengatakan, jika temuan tim Undana itu benar adanya, ia menyarankan agar adanya pemberian sanksi bagi para oknum pelaku yang melanggar aturan itu.
"Berikan sanksi, hukuman yang sepantasnya bagi siswa atau kemungkinan bagi sekolah. Yang paling mahal di dunia ini adalah kejujuran," kata Winston Rondo, Rabu (24/6).
Winston Rondo, Politisi Demokrat itu mengatakan, DPRD NTT akan meminta dinas terkait maupun Undana agar menindaklanjuti.
Winston Rondo menegaskan perlu ada kejuruan intelektual dalam berbagai aktivitas pendidikan.
Menurut Winston Rondo, tindakan semacam ini sangat buruk dan tidak dibenarkan. DPRD NTT, kata dia, menyayangkan persoalan itu.
Winston Rondo berharap masalah ini tidak dibiarkan tetapi ada langkah lanjutan untuk penyelesaian.
"Sehingga kami bisa dapat inputnya. Ini kasus baru, kami baru dengar," kata Winston Rondo.
Winston Rondo mengatakan, masalah ini akan menjadi perhatian DPRD NTT ketika rapat bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT.
Winston Rondo membandingkan tes kompetensi akademik di NTT yang juga menunjukkan nilai buruk.
Winston Rondo menegaskan, informasi ini sangat penting dan akan ditindaklanjuti bersama Dinas teknis.
"Kalau begini cara urus sekolah kita, kita pakai jurus tipu menembuskan lulusan kita, itu akan sangat tidak sehat dan merusak sistem kita," ujar Winston Rondo.
Winston Rondo juga menanggapi penggunaan AI dalam temuan tim Undana dalam seleksi calon mahasiswa baru di Universitas tersebut. Menurut Winston Rondo, mesin semacam ini memang tidak bisa dihindari, sehingga, setiap kampus mesti memiliki mekanisme.
"Kalau dia temukan itu kasih balasan setimpal, sanksi setimpal," kata Winston Rondo.
Dikatakan Winston Rondo, penggunaan AI memang sangat tergantung dengan penggunanya. Pada level kampus, panduan penggunaan AI memang sudah diatur.
Kemungkinan, pengaturan dari tingkat sekolah menengah atas belum dilakukan sehingga tidak ada pengontrolan. (fan)
NEWS ANALISIS
Akademisi STIKOM Uyelindo Kupang, Dr. Jimi Asmara, S. Kom., M. Kom : Hanya Alat Bantu
Artificial Intelligence atau AI merupakan alat bantu. Saya minta tidak mempercayai 100 persen setiap hasil yang disampaikan mesin itu. Penggunaan AI itu, pada prinsipnya merupakan tools yang digunakan membantu aktivitas keseharian. Terlebih dalam pendidikan.
Memang saat ini sudah eranya AI, di mana dengan adanya banyak hal yang di permudah baik itu secara teori maupun praktiknya. Sekalipun sebuah tools, AI membutuhkan kontrol dari manusia atau user. Tugas dari dosen atau guru memang dalam era sekarang lebih mudah menggunakan AI. Namun agar ada batasan.
Kalau dalam penulisan kita lihat ada parafrase itu perlu kita pertegas lagi. Pada prinsipnya kita tidak selalu percaya 100 persen dengan AI. Prinsipnya mereka itu tools yang membantu aktivitas.
Paling mudah menemukan sebuah tulisan AI terletak pada gaya parafrase, penyusunan kalimat. Terdapat ciri khas AI. Bagi orang awam, memang cukup sulit membedakan tulisan AI. Sebaliknya, bagi orang yang sering menulis atau membaca akan mudah melihat tulisan AI dan original.
Kontrol itu tetap ada pada manusia. Kita tidak harus 100 persen percaya dengan mesin tersebut. AI itu adalah pekerjaan sebuah mesin
Karena sebuah tools, saya berharap penggunaan AI dilakukan secara bijak dan positif sesuai porsi. Memang ada penggunaan AI di luar tujuan utamanya. Namun itu hanya dilakukan segelintir orang. Kalau kita di dunia pendidikan, AI ini sangat membantu aktivitas, proses pembelajaran dipermudah.
Secara pengalaman, penggunaan AI menerapkan porsi 70 pemikiran manusia berbanding 30 pemanfaatan AI. Sebab, AI sendiri pada dasarnya bekerja berdasarkan perintah dari manusia.
Dalam pandangannya, penggunaan AI pada masa sekarang masih dalam batas wajar. Sisi lain, kehadiran AI cukup melekat dengan Generasi Z. Pada generasi ini, penggunaan AI pun kian masif. (fan)