Tribunlampung.co.id Bandar Lampung – Kenaikan harga daging sapi semakin membuat pelaku usaha kuliner bimbang antara menaikkan harga atau tetap bertahan. Terutama pedagang bakso yang menggunakan daging sapi sebagai bahan baku usahanya.
Baca juga: Pedagang Daging Sapi di Lampung Sesuaikan Harga demi Tekan Kerugian
Heri Santoso, pemilik Kedai Mie Ayam dan Bakso Laziza yang berlokasi di Purnawirawan IX, Gedong Meneng, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung, Lampung 35147, memilih untuk tidak menaikkan harga jual produknya meski biaya produksi terus meningkat.
Heri mengungkapkan bahwa harga daging sapi di pasaran saat ini mengalami kenaikan yang signifikan.
Untuk daging berkualitas yang biasa digunakan membuat bakso, harga sudah mencapai Rp135.000 per kilogram, naik dari harga sebelumnya.
"Kalau harga daging naik tentu sangat berpengaruh terhadap biaya produksi. Tapi kami belum berani menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat juga sedang turun," ujar Heri, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini membuat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus bertahan dengan cara mengurangi margin keuntungan.
Langkah tersebut dilakukan agar pelanggan tetap bisa menikmati makanan dengan harga yang terjangkau. "Kami lebih memilih mengurangi keuntungan daripada menaikkan harga. Kalau harga dinaikkan, khawatir pelanggan semakin berkurang," katanya.
Meski harga bahan baku terus merangkak naik, Kedai Mie Ayam dan Bakso Laziza masih mempertahankan harga satu porsi bakso sebesar Rp18.000.
Keputusan itu diambil untuk menjaga loyalitas pelanggan yang sebagian besar berasal dari kalangan masyarakat umum. Heri juga mengaku omzet usahanya mengalami penurunan cukup tajam dalam beberapa waktu terakhir.
Ia memperkirakan penjualan turun hingga 30 persen dibandingkan kondisi normal, dan situasi tersebut diperparah oleh kenaikan berbagai kebutuhan bahan pokok.
"Kalau untuk UMKM sekarang ini yang penting bisa bertahan. Fokusnya bukan lagi memperbesar keuntungan, tetapi bagaimana usaha tetap berjalan dan pelanggan tetap datang," ungkapnya.
Ia mengungkapkan bahwa penurunan omzet ia rasakan sejak berjalannya program MBG.
“Sejak adanya MBG ini omzet mulai menurun drastis, anak-anak sudah pada jarang jajan,” jelasnya.
Heri berharap kondisi ekonomi segera membaik agar usaha kuliner kecil dapat kembali berkembang dan memberikan kontribusi bagi perekonomian daerah.
Pedagang daging sapi di sejumlah pasar tradisional di Lampung melakukan penyesuaian harga jual guna meminimalisir kerugian. Hal ini dikarenakan harga sapi di tingkat pemasok terus mengalami kenaikan.
Sebelumnya para pedagang daging sapi di Lampung sempat mogok berjualan pada Senin-Selasa, 22-23 Juni 2026. Mereka kembali berjualan Rabu (24/6/2026) dengan harga yang sudah disesuaikan.
Penyesuaian harga tersebut berkisar Rp 140 ribu-Rp 145 ribu per kilogram. Artinya ada kenaikan kurang lebih Rp5.000 dari sebelumnya antara Rp135 ribu hingga Rp140 ribu per kilogram .
Kenaikan harga ini seperti yang dilakukan oleh Imron, pemilik Toko Daging Subaru di Pasar Tugu. Namun, kata Imron, kenaikan tersebut belum sepenuhnya menutupi tingginya biaya pembelian sapi.
"Kalau mengikuti harga sapi saat ini, seharusnya daging dijual di kisaran Rp155 ribu sampai Rp160 ribu per kilogram. Tapi kami memahami kondisi masyarakat, jadi kenaikannya hanya untuk menekan kerugian, bukan mencari keuntungan," jelasnya.
Para pedagang daging sapi kesulitan mempertahankan harga lama karena margin keuntungan semakin tergerus.
Meski demikian, ketersediaan stok daging sapi di pasar masih tergolong aman. Sebab Imron melakukan pemotongan sapi sesuai kebutuhan pasar agar pasokan tetap terjaga.
Di sisi lain, Imron menilai turunnya penjualan bukan semata-mata disebabkan kenaikan harga daging, melainkan melemahnya daya beli masyarakat.
Saat ini, penjualan daging sapi mengalami penurunan hingga 40 persen dibandingkan kondisi normal.
"Pasar memang sedang sepi. Faktor utamanya karena bulan Suro, di mana kegiatan hajatan berkurang. Selain itu, program MBG juga sedang libur karena sekolah sedang libur," katanya.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, para pedagang melakukan berbagai langkah efisiensi, termasuk menyesuaikan jumlah karyawan dan volume pemotongan sapi agar operasional usaha tetap berjalan.
Pedagang berharap kondisi pasar kembali membaik dalam beberapa waktu ke depan sehingga daya beli masyarakat meningkat dan aktivitas perdagangan dapat kembali normal.
(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)