BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU- Kerusakan daerah aliran sungai (DAS), degradasi hutan, meningkatnya risiko banjir, hingga kerusakan lingkungan hidup di Kalimantan Selatan masih dapat diperbaiki.
Namun upaya tersebut memerlukan waktu panjang, dilakukan secara sistematis, serta mendapat dukungan semua pihak.
Hal itu mengemuka dalam Podcast Ikatan Alumni (IKA) Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang bertema “Memulihkan DAS, Memulihkan Masa Depan Kalimantan Selatan” yang dipandu moderator Moses Foresto, Kamis (25/6/2026).
Dua narasumber yang hadir yakni pakar rimbawan dan akademisi senior di bidang kehutanan, Ir. Kartasirang, MS serta Guru Besar Fakultas Kehutanan ULM Prof. Dr. Ir. Jauhari, M.S., membahas berbagai langkah pemulihan lingkungan mulai dari rehabilitasi DAS, pemulihan lahan kritis, hingga pemanfaatan teknologi modern.
Pada pembukaan diskusi, kedua narasumber sepakat jika kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini masih memungkinkan untuk dipulihkan.
Baca juga: Podcast IKA Fakultas Kehutanan ULM Berlanjut, Bahas Strategi Pemulihan Tutupan Lahan di Kalsel
Baca juga: Lowongan Kerja Astra Group Terbaru, Buka Banyak Posisi Ada Penempatan Kalimantan dan Jakarta
Namun semakin cepat upaya dilakukan, maka peluang keberhasilannya akan semakin besar.
Kartasirang yang juga mantan Ketua Forum DAS Kalsel mengemukakan dalam pembahasan banjir dan lingkungan, DAS selalu menjadi faktor utama karena merupakan satu kesatuan sistem yang menghubungkan kawasan hulu dan hilir.
“DAS yang sehat mampu menahan dan mengatur aliran air sehingga dapat mengurangi debit puncak banjir. Sebaliknya, DAS yang rusak akan mempercepat limpasan air dan meningkatkan risiko banjir maupun kekeringan,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi kawasan hulu sangat menentukan situasi yang terjadi di daerah hilir. Karena itu, banjir besar tidak selalu disebabkan curah hujan ekstrem semata, melainkan juga dipengaruhi kondisi DAS yang mengalami kerusakan.
Dalam sesi pemulihan fungsi hidrologi, Kartasirang menegaskan rehabilitasi DAS bukan sekadar kegiatan penanaman pohon.
"Yang terpenting adalah mengembalikan fungsi hidrologi agar kawasan mampu menyerap, menyimpan, dan melepaskan air secara alami," urainya.
Dia menekankan pentingnya pemilihan jenis vegetasi yang sesuai, penentuan lokasi rehabilitasi yang strategis, serta monitoring jangka panjang agar hasil rehabilitasi benar-benar efektif.
Kartasirang juga menyebut Pegunungan Meratus sebagai kawasan yang harus menjadi prioritas utama dalam upaya pemulihan lingkungan di Kalimantan Selatan.
“Meratus merupakan water tower Kalimantan Selatan. Kawasan ini menjadi sumber tata air bagi banyak DAS. Jika tekanan terhadap kawasan hulu terus meningkat, risiko bencana hidrologi juga akan semakin besar,” katanya.
Selain kawasan hulu, rehabilitasi sempadan sungai dan kawasan riparian juga dinilai penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mengurangi dampak banjir.
Adapun Prof. Jauhari menjelaskan rehabilitasi lahan pada prinsipnya bertujuan memulihkan fungsi lahan yang telah terdegradasi. Menurutnya, rehabilitasi tidak selalu harus mengembalikan kondisi kawasan seperti semula.
“Yang penting adalah fungsi ekologisnya kembali berjalan. Pendekatan rehabilitasi harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing lahan dan keberhasilannya sangat ditentukan oleh pemeliharaan,” ujarnya.
Pada sesi itu Prof Jauhari juga mengedepankan teknologi pemulihan lingkungan, yang bisa digunakan pemangku kebijakan dalam menjawab mendukung rehabilitasi lahan dan DAS.
Berbagai teknologi semisal Geographic Information System, citra satelit, drone monitoring, hingga sistem pemantauan data secara real time kini dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas rehabilitasi.
Selain itu, pendekatan reboisasi berbasis lanskap dan precision rehabilitation dinilai mampu membantu proses pemulihan lingkungan secara lebih terukur dan efisien.
"Dengan menggunakan teknologi AI, segala, dengan teknik coding. Kita bisa mundur 10 tahun ke belakang tentang bagaimana perubahan lahan tersebut. Kemudian daerah mana yang akan bisa kita rehab, itu bisa kita tentukan dengan lebih baik untuk dilakukan reboisasi," ulasnya.
Sehingga, area-area mana yang memang cocok untuk ketahanan pangan, dan mana untuk reboisasi itu bisa dilakukan efektif dan efisien jika menggunakan teknologi.
"Zaman sekarang dengan teknologi saat ini, kita bisa membangun modeling-modeling itu dengan mudah. Hanya saja dukungan peralatan teknologi IoT (Internet of Things), real-time data, itu sudah harus dilakukan, dan pemerintah perlu melakukan itu termasuk memasang Early Warning System (EWS).
Secara umum di Kalsel, sambungnya, isu yang perlu di dukung di antaranya perlindungan Pegunungan Meratus, rehabilitasi DAS prioritas, pemulihan kawasan kritis, penguatan program perhutanan sosial dan agroforestri, serta peningkatan pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan.
Keduanya berpesan agar menjadikan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari investasi masa depan, serta perubahan pola pikir, untuk tidak lagi berbicara berkesinambungan tapi lebih ke bahasa yang mudah dipahami, misal dengan menanamkan kepada generasi muda untuk merawat hutan kita untuk masa depan anak cucu.
(Banjarmasin Post/Nurholis Huda)