TRIBUNSUMSEL.COM -- Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, terus berupaya mengangkat potensi budaya lokal melalui berbagai inovasi kreatif.
Salah satu yang kini menjadi perhatian adalah Batik Petule, motif batik khas daerah yang terinspirasi dari tanaman petule atau oyong (gambas) yang banyak tumbuh dan dikonsumsi masyarakat Muara Enim.
Batik ini tidak hanya menjadi produk kerajinan bernilai seni tinggi, tetapi juga telah memperoleh perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), sehingga resmi diakui sebagai salah satu identitas budaya khas Kabupaten Muara Enim provinsi Sumsel.
Dikutip dari platform media sosial @humasbupatimuaraenim dan sumber lainnya, Batik Petule merupakan motif batik yang mengambil inspirasi dari bentuk buah, bunga, daun, hingga sulur tanaman petule atau yang dikenal masyarakat Sumatera Selatan sebagai sayur petule, oyong, atau kisik.
Tanaman ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Muara Enim dan banyak ditemukan tumbuh subur di sejumlah wilayah pedesaan.
Keunikan Batik Petule terletak pada kemampuannya mengubah sesuatu yang sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat menjadi karya seni yang elegan dan bernilai ekonomi tinggi.
Motifnya menggambarkan kesederhanaan, kesuburan, ketekunan, serta kedekatan masyarakat dengan alam.
Batik Petule merupakan hasil kreasi Ketua Dekranasda Kabupaten Muara Enim, Hj. Heni Pertiwi Edison. Ide penciptaannya berawal dari kebiasaan masyarakat Muara Enim yang akrab dengan sayur petule sebagai bahan pangan sehari-hari.
Menurut keterangan Dekranasda Muara Enim, inspirasi tersebut muncul karena tanaman petule sangat mudah ditemukan di berbagai wilayah Kabupaten Muara Enim, termasuk di Desa Banuayu, Kecamatan Empat Petulai Dangku yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil petule.
Dari situlah muncul gagasan untuk menjadikan tanaman lokal tersebut sebagai motif batik yang unik dan berbeda dari daerah lain.
Batik Petule tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga mengandung makna filosofis yang mendalam, antara lain:
1. Simbol Kesederhanaan
Petule merupakan sayuran yang sangat dekat dengan masyarakat. Pemilihannya sebagai motif batik menunjukkan bahwa sesuatu yang sederhana dapat memiliki nilai seni dan kebanggaan yang tinggi.
2. Lambang Kesuburan
Tanaman petule tumbuh subur di wilayah Muara Enim. Karena itu, motif ini juga melambangkan kemakmuran, hasil bumi yang melimpah, dan harapan akan kesejahteraan masyarakat.
3. Identitas Lokal
Batik Petule menjadi representasi kekayaan flora khas Muara Enim yang membedakannya dari motif batik daerah lain di Indonesia.
4. Penghormatan terhadap Alam
Motif ini mengingatkan masyarakat untuk terus menjaga lingkungan dan memanfaatkan kekayaan alam secara bijaksana.
Salah satu pencapaian penting Batik Petule adalah telah memperoleh sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Penyerahan sertifikat tersebut dilakukan bersamaan dengan peluncuran resmi Batik Petule pada peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-53 Kabupaten Muara Enim tahun 2025.
Selain sertifikat HAKI, para pengrajin juga menerima cap tembaga motif Batik Petule untuk mendukung produksi batik lokal.
Dengan adanya perlindungan hukum tersebut, motif Batik Petule menjadi kekayaan intelektual daerah yang diakui dan terlindungi dari penyalahgunaan atau klaim pihak lain.
Sejak diluncurkan, Batik Petule terus dikembangkan menjadi berbagai produk fashion modern. Motif ini telah ditampilkan dalam berbagai peragaan busana dan ajang promosi kerajinan daerah.
Pada ajang Kriya Sriwijaya Fashion Show (KSFS) 2025, Batik Petule berhasil mencuri perhatian berkat desainnya yang unik dan mengangkat kearifan lokal Muara Enim. Kain dan busana bermotif petule dinilai mampu menggabungkan unsur tradisional dengan gaya modern sehingga menarik berbagai kalangan.
Selain itu, pada tahun 2026 juga digelar Pameran Busana Batik Petule yang bertujuan memperkenalkan lebih luas wastra khas Muara Enim sekaligus meningkatkan kebanggaan masyarakat terhadap produk budaya daerahnya sendiri.
Keberadaan Batik Petule membuka peluang besar bagi pengembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Muara Enim. Dengan motif yang telah memiliki perlindungan HAKI, para pengrajin lokal dapat mengembangkan berbagai produk seperti: Kain batik tulis dan cap; Kemeja dan pakaian formal; Busana muslim; Aksesori fashion; Souvenir khas daerah dan atau produk kerajinan berbasis motif petule lainnya.
Pemerintah Kabupaten Muara Enim berharap Batik Petule dapat menjadi ikon baru daerah yang mampu meningkatkan pendapatan pelaku UMKM sekaligus memperkuat promosi pariwisata dan budaya lokal.
Batik Petule membuktikan bahwa kekayaan budaya dapat lahir dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar masyarakat. Berawal dari tanaman petule yang biasa hadir di meja makan, kini motif tersebut telah menjelma menjadi wastra khas yang elegan, memiliki perlindungan HAKI, dan menjadi simbol identitas Kabupaten Muara Enim.
Dengan terus dikembangkan dan dipromosikan, Batik Petule berpotensi menjadi salah satu motif batik unggulan Sumatera Selatan yang dikenal luas di tingkat nasional bahkan internasional. (lis)
Baca juga: 12 Prompt AI Hari Keluarga Nasional, Ubah Foto Keluarga Jadi Foto Realistis hingga Animasi Digital
Baca juga: 4 Contoh Sambutan Pidato Kegiatan Memperingati Harganas ke 33 Tahun 2026, Instansi hingga Komunitas
Baca juga: Jenis-jenis Wastra dari 17 Kabupaten/Kota di Provinsi Sumsel, Songket, Blongsong hingga Batik Gambo
Baca juga: Wastra Adalah, Salah Satu Warisan Budaya Nusantara Indonesia, Berikut Jenis dan Contohnya