Tokyo (ANTARA) - Pihak berwenang Thailand mengklaim telah mencapai keberhasilan dalam memberantas penipuan transnasional di daerah perbatasan, dengan mengatakan jumlah kejahatan dan kerugian finansial yang ditimbulkan telah menurun tajam.

Meski demikian, mereka memperingatkan bahwa kerja sama internasional sangat penting untuk memberantas secara tuntas masalah tersebut.

Kepolisian Kerajaan Thailand pada Senin mengatakan bahwa jumlah kasus penipuan yang dilaporkan bulan ini di beberapa pusat operasional, terutama di perbatasan Thailand dengan Kamboja, Myanmar, dan Laos, turun 69,2 persen dibandingkan Oktober tahun lalu, dengan kerugian finansial menurun 87,3 persen.

Mereka menyatakan telah menangkap atau mengeluarkan perintah penangkapan terhadap lebih dari 29.300 pelaku penipuan, yang terdiri dari warga negara Thailand dan warga negara asing, selama periode sembilan bulan.

Perdana Menteri Anutin Charnvirakul, yang menjabat pada September dan mendirikan pusat anti-penipuan siber pada bulan berikutnya, mengatakan kepada wartawan bahwa "menekan kejahatan yang terkait teknologi, penipuan melalui call center," dan jenis penipuan lainnya merupakan prioritas utama pemerintah.

Dia mengatakan pemerintahannya mempromosikan kerja sama di antara badan pemerintahan guna meningkatkan efisiensi investigasi.

Lebih dari 29.300 penipu yang ditangkap termasuk seorang pria Jepang yang diduga memimpin pusat panggilan penipuan di Kamboja dan ditahan di bandara dekat Bangkok pada 7 Juni.

Ada juga seorang pria Jepang lainnya yang dicurigai mengawasi staf pusat panggilan di Kamboja dari jarak jauh dari Bangkok dan dideportasi ke Jepang pada 16 Juni.

Beberapa kompleks tempat penipuan dilakukan di daerah perbatasan dulunya beroperasi sebagai kasino, tetapi beralih fungsi menjadi basis bagi sindikat kejahatan setelah pandemi COVID-19.

Thailand mulai menangani kompleks-kompleks penipuan pada awal 2025 di bawah pemerintahan Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra sebelumnya, dengan memutus aliran listrik, akses internet, dan jalur transportasi ke kompleks-kompleks tersebut, serta menutup situs web ilegal dan membekukan rekening bank yang mencurigakan.

Mereka yang bekerja di kompleks penipuan berasal dari berbagai negara. Banyak yang dipancing ke sana dengan dalih palsu oleh sindikat kriminal dan tidak dapat melarikan diri dari tempat itu.

Kompleks penipuan di O'Smach Resort di Kamboja, dekat daerah Chong Chom di Thailand, diyakini telah beroperasi dengan melibatkan banyak pekerja paksa, meskipun jumlahnya tidak jelas.

Kompleks tersebut dihancurkan oleh serangan artileri Thailand pada Desember setelah wilayah perbatasan kedua negara menjadi lokasi strategis selama konflik perbatasan mereka tahun lalu.

Antara 10 ribu hingga 15 ribu orang diperkirakan terlibat dalam penipuan daring dan telepon di kompleks tersebut, kata militer Thailand.

Mereka mengatakan telah memberikan peringatan kepada kompleks tersebut sebelum serangan dan tidak ada yang terluka, sementara semua pekerja melarikan diri lebih jauh ke Kamboja.

Reruntuhan di bekas kota resor tersebut, yang terdiri dari sekitar 160 bangunan, di mana 29 di antaranya merupakan markas para penipu, diperlihatkan kepada media pada Maret dan April.

Salah satu bangunan berisi bilik-bilik berukuran manusia yang digunakan sebagai ruang kedap suara untuk panggilan telepon palsu, dan ruangan-ruangan yang penuh dengan meja dan komputer berjajar di sepanjang lorong.

Ruangan lain tampak seperti sel tempat para pekerja paksa dikurung sebagai hukuman.

Beberapa ruangan lain dibuat menyerupai kantor polisi atau keamanan publik di sejumlah negara asing seperti China, Vietnam, dan Indonesia, sementara seragam pasukan polisi yang dipakai para pekerja tergeletak di lantai.

"Kantor polisi palsu ini digunakan untuk menipu orang melalui panggilan video. Para penipu ingin meyakinkan para korban bahwa mereka sedang berbicara dengan pihak berwenang yang sah" untuk memperoleh uang mereka, jelas seorang perwira militer yang memandu para wartawan.

Menurut laporan Kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia yang dirilis pada Februari, para pekerja yang menjadi korban TPPO telah mendorong industri penipuan daring berkembang pesat di Asia Tenggara, dengan keuntungan yang diperkirakan bernilai puluhan miliar dolar per tahun.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa 300 ribu orang dari 66 negara diperkirakan terlibat dalam operasi penipuan yang tersebar di seluruh wilayah tersebut.

Penculikan mencurigakan yang terkait dengan industri penipuan tersebut terus terungkap.

Dalam kasus terbaru, seorang mahasiswi dari Hong Kong ditipu untuk melakukan perjalanan ke Thailand pada 1 Juni oleh para penipu yang menyamar sebagai petugas penegak hukum asing dan menuduhnya terlibat dalam kegiatan kriminal, menurut penyelidik Thailand.

Dia diperintahkan untuk merekayasa penculikan dirinya sendiri dan merekam video dirinya, yang kemudian dikirimkan kepada keluarganya oleh para penipu dengan tuntutan tebusan sebesar 3 juta dolar Hong Kong (sekitar Rp6,86 miliar).

Menurut para pejabat Thailand yang memandu tur media, markas para penipu tampaknya masih aktif di tempat lain di wilayah tersebut. Hal itu menggarisbawahi bahwa satu negara saja tidak memiliki kekuatan untuk memberantas organisasi kriminal transnasional tersebut.

"Kerja sama internasional diperlukan untuk menekan masalah ini secara serius. Masalah ini berdampak pada perekonomian dan citra, tidak hanya bagi Thailand, tetapi juga bagi negara-negara ASEAN lainnya," kata Maratee Andamo, wakil juru bicara Kementerian Luar Negeri.

Sumber: Kyodo-OANA

​​​​​​​