Manfaat Storytelling bagi Tumbuh Kembang Otak Anak, Belajar Nilai Kehidupan Tanpa Menggurui
Willem Jonata June 25, 2026 07:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak orang tua saat ini menghadapi tantangan yang sama. Anak-anak semakin akrab dengan layar ponsel dibanding cerita sebelum tidur.

Video pendek hadir tanpa henti. Gawai menjadi teman bermain sekaligus sumber hiburan utama. 

Di sisi lain, kebiasaan mendongeng yang dulu akrab di banyak keluarga perlahan mulai jarang ditemui.

Padahal, menurut Menteri Kebudayaan Fadli Zon, cerita memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar hiburan.

Dongeng cerita rakyat menjadi sarana untuk menanamkan nilai kehidupan, membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak, sekaligus mewariskan budaya kepada generasi berikutnya.

Baca juga: Mengasah Kemampuan Storytelling: Bagaimana Cara Bercerita dengan Baik

Pesan itu disampaikan Fadli saat Puncak Apresiasi Karya Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026 di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Cerita Rakyat, Warisan yang Sering Terlupakan

Fadli menjelaskan bahwa masyarakat kerap memahami budaya hanya sebagai seni pertunjukan atau kesenian.

Padahal ruang lingkup kebudayaan jauh lebih luas.

Di dalam pemajuan kebudayaan terdapat berbagai unsur, mulai dari bahasa, tradisi lisan, sastra, adat istiadat, manuskrip, pengetahuan tradisional, hingga berbagai bentuk ekspresi seni.

Menurutnya, tradisi lisan berupa dongeng cerita rakyat merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang sangat besar tetapi sering kurang mendapat perhatian.

Dari Sabang sampai Merauke, masyarakat Indonesia mewarisi ribuan cerita yang hidup dari generasi ke generasi.

Sebagian kecil memang terdokumentasi dalam bentuk tulisan. Namun lebih banyak yang bertahan melalui tuturan para orang tua, kakek-nenek, tokoh adat, dan pendongeng.

Cerita-cerita itu terus hidup bukan karena dicetak dalam buku, melainkan karena diceritakan berulang kali.

"ini yang menurut saya perlu kita hidupkan karena itulah saya minta dukungan dari para komunitas pendongeng storyteller dan cerita yang sudah menghidupkan cerita-cerita rakyat dan juga cerita-cerita budaya lainnya," ujar Fadli di Jakarta, Rabu (24/6/2026). 

Anak Tidak Hanya Butuh Makanan

Menurut Fadli, perhatian terhadap tumbuh kembang anak selama ini lebih banyak difokuskan pada aspek fisik.

Padahal anak juga membutuhkan asupan nonfisik yang membantu perkembangan mental dan emosional.

Ia menilai cerita menjadi salah satu bentuk "makanan spiritual" yang penting bagi anak.

"Tidak cukup makanan tapi makanan spiritual itu adalah cerita dari orang tua dari ibu, dari bapak kepada anaknya," katanya.

Melalui cerita, anak mengenal keteladanan, keberanian, kejujuran, kepedulian, hingga rasa hormat kepada orang lain.

Yang menarik, pesan tersebut dapat diterima anak tanpa kesan menggurui.

"Cerita-cerita itu tentu mengandung keteladanan mengandung nasihat tanpa harus menasihati mengandung value nilai-nilai yang ingin diwariskan," lanjutnya.

Mengaktifkan Otak Anak

Fadli juga menyinggung sejumlah kajian mengenai manfaat storytelling bagi perkembangan otak.

Menurutnya, aktivitas mendengarkan cerita melibatkan berbagai bagian otak secara bersamaan.

Cerita membuat anak membayangkan tokoh, memahami emosi, mengikuti alur peristiwa, dan menghubungkan pengalaman yang didengar dengan kehidupan sehari-hari.

Ia menjelaskan bahwa storytelling membantu membangun empati, meningkatkan fokus, dan membuat informasi lebih mudah diingat dibanding sekadar penyampaian data.

Karena itulah cerita dinilai memiliki peran penting dalam proses pembentukan karakter anak.

Fadli kemudian mengenang masa kecil generasinya yang tumbuh bersama cerita rakyat.

Kala itu, anak-anak Indonesia akrab dengan kisah Timun Mas, Bawang Merah Bawang Putih, Malin Kundang, hingga Sangkuriang.

Cerita-cerita tersebut hadir melalui buku, radio, televisi, maupun dongeng yang disampaikan orang tua di rumah.

Kisah-kisah itu menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Indonesia.

Menurutnya, cerita rakyat memiliki kemampuan bertahan lintas generasi karena menyimpan nilai-nilai universal yang tetap relevan hingga sekarang.

Ketika Cerita Masih Dicintai Anak Muda

Meski hidup di era digital, minat terhadap cerita rakyat ternyata belum hilang. Hal itu terlihat dari tingginya partisipasi masyarakat dalam Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026.

Program tersebut berhasil menjangkau 34 provinsi dengan total 1.737 karya yang dikirim oleh 2.797 peserta.

Peserta berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, orang tua, pendidik, masyarakat umum hingga kelompok inklusi.

Mereka mengirimkan video mendongeng menggunakan telepon genggam dan membagikannya melalui media sosial.

Data tersebut menunjukkan bahwa cerita rakyat masih memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat Indonesia.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.