BIENNE, TRIBUNNEWS.COM - Perubahan iklim dan perkembangan teknologi menjadi dua tantangan besar yang dihadapi sektor manufaktur global saat ini.
Demikian sebagian topik yang mengemuka saat Tribunnews.com yang tergabung dalam tim jurnalis KG Media yang mengikuti even International Smart Factory Summit, di Biel/Bienna, Swiss, Kamis (25/6/2026).
Para pembicara dari berbagai institusi internasional menekankan bahwa transformasi industri tidak hanya soal teknologi, tetapi juga tentang manusia dan pemerataan akses inovasi.
Rafik Feki, Industrial Development Advocate UNIDO United Nations Industrial Development Organization (Organisasi Pengembangan Industri Perserikatan Bangsa-Bangsa) mengatakan dunia perlu mentransformasi cara memproduksi barang dan jasa agar lebih berkelanjutan.
Menurutnya, teknologi yang inklusif masih jauh dari kenyataan karena akses terhadap teknologi modern masih sangat tidak merata di berbagai negara dan kelompok masyarakat.
Ia menegaskan bahwa tanpa transformasi digital yang merata, kesenjangan pembangunan akan semakin lebar.
Karena itu, International Smart Factory Summit menjadi wadah penting untuk berbagi pengetahuan, membangun koneksi inovasi, serta mengembangkan kerangka kerja dan kemitraan yang inklusif.
UNIDO, kata Rafik, bekerja sama dengan berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk memperluas akses teknologi agar dapat dimanfaatkan oleh semua pihak.
Baca juga: Menilik Fasilitas Keran Air Minum Layak Konsumsi di Sudut Kota-kota di Swiss, Terbersih di Dunia
Organisasi tersebut juga mendorong transformasi digital hijau (green digital transformation) dengan memperkuat kolaborasi antara pemerintah, industri, dan berbagai pemangku kepentingan.
“Masa depan manufaktur bukan hanya tentang menjadi lebih cerdas (smart), tetapi juga harus inklusif dan berpusat pada manusia (human-centric),” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa transformasi industri membutuhkan aksi kolektif sehingga tidak ada industri maupun negara yang tertinggal.
Sementara itu, Simon Enderli, Direktur Bern Economic Development Agency melihat adanya kesamaan antara smart manufacturing dan sepak bola profesional. Menurutnya, keduanya memanfaatkan teknologi untuk membantu manusia mencapai performa terbaik.
Ia menilai perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat. Tantangannya bukan sekadar mengadopsi teknologi baru, melainkan memastikan teknologi tersebut mampu mendukung manusia agar bekerja lebih efektif, produktif, dan kompetitif.
“Pada akhirnya, teknologi bukan menggantikan manusia, melainkan membantu manusia menghasilkan kinerja yang lebih baik,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Thomas Gfeller, CEO Switzerland Innovation. Ia mengungkapkan bahwa banyak perusahaan masih menghadapi kesulitan dalam menerapkan otomatisasi.
Menurutnya, transformasi industri tidak hanya berkaitan dengan mesin dan teknologi, tetapi juga tentang manusia yang mengoperasikannya. Keberhasilan otomatisasi sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia untuk beradaptasi dengan perubahan.
“Kita perlu memahami bagaimana manusia bekerja dan bagaimana membangun kesadaran serta budaya kerja yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi,” ujarnya.
Para pakar itu sepakat bahwa masa depan manufaktur tidak cukup hanya mengandalkan teknologi canggih. Transformasi industri harus berjalan secara inklusif, berkelanjutan, dan menempatkan manusia sebagai pusat dari setiap inovasi.