TRIBUNNEWS.COM - Korea Selatan berada dalam situasi mengkhawatirkan di Piala Dunia 2026 setelah kalah 0-1 dari Afrika Selatan pada laga terakhir fase grup, Kamis (25/6/2026).
Kekalahan tersebut membuat Taeguk Warriors gagal mengamankan tiket babak 32 besar melalui jalur otomatis.
Kini, pasukan Hong Myung-bo hanya bisa berharap pada hasil pertandingan dari grup lain untuk menjaga asa bertahan di turnamen.
Dengan catatan satu kemenangan dan dua kekalahan, Korea Selatan mengakhiri fase grup dengan koleksi tiga poin.
Tidak hanya itu, selisih gol minus satu juga membuat posisi Korea Selatan jauh dari kata aman.
Situasi tersebut membuat Korea Selatan kembali mengulang momen kelam edisi 2022 di Piala Dunia 2026 terkait hitung-hitungan lolos fase gugur.
Padahal sebelum turnamen dimulai, Korea Selatan digadang-gadang menjadi salah satu wakil Asia yang mampu berbicara banyak di Piala Dunia 2026.
Pelatih Pandawa Football Academy di Sukoharjo, Muhammad Khoirullah, menjadi salah satu sosok yang meyakini Korea Selatan dapat melangkah jauh di turnamen ini.
"Adapun kandidat tim dari Asia yang bisa lolos 16 besar Piala Dunia 2026 saya kira Korea Selatan," kata Khoirullah ketika bicara kepada Tribunnews pada (14/6).
"Pasti dia secara skuad lebih diunggulkan daripada tim Asia lain seperti Iran, Australia, maupun Arab Saudi," tambahnya.
Baca juga: Kans Korea Selatan Lolos 32 Besar Piala Dunia 2026 Tipis, Kekalahan dari Afrika Selatan Bak Bencana
Prediksi tersebut sempat terlihat realistis mengingat Korea Selatan datang dengan materi pemain yang sebagian besar berkiprah di kompetisi elite Eropa.
Namun kenyataan di lapangan justru membawa Korea Selatan menuju situasi pelik.
Format baru Piala Dunia 2026 yang melibatkan 48 negara sebenarnya membuat peluang lolos ke fase gugur menjadi lebih besar.
Namun Korea Selatan justru kembali terjebak dalam situasi yang pernah menghantui mereka pada edisi Qatar 2022.
Di mana kala itu mereka harus melalui momen menunggu hasil Uruguay sambil menghitung jumlah gol untuk memastikan tiket ke fase gugur.
Kini, momen itu terulang dengan memantau hasil dari delapan tim peringkat ketiga terbaik dilakukan berdasarkan poin, selisih gol, produktivitas gol, hingga catatan fair play.
Korea Selatan saat ini memiliki tiga poin, selisih gol minus satu, serta nilai fair play minus empat akibat empat kartu kuning yang diterima pemain mereka.
Media Korea Selatan, Yonhap, menilai situasi tersebut sebagai mimpi buruk yang terulang.
"Sama seperti Piala Dunia sebelumnya (Qatar 2022), mimpi buruk berupa menghitung berbagai skenario kembali terulang pada turnamen kali ini," tulis Yonhap.
Kabar baiknya, Skotlandia yang juga mengoleksi tiga poin masih berada di bawah Korea Selatan karena memiliki selisih gol minus tiga.
Artinya, Korea Selatan membutuhkan setidaknya tiga tim peringkat ketiga lain untuk finis di bawah mereka agar tiket babak 32 besar dapat diamankan.
Meski peluang tersebut masih terbuka, tantangan berat justru diperkirakan menanti apabila Korea Selatan berhasil lolos.
Pasalnya, lawan berikutnya berpotensi berasal dari deretan tim unggulan turnamen.
Korea Selatan berpeluang menghadapi juara Grup E yang dihuni Jerman atau pemenang Grup G yang diisi Mesir, Iran, dan Belgia.
Tidak ada satu pun calon lawan tersebut yang bisa dianggap ringan oleh pasukan Hong Myung-bo.
Masalah lainnya adalah minimnya waktu persiapan karena identitas lawan baru diketahui setelah seluruh pertandingan grup berakhir.
Mimpi Korea Selatan untuk menjadi salah satu wakil Asia yang bersinar di Piala Dunia 2026 memang belum sepenuhnya berakhir.
Namun sebelum memikirkan langkah lebih jauh, mereka harus terlebih dahulu lolos dari mimpi buruk bernama hitung-hitungan klasemen.
(Tribunnews.com/Niken)