Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Yayan Hartono
TRIBUNBENGKULU.COM, SELUMA - Polemik yang terjadi di SMP Negeri 5 Seluma, Kelurahan Pasar Tais, Kecamatan Seluma, masih terus bergulir.
Setelah melakukan serangkaian mediasi dan klarifikasi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Seluma kembali menemukan adanya kelompok guru yang tetap bersikeras menolak Kepala SMPN 5 Seluma, Fetri Harneli.
Pada proses klarifikasi yang digelar Kamis (25/6/2026), ada 17 guru dan tenaga kependidikan yang sebelumnya tercantum dalam surat penolakan terhadap kepala sekolah yang dimintai informasi.
Dari hasil pertemuan tersebut, sebanyak 16 guru menyatakan tetap pada sikap awal mereka, yakni meminta agar Fetri Harneli dicopot dari jabatannya sebagai Kepala SMPN 5 Seluma.
Kepala Dikbud Seluma, Munarwan Safu'i, mengatakan pihaknya masih terus mengumpulkan informasi dari seluruh pihak untuk mengetahui akar persoalan yang sebenarnya sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
"Hari ini kami kembali melakukan klarifikasi kepada guru dan tenaga kependidikan SMPN 5 Seluma. Dari hasil pertemuan, ada 16 guru yang tetap meminta agar kepala sekolah dicopot dari jabatannya," kata Munarwan.
Menurut Munarwan, berdasarkan hasil dialog dan keterangan yang diperoleh, persoalan yang terjadi lebih banyak dipicu oleh ketidakcocokan sebagian guru terhadap gaya kepemimpinan kepala sekolah yang dinilai tegas dan disiplin.
Dari penjelasan para guru, mereka merasa kurang nyaman dengan pola kepemimpinan yang diterapkan sejak Fetri Harneli mulai menjabat sejak tiga bulan lalu.
"Kalau dari hasil klarifikasi sementara, permasalahan ini lebih kepada ketidaksukaan sebagian guru terhadap gaya kepemimpinan kepala sekolah yang dianggap keras dan sangat disiplin," ucap Munarwan.
Meski demikian, Munarwan menegaskan bahwa Dikbud Seluma akan tetap bersikap objektif dalam menyikapi polemik tersebut.
Pihaknya akan mempelajari seluruh keterangan yang telah disampaikan baik oleh guru, tenaga kependidikan maupun kepala sekolah sebelum menyampaikan rekomendasi kepada pimpinan daerah.
"Kami tidak bisa mengambil kesimpulan hanya dari satu sisi. Semua informasi dan keterangan yang masuk akan kami pelajari terlebih dahulu agar keputusan yang diambil nantinya benar-benar berdasarkan fakta," tegasnya.
Munarwan mengingatkan seluruh pihak agar tetap menjaga suasana kondusif di lingkungan sekolah sehingga proses belajar mengajar tidak terganggu akibat polemik yang sedang berlangsung.
"Senin 30 Juni 2026, kita akan RDP di DPRD Seluma. Karena guru yang menolak ini tetap ingin melanjutkan perkara ini untuk RDP di DPRD Seluma," sampai Munarwan.
Sementara itu, hingga saat ini Fetri Harneli masih menjalankan tugasnya sebagai Kepala SMPN 5 Seluma. Dikbud Seluma memastikan proses klarifikasi akan terus dilakukan guna mendapatkan gambaran utuh terkait persoalan yang berkembang di sekolah tersebut.
Sebelumnya, polemik SMPN 5 Seluma mencuat setelah beredarnya surat penolakan terhadap Kepala SMPN 5 Seluma yang ditandatangani sejumlah guru dan dikirimkan kepada Bupati Seluma dengan tembusan ke Dikbud Seluma dan DPRD Kabupaten Seluma.
Sejak kasus tersebut mencuat, Dikbud Seluma telah beberapa kali menggelar mediasi dan klarifikasi dengan memanggil para guru yang tercantum dalam surat penolakan untuk mengetahui latar belakang munculnya tuntutan pencopotan kepala sekolah tersebut.