TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Kabupaten Trenggalek tercatat sebagai salah satu daerah dengan kemampuan fiskal tiga terendah di Jawa Timur (Jatim) dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Meski kapasitas anggaran daerah sangat terbatas, kondisi tersebut rupanya tidak berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakat di Bumi Menak Sopal.
Hal itu ditegaskan oleh Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, saat memberikan pengarahan dalam pembekalan purna tugas Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pendopo Manggala Praja Nugraha, Kamis (25/6/2026).
Pria yang akrab disapa Mas Ipin ini mengungkapkan, keterbatasan anggaran tidak membuat Pemerintah Kabupaten Trenggalek dan masyarakatnya putus asa.
Baca juga: 10.522 Lulusan SD/MI Berebut Daftar ke SMP Negeri Lewat Sistem SPMB Kabupaten Tulungagung
Sebaliknya, grafik makro daerah justru menunjukkan capaian yang positif di tengah keterbatasan.
"Selama lima tahun terakhir, kita kabupaten dengan kemampuan fiskal tiga terendah di Jawa Timur. Bisa Trenggalek, kemudian nanti tersalip Pacitan, pokoknya kita tiga bergantian," ujar Mas Ipin, Kamis (25/6/2026).
Mas Ipin menjelaskan, indeks fiskal yang rendah ini mencerminkan kondisi Trenggalek menjadi daerah yang paling minim anggaran.
Jika dibandingkan dengan rasio belanja rutin, belanja modal, maupun belanja operasinya.
Dikatakannya, jika kemampuan fiskal sebuah daerah berada di posisi paling bawah, maka tingkat kemiskinan masyarakatnya idealnya akan linier atau berbanding lurus dengan keterbatasan anggaran tersebut.
Namun, Mas Ipin m3ngaku Trenggalek berhasil mematahkan rumus itu. Namun, jika anggaran dilihat linier, seharusnya kalau APBD Trenggalek paling rendah.
"Berarti masyarakatnya paling prasejahtera. Namun kenyataannya, kita bukan tiga kabupaten dengan kemiskinan tertinggi," urainya.
Tak hanya dari sektor pengentasan kemiskinan, Trenggalek juga membuktikan diri mampu bersaing di sektor pembangunan manusia dan kesehatan.
Mas Ipin menegaskan Trenggalek bukan merupakan kabupaten dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terendah, ataupun masuk dalam tiga daerah dengan kasus tengkes (stunting) terbanyak di Jatim.
"Kalau anggarannya sedikit berarti orangnya tidak pintar. Kita juga bukan IPM tiga terburuk di Jawa Timur. Kita cuma APBDnya saja yang tiga terendah, tapi kemiskinan tidak, IPMnya juga tidak, stunting-nya juga tidak. Jadi kalau hari ini kita merasa menangisi sesuatu, itu juga wajar," ulasnya.
Ibarat Membangun Masjid Tanpa Modal
Mas Ipin mengibaratkan perjuangan jajaran pemkab dan masyarakat Trenggalek selama ini seperti kepanitiaan pembangunan yang harus bekerja ekstra keras karena tidak memiliki modal awal yang besar.
"Orang kalau tidak punya uang, mau sesuatu pasti ngoyo (berusaha keras). Umpama ditunjuk panitia pembangunan masjid misalnya, kalau ada uangnya pasti cepat jadi. Tapi kalau tidak punya uang, harus berusaha keras karena harus mengetuk rumah ke rumah, bikin proposal, dan yang lainnya," tegasnya.
Demi memastikan setiap rupiah dari APBD Trenggalek benar-benar mengalir untuk kepentingan masyarakat, Mas Ipin bahkan mengambil kebijakan ekstrem.
Baca juga: Aksi Mahasiswa di Depan DPRD Kabupaten Blitar Sempat Tegang, Peserta Aksi Bakar Ban
Bupati yang hobi sepakbola ini memilih menolak sejumlah fasilitas kedinasan yang dinilai bukan menjadi prioritas utama.
Sampai saat ini, Bupati Arifin tercatat menolak alokasi anggaran untuk rehabilitasi gedung Pendopo Trenggalek serta menolak pengadaan mobil dinas baru untuk operasional bupati.
Ia menekankan bahwa orientasi utamanya adalah membawa Trenggalek ke arah yang lebih baik, meskipun tantangan yang dihadapi di lapangan sama sekali tidak mudah.
"Cari anggarannya tidak gampang, untuk eksekusinya juga tidak gampang, menjaga tata kelolanya pun juga tidak gampang," tandasnya.
(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)