Semarak Visit Malaysia 2026, Tanjung Belungkor Tampilkan Pesona Hutan Bakau ke Media Dunia
Aisyah Sumardi June 25, 2026 09:27 PM

TRIBUN-MEDAN.com, JOHOR - Hamparan hutan mangrove yang hijau dan rimbun menyambut kedatangan rombongan media internasional di Tanjung Belungkor, Distrik Kota Tinggi, Johor, Malaysia. Kawasan yang berada di pesisir timur Johor ini menjadi salah satu lokasi unggulan dalam rangkaian program Soft Adventure Tourism menuju Visit Malaysia 2026.

Tidak sekadar menikmati keindahan alam, para peserta diajak menyelami lebih dalam pentingnya ekosistem mangrove melalui kegiatan edukasi lingkungan dan penanaman bibit bakau yang selama ini menjadi benteng alami bagi kawasan pesisir Johor.

 

Kegiatan tersebut memberikan pengalaman berbeda bagi para peserta. Mereka berjalan menyusuri kawasan Hutan Mangrove yang masih terjaga keasriannya, mengamati akar-akar bakau yang menjulang di atas permukaan lumpur, sekaligus mendengarkan penjelasan mengenai peran vital Hutan Mangrove dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Pemandu konservasi mangrove Tanjung Belungkor, Mr Blerong Nature guide Tg. Belungkor, Johor mengatakan kawasan tersebut memiliki nilai ekologis yang sangat penting karena menjadi habitat berbagai spesies flora dan fauna pesisir.

Deputy Director General (Promotion I) Tourism Malaysia, Datuk Musa bin Yusof, mengamati keanekaragaman tumbuhan pesisir di kawasan konservasi Tanjung Belungkor, Johor, Rabu (24/6/2026). Kunjungan ini merupakan bagian dari program Soft Adventure Tourism yang memperkenalkan kekayaan keanekaragaman hayati hutan bakau Malaysia kepada media internasional dalam rangka mendukung kampanye Visit Malaysia 2026.
Deputy Director General (Promotion I) Tourism Malaysia, Datuk Musa bin Yusof, mengamati keanekaragaman tumbuhan pesisir di kawasan konservasi Tanjung Belungkor, Johor, Rabu (24/6/2026). Kunjungan ini merupakan bagian dari program Soft Adventure Tourism yang memperkenalkan kekayaan keanekaragaman hayati hutan bakau Malaysia kepada media internasional dalam rangka mendukung kampanye Visit Malaysia 2026. (TRIBUN MEDAN)

Menurutnya, keberadaan Hutan Mangrove tidak hanya berfungsi sebagai pelindung pantai dari abrasi dan gelombang besar, tetapi juga menjadi kawasan pembiakan berbagai jenis ikan, udang, kepiting, serta organisme laut lainnya yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.

“Hutan bakau ini umpama benteng pertama yang melindungi kawasan pesisir. Selain itu, ia juga menjadi tempat pembiakan hidupan laut dan membantu mengekalkan keseimbangan ekosistem,” ujar Mr Blerong saat memberikan pemaparan kepada peserta.

 

Ia menjelaskan, kawasan mangrove di Tanjung Belungkor telah lama dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat melalui berbagai program konservasi. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan ekosistem pesisir tetap terpelihara sekaligus memberikan manfaat ekonomi melalui pengembangan ekowisata.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta tidak hanya mendengarkan pemaparan teori. Mereka juga diajak turun langsung ke area penanaman untuk menanam bibit mangrove sebagai simbol komitmen terhadap pelestarian lingkungan.

Penanaman Mangrove di Jelang Visit Malaysia 2026, Tanjung Belungkor Tampilkan Pesona Hutan Bakau ke Media Dunia
Penanaman Mangrove di Jelang Visit Malaysia 2026, Tanjung Belungkor Tampilkan Pesona Hutan Bakau ke Media Dunia (TRIBUN MEDAN)

Momen ini menjadi pengalaman berharga bagi peserta yang berasal dari berbagai negara. Mereka tampak antusias berinteraksi dengan masyarakat lokal, mempelajari teknik penanaman mangrove, serta memahami proses konservasi yang dilakukan di kawasan tersebut.

Selain penanaman mangrove, peserta juga mendapatkan sesi edukasi mengenai kekayaan biodiversitas yang dimiliki Tanjung Belungkor. Berbagai spesies mangrove diperkenalkan lengkap dengan fungsi ekologis dan karakteristik masing-masing.

 

Mr Blerong menjelaskan bahwa kawasan ini memiliki beragam jenis bakau yang tumbuh secara alami dan berperan penting dalam menjaga kestabilan ekosistem pesisir.

“Kami ingin pengunjung memahami bahawa setiap spesies mempunyai fungsi tersendiri. Ada yang membantu menahan hakisan, ada yang menjadi habitat hidupan laut dan ada juga yang membantu meningkatkan kualiti air,” katanya.

Kenali 17 Spesies Mangrove Tanjung Belungkor, Dalam sesi pengenalan flora mangrove, peserta diperlihatkan secara langsung bagian daun, buah, akar dan propagul dari berbagai jenis tanaman yang tumbuh di kawasan tersebut.

Sebanyak 17 spesies mangrove dan tumbuhan pesisir diperkenalkan kepada peserta : 

1. Bakau Kurap (Rhizophora mucronata)
2. Bakau Minyak (Rhizophora apiculata)
3. Bakau Putih atau Berus (Rhizophora racemosa)
4. Api-api Bulu (Avicennia rumphiana)
5. Jeruju (Acanthus ilicifolius)
6. Tengar (Ceriops tagal)
7. Nyireh Batu (Xylocarpus moluccensis)
8. Nyireh Bunga (Xylocarpus granatum)
9. Tumu Merah (Bruguiera gymnorhiza)
10. Tumu Putih (Bruguiera sexangula)
11. Lenggadai (Bruguiera parviflora)
12. Perepat Putih (Sonneratia alba)
13. Perepat Merah (Sonneratia caseolaris)
14. Api-api Putih (Avicennia alba)
15. Api-api Hitam (Avicennia marina)
16. Bakau Jantan (Rhizophora stylosa)
17. Piai Raya (Acrostichum aureum)

Keberadaan berbagai spesies tersebut menjadikan Tanjung Belungkor sebagai salah satu kawasan konservasi mangrove yang kaya akan biodiversitas dan penting untuk dipelihara.

Para peserta terlihat antusias mengabadikan setiap penjelasan dan mengambil gambar berbagai spesies yang diperlihatkan. Banyak di antara mereka yang baru pertama kali melihat secara langsung perbedaan karakteristik masing-masing jenis mangrove.

 

Wisata Alam yang Semakin Diminati

Selain dikenal sebagai kawasan konservasi, Tanjung Belungkor kini berkembang menjadi destinasi ekowisata yang semakin diminati wisatawan.

Keindahan lanskap mangrove, suasana alam yang tenang, jalur pejalan kaki yang membelah hutan bakau, serta pengalaman edukasi lingkungan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Pengembangan wisata berbasis konservasi seperti ini sejalan dengan komitmen Johor dalam mendukung pariwisata berkelanjutan menjelang Visit Malaysia 2026.

 

Melalui konsep tersebut, wisatawan tidak hanya menikmati destinasi, tetapi juga memperoleh pengetahuan tentang pentingnya menjaga lingkungan dan ikut berkontribusi dalam pelestarian alam.

Kegiatan yang melibatkan media internasional ini diharapkan mampu memperkenalkan potensi wisata alam Johor kepada dunia sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat global terhadap pentingnya menjaga ekosistem mangrove sebagai warisan alam yang harus dilestarikan.

 

Bagi Johor, Tanjung Belungkor bukan sekadar kawasan hutan bakau. Kawasan ini merupakan simbol keberhasilan kolaborasi antara masyarakat, komunitas konservasi, dan sektor pariwisata dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan pengembangan ekonomi berbasis wisata.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.