TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SEKADAU - Isu kelangkaan gas Liquefied Petroleum Gas (LPG) atau elpiji bersubsidi tabung 3 kilogram kian meresahkan warga di Kabupaten Sekadau.
Dampak nyata dari sulitnya mendapatkan "si melon" ini kini mulai dirasakan secara signifikan oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menggantungkan perputaran roda ekonominya pada ketersediaan bahan bakar tersebut.
Salah satu potret keluhan ini dialami oleh Aris Setiawan (22), seorang pemuda yang sehari-harinya mengais rezeki sebagai pedagang es doger dan cincau hijau keliling.
Ia mengaku ruang gerak usahanya menjadi sangat terbatas lantaran energi dan waktunya habis terkuras hanya untuk berburu gas demi kebutuhan produksi harian.
Aris menceritakan perjuangannya yang harus rela berkeliling ke sejumlah lokasi strategis di wilayah Kecamatan Sekadau Hilir demi mencari satu tabung elpiji 3 kilogram.
Sialnya, di berbagai pangkalan resmi maupun warung-warung pengecer yang ia datangi, papan pengumuman stok gas selalu menunjukkan kondisi kosong melompong.
"Pertama saya cari gas ke kawasan Kampung Tebal, Desa Mungguk, tapi tidak ada karena kosong semua. Setelah itu saya balik ke arah pasar, menyusuri Jalan Sungai Ringin juga kosong semua," ujar Aris lesu saat ditemui di sela-sela aktivitasnya pada Kamis, 25 Juni 2026.
Tak mau patah arang, Aris kembali memacu sepeda motornya melanjutkan pencarian hingga membelah kawasan Jalan Sanggau dan memutar ke sekitar Jalan PAM.
Namun, hasilnya tetap sama, gas elpiji melon sangat langka dan sulit ditemukan di sepanjang jalur tersebut.
Baca juga: Motor Terlindas Truk, Kecelakaan Depan Polres Sekadau, Korban 2 Orang Dilarikan ke Rumah Sakit
Karena desakan kebutuhan operasional usaha yang tidak bisa ditunda lagi, Aris akhirnya mencoba mencari secercah informasi dari jaring sesama pelaku usaha kecil yang kerap bernasib sama di jalanan.
"Saya tanya teman yang jualan batagor, lalu dia kasih tahu ada tempat yang masih jual gas 3 kilogram. Tapi harganya lumayan, Rp40 ribu per tabung," katanya.
Meski angka tersebut melonjak drastis dan melambung tinggi jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, Aris mengaku tidak memiliki opsi alternatif lain.
Ia terpaksa merogoh kocek lebih dalam agar dapurnya tetap bisa mengepul dan tidak kehilangan omzet harian.
"Mau tidak mau saya beli. Kalau tidak ada gas, saya tidak bisa masak mutiara, ketan, sama gula merah untuk es doger," ungkapnya dengan nada pasrah.
Bagi Aris, nominal Rp40 ribu untuk satu tabung ukuran 3 kilogram merupakan rekor harga tertinggi yang pernah ia tebus selama dirinya merintis usaha kuliner di Sekadau.
"Biasanya paling mahal Rp30 ribu. Baru kali ini saya beli sampai Rp40 ribu," ujarnya membandingkan fluktuasi harga yang tidak wajar tersebut.
Ia menjelaskan lebih terperinci bahwa gas elpiji merupakan komponen vital yang digunakan tanpa henti setiap harinya untuk berbagai kebutuhan rantai produksi dagangannya. Skema kerjanya dibagi dalam dua sif pengerjaan yang intensif.
Pada pagi buta, gas digunakan untuk merebus air dalam skala besar yang menjadi bahan baku utama pembuatan cincau hijau segar.
Sementara ketika malam hari tiba, kompornya harus kembali menyala demi memasak bahan mutiara serta mengencerkan gula merah kental sebagai toping es doger racikannya.
Sebagai langkah mitigasi untuk mengantisipasi efek domino dari kelangkaan gas yang kerap terjadi musiman, Aris sebenarnya sudah menerapkan strategi mandiri dengan menyimpan cadangan atau stok hingga tiga tabung di kediamannya.
Setiap kali satu tabung habis terpakai, ia akan langsung bergegas membelinya kembali ke pasar sebagai instrumen pengganti.
"Saya biasanya stok tiga tabung. Kalau habis satu langsung beli lagi supaya tidak kesusahan nanti kalau gas susah dicari. Cuma sekarang masalahnya harga yang tinggi," tuturnya mengeluhkan margin keuntungan usahanya yang otomatis terkikis akibat mahalnya biaya modal bahan bakar.
Melalui momentum ini, Aris menaruh harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Sekadau bersama pihak Pertamina untuk segera turun tangan melakukan inspeksi mendadak ke lapangan.
Ia berharap pasokan gas elpiji 3 kilogram di Sekadau bisa kembali diguyur secara normal sehingga masyarakat prasejahtera dan para pelaku usaha kecil tidak lagi terjepit dan kesulitan memperoleh gas dengan harga yang wajar dan rasional. (*)