MANAJANGAN SATU MOMEN DARI PIALA DUNIA
Jurgen Klopp menjelaskan mengapa ia menyukai waktu istirahat minum yang kontroversial di Piala Dunia
Mantan manajer Liverpool, Jurgen Klopp, memberikan pandangannya yang berbeda terkait penerapan waktu istirahat minum yang menjadi perdebatan di Piala Dunia 2026. Berbeda dengan sejumlah pengkritik ternama, pelatih asal Jerman itu menilai kebijakan tersebut memiliki manfaat praktis, baik di dalam maupun di luar lapangan, meskipun banyak pemain dan penggemar merasa terganggu dengan seringnya permainan dihentikan.
Manfaat bagi para pemain
Karena Piala Dunia kali ini digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, FIFA memperkenalkan waktu istirahat terjadwal di pertengahan setiap babak pertandingan. Tujuannya untuk melindungi pemain dari panas ekstrem musim panas di Amerika Utara. Namun, kebijakan ini justru memicu banyak perdebatan. Klopp sendiri mengambil pendekatan yang lebih santai terhadap isu tersebut.
Berbicara tentang penerapan aturan ini, Klopp mengakui bahwa waktu istirahat tersebut dibutuhkan secara fisik oleh para pemain. "Cuacanya sangat panas dan ini baik untuk para pemain," ujar Klopp. "Apakah ini juga baik untuk pelatih? Ya, saya akan menyukainya. Mungkin sekarang durasinya sedikit berlebihan. Tentu terlalu lama, karena untuk sekadar minum tidak perlu dua setengah menit atau berapa pun itu. Tapi begitulah aturannya."
Klopp melihat sisi lucu dari aturan baru FIFA
Menurut pelatih berusia 59 tahun itu, pengalaman menonton pertandingan langsung di stadion dibandingkan menontonnya di televisi memberikan kesan yang berbeda. Klopp sambil bercanda mengatakan bahwa jeda tersebut justru bermanfaat bagi orang seusianya selama pertandingan panjang.
“Aturannya ada manfaatnya, dan ketika Anda berada di stadion, itu tidak masalah karena Anda mendapat sedikit hiburan – di Dallas ada pemandu sorak, dan saya menikmatinya di layar besar,” kata Klopp. “Itu sepenuhnya baik-baik saja, tetapi saya memahami ketika Anda menonton di rumah dan tiba-tiba muncul iklan… namun bagi saya yang sudah berusia seperti ini, waktu istirahat itu benar-benar berguna untuk pergi ke toilet!”
Tuchel dan Van Dijk memimpin kritik
Di sisi lain, kebijakan ini menuai banyak kritik dari mereka yang terlibat langsung di lapangan. Manajer tim nasional Inggris, Thomas Tuchel, menyampaikan kekecewaannya dan berpendapat bahwa frekuensi waktu istirahat tersebut mengubah cara permainan sepak bola berjalan secara fundamental. Bagi para pelatih yang mengandalkan ritme intensitas tinggi dan tekanan berkelanjutan untuk melelahkan lawan, penghentian permainan setiap 22 menit bisa merusak rencana taktis mereka.
Pelatih tim Tiga Singa itu mengatakan: “Saya rasa hal ini mengganggu dan mengubah identitas pertandingan sepak bola jauh lebih besar dari yang saya bayangkan. Saya pernah mengalami waktu istirahat minum sebelumnya ketika cuaca benar-benar panas dan memang dibutuhkan, tapi durasinya lebih singkat. Dulu hanya terjadi di beberapa pertandingan. Sekarang, demi keadilan, diterapkan di setiap pertandingan untuk setiap tim. Hal ini membuat pertandingan seolah terbagi menjadi empat kuarter. Dan menurut saya, ini mengubah karakter pertandingan lebih dari yang saya perkirakan.”
Sementara itu, kapten tim nasional Belanda, Virgil van Dijk, menilai sistem tersebut seharusnya diterapkan dengan lebih fleksibel dan tidak diberlakukan secara seragam untuk semua laga. Ia berkata: “Waktu istirahat minum ini agak menarik, karena saya menonton hampir semua pertandingan hingga hari ini, dan setiap kali ada iklan saat jeda rasanya… tidak terlalu saya sukai,” jelas Van Dijk. “Saya rasa bagi penonton netral di televisi juga tidak menyenangkan. Jika cuacanya benar-benar panas, tentu saja itu masuk akal. Tapi menurut saya, seharusnya dilihat per pertandingan, tidak disamaratakan. Tapi saya rasa saya sudah bicara cukup banyak soal itu.”
FIFA teguh pada prinsip kesetaraan turnamen
Meski banyak bintang besar menyuarakan ketidaksetujuan dan terdengar sorakan tidak puas dari tribun ketika permainan dihentikan, FIFA tetap tidak berencana menghapus aturan ini selama turnamen berlangsung. Badan sepak bola dunia itu menegaskan bahwa tujuan utama kebijakan ini adalah menjaga keselamatan pemain dan memastikan semua tim bertanding dengan aturan operasional yang sama, tanpa memandang apakah stadion beratap atau suhu luar sedang menurun.
Menanggapi kritik yang terus bermunculan, juru bicara FIFA mengatakan kepada Asosiasi Pers: “Kami ingin memastikan kondisi yang setara bagi semua pihak, dan karena itulah waktu istirahat ini diterapkan di setiap pertandingan.”
Presiden FIFA, Gianni Infantino, juga memberikan pembelaan serupa, dengan menegaskan bahwa FIFA tidak mengambil keuntungan finansial dari iklan yang muncul selama jeda tersebut.