Sudah 3 Nyawa Melayang, Mengapa Latsarmil Koperasi Desa Tetap Jalan?
Budi Sam Law Malau June 26, 2026 03:35 AM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Meninggalnya tiga calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) memicu sorotan publik terhadap pelaksanaan program yang digagas pemerintah tersebut.

Di balik ambisi besar mencetak pemimpin tangguh untuk Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, sebuah tragedi memilukan tersaji di lapangan latihan.

Tiga nyawa pemuda terbaik gugur saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) yang digelar Kementerian Pertahanan (Kemhan). 

Baca juga: DPP PKB Instruksikan DPC dan DPW Berdialog dengan Mahasiswa Tentang MBG dan Koperasi Desa

Meski demikian, DPR RI dan Istana Kepresidenan kompak menegaskan program tetap akan dilanjutkan dengan sejumlah perbaikan dan evaluasi menyeluruh.

Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi NasDem, Amelia Anggraini, menilai insiden yang merenggut nyawa peserta tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan program.

Namun, ia menekankan pentingnya penguatan standar keselamatan dan pengawasan selama pelatihan berlangsung.

"Saya berpendapat program ini sebaiknya tetap dilanjutkan, tetapi dengan standar keselamatan yang lebih ketat, pengawasan yang lebih profesional, serta evaluasi berbasis bukti," kata Amelia, Kamis (25/6/2026).

Amelia menyampaikan belasungkawa atas wafatnya tiga peserta yang tengah mengikuti Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).

Menurutnya, setiap kehilangan nyawa harus menjadi perhatian serius bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan program.

Ia menegaskan, keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari minimnya tantangan yang dihadapi, tetapi juga dari kemampuan penyelenggara dalam belajar dari setiap kejadian dan melakukan perbaikan nyata.

"Yang paling penting adalah memastikan peristiwa serupa tidak terulang kembali," ujarnya.

Menurut Amelia, latihan dasar kemiliteran memiliki nilai strategis dalam membentuk karakter calon manajer Kopdes.

Selain melatih ketahanan fisik, program tersebut dinilai mampu menanamkan disiplin, kepemimpinan, integritas, kemampuan bekerja dalam tim, serta kesiapan mengambil keputusan di bawah tekanan.

Kompetensi tersebut dianggap penting karena para peserta nantinya akan menjadi penggerak pembangunan ekonomi desa melalui pengelolaan koperasi.

Karena itu, Amelia meminta pemerintah melakukan evaluasi transparan terhadap seluruh aspek pelaksanaan pelatihan, mulai dari prosedur keselamatan, pemeriksaan kesehatan peserta, manajemen risiko hingga sistem pengawasan selama pendidikan berlangsung.

"Keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama tanpa mengurangi substansi pembentukan karakter dan kepemimpinan yang menjadi tujuan program," tegasnya.

Istana: Program Koperasi Merah Putih Tetap Berlanjut

Sikap serupa juga disampaikan Istana Kepresidenan. Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Juri Ardiantoro memastikan Program Koperasi Merah Putih akan tetap berjalan sesuai rencana meskipun terjadi insiden meninggalnya peserta selama pelatihan.

Menurut Juri, penjelasan terkait penyebab kematian peserta telah disampaikan secara resmi oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan).

"Kan sudah dijelaskan oleh Kemhan kan," ujar Juri di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Ia menambahkan, pemerintah akan melakukan mitigasi dan penanganan terhadap setiap kejadian yang muncul tanpa menghambat kelanjutan program strategis tersebut.

"Tentu hal terkait dengan peristiwa atau kejadian-kejadian seperti itu akan ditangani sebaik-baiknya dan dipisahkan dari kegiatan atau kelanjutan program ini," katanya.

Juri menegaskan, Program Koperasi Merah Putih tetap menjadi agenda penting pemerintah dalam memperkuat ekonomi masyarakat desa dan kelurahan.

Tiga Peserta Meninggal di Lokasi Berbeda

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan mengungkapkan bahwa tiga peserta SPPI yang dipersiapkan menjadi calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih meninggal dunia saat mengikuti Latsarmil di satuan pendidikan TNI yang berbeda.

Korban pertama adalah Anisa Muyassaroh, peserta yang mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan. Ia mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 sebelum akhirnya meninggal dunia akibat heat stroke yang disertai henti jantung.

Korban kedua, Yonanda Muhammad Taufiq, mengikuti pendidikan di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja. Setelah mengalami penurunan kondisi kesehatan dan mendapat penanganan medis, ia dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest atau henti jantung.

Sementara korban ketiga, Novia Rahmadhani Sihotang, merupakan peserta yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta. Novia sempat dirawat intensif di RSAU dr. Esnawan Antariksa setelah mengalami gangguan kesehatan. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kondisi yang dialaminya berkaitan dengan penyakit tuberkulosis (TB).

Kemhan menegaskan seluruh peserta yang meninggal telah melewati tahapan seleksi, termasuk pemeriksaan kesehatan, dan dinyatakan memenuhi syarat untuk mengikuti pendidikan.

Meski demikian, rentetan kematian peserta dalam waktu berdekatan kini menjadi perhatian publik dan memunculkan desakan agar evaluasi terhadap sistem pelatihan dilakukan secara menyeluruh.

Di tengah sorotan tersebut, pemerintah menegaskan program tetap berlanjut dengan komitmen memperkuat aspek keselamatan dan kesehatan peserta di masa mendatang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.