Modal Nekat Bangun Bakpia Fadila, Eks Pegawai Bank Bisa Beli Lahan Sebelah
Bobby Wiratama June 26, 2026 03:38 AM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha

TRIBUNNEWS.COM, JOGJA - "Enak, Jon! Besok bawa lagi, ya!"

Ucapan tersebut memantik seorang Joni Purwantoro memantapkan diri untuk berjualan bakpia. Ia memilih resign alias keluar dari pekerjaannya sebagai pegawai bank untuk menggeluti usaha kuliner khas Yogyakarta tersebut.

Bahkan dari capaiannya berjualan bakpia, Joni mampu membeli lahan sebelah untuk kemudian dijadikannya homestay.

Cerita bermula ketika obrolan di sela waktu istirahat kantor, Joni tiba-tiba mendapat pertanyaan dari rekannya. 

"Joni, kok tiap hari bawa kotak-kotak ke kantor? Itu apa?" tanya salah satu rekan kerja Joni dengan penasaran. 

Dengan senyum malu-malu, Joni membuka kotaknya. "Ini bakpia, coba aja kalau mau. Buatan sendiri, loh," katanya pada Senin (22/6/2026), mengingat kisah masa lalunya kala itu.

Tak disangka, dalam hitungan menit, bakpia yang ia bawa ludes. 

Dari sanalah semua bermula. Joni yang kala itu masih bekerja di sebuah bank swasta, tidak pernah menyangka bahwa usaha kecil-kecilan ini akan menjadi sumber penghasilan utama dan bertahan hingga belasan tahun lamanya.

Bahkan sekarang, bisnis usahanya melebar dengan jasa homestay yang ia tekuni dari hasil beli lahan sebelah rumah.

Di tahun 2004, saat itu Yogyakarta memang terkenal dengan industri bakpianya. 

Baca juga: Bangun Daya Saing UMKM Butuh Penguatan Kesehatan Finansial

Setiap kali melewati kawasan Pathuk, Ngampilan, Yogyakarta, Joni selalu melihat antrean panjang di toko-toko bakpia merek terkenal. 

"Kenapa nggak coba bikin sendiri?" pikirnya dalam hati.

Meski bukan berasal dari keluarga pembuat bakpia, Joni memberanikan diri untuk belajar dari tetangganya yang lebih dulu berkecimpung di usaha ini.

Awalnya, produksi dilakukan di dapur rumah dengan alat seadanya. Setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, ia dan istrinya membuat adonan, memanggang, lalu mengemasnya dalam kotak kecil. 

Bakpia ini lalu dibawa ke kantor untuk dijual ke teman-teman. Dari mulut ke mulut, produk Joni mulai dikenal, dan pesanan pun semakin banyak.

Seiring meningkatnya permintaan, Joni menghadapi berbagai kendala. Produksi manual mulai terasa melelahkan. 

"Dulu, adonan diuleni pakai tangan, oven juga kecil, jadi nggak bisa produksi dalam jumlah banyak," kenangnya. 

Selain itu, persaingan di industri bakpia juga semakin ketat. Inovasi varian rasa mulai bermunculan, dari bakpia isi cokelat, keju, hingga bakpia kukus yang mulai menarik perhatian konsumen.

Bantuan KUR

Deretan bakpia dalam dus tersaji di Bakpia Fadila Patuk, Yogyakarta
Deretan bakpia dalam dus tersaji di Bakpia Fadila Patuk, Yogyakarta (Instagram @bakpiafadila)

Melihat peluang yang lebih besar, Joni menyadari bahwa ia harus meningkatkan kapasitas produksinya. 

Namun, modal menjadi kendala. Beruntung, saat itu ada program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI yang menawarkan pinjaman bagi pelaku usaha kecil. 

Dengan modal Rp10 juta, Joni membeli mesin penggiling adonan dan peralatan lain yang lebih modern.

Pinjaman ini benar-benar menjadi titik balik dalam usahanya. Produksi menjadi lebih cepat, tenaga yang dibutuhkan juga lebih sedikit. 

"Kalau dulu kami cuma bisa produksi 50 dus sehari, setelah ada mesin, bisa naik dua kali lipat," ujarnya. 

Tak hanya itu, dengan keuntungan yang didapat, Joni mulai melebarkan sayap ke bisnis lain. 

Ia membangun beberapa unit homestay untuk menampung wisatawan yang datang ke Yogyakarta.

Peluang itu menjadi peluang yang nekat diambil Joni saat kembali mengajukan permodalan lewat KUR BRI.

Pesanan yang meningkat membuatnya untung besar dan perlahan bisa membantunya untuk membeli lahan rumah sebelah.

Kini terdapat sekitar tiga petak rumah yang ia siapkan untuk penginapan wisatawan. Satu kamarnya bisa menampung antara 4-8 orang.

Lantas jika libur sekolah atau libur akhir tahun, bukan kepalang dirinya harus mengatur waktu antara pelayanan jasa homestay dengan jualan bakpia.

Namun sebenarnya dua usahanya ini selalu berkaitan. Tak sedikit wisatawan yang menginap di homestay-nya turut membawa pulang oleh-oleh bakpia.

“Katakanlah per orang 2-5 dus, kalau dikalikan kan lumayan,” paparnya kemudian terenyum.

Bakpia juga menjadi pemanis para tamu homestay milik Joni. Setiap tamu yang menginap akan disajikan gratis bakpia sebagai bentuk pelayaan plus-plus pria berusia 52 tahun itu.

Namun, tak selamanya usaha Joni berjalan mulus. Saat pandemi COVID-19 melanda, bisnisnya terkena dampak yang cukup besar.

 Pariwisata Yogyakarta terpuruk, toko-toko sepi, dan penjualan bakpia anjlok drastis. 

"Biasanya jelang Lebaran, pesanan bisa sampai ratusan dus, tapi waktu pandemi, sehari laku 10 dus saja sudah bagus," tuturnya.

Tidak mau menyerah, Joni segera beradaptasi dengan situasi. Ia mulai memanfaatkan media sosial untuk menjangkau pelanggan di luar kota. 

"Saya tawarkan bakpia lewat WhatsApp, Facebook, dan Instagram. Alhamdulillah, ada pelanggan dari Jakarta yang pesan sampai 100 dus," katanya. 

Ia juga mengikuti berbagai pelatihan digitalisasi usaha dari BRI, termasuk penggunaan QRIS sebagai metode pembayaran agar lebih praktis.

Kini, setelah melewati masa sulit pandemi, usaha Joni kembali stabil. 

Rata-rata, ia bisa menjual hingga 50 dus bakpia per hari pada hari biasa, dan dua kali lipat saat musim liburan. 

Bahkan, dalam satu pesanan besar, pernah ada pelanggan yang memesan hingga 400 dus sekaligus.

Joni pun semakin fokus menjaga kualitas produknya. 

"Yang penting itu kualitas dan pelayanan. Kalau pelanggan puas, mereka pasti kembali," tegasnya. 

Dengan inovasi, kerja keras, dan dukungan permodalan yang tepat, Joni telah membuktikan bahwa usaha kecil yang dimulai dari sekadar jualan sampingan di kantor bisa berkembang menjadi bisnis yang besar dan bertahan di tengah tantangan. 

Adapun produk Bakpia Fadila dijual di rumah Joni yang berlokasi di RT41 RW08 Pathuk, Ngampilan, Kecamatan Purwodiningratan, Yogyakarta.

Bakpia Fadila juga melayani pengiriman pesanan, informasi lebih lanjut bisa mengakses di akun Instagram @bakpiafadila. 

Harga bakpia bervariasi, untuk bakpia dus kecil dibanderol Rp10 ribu, dan ukuran reguler Rp20 ribu.

Peran Pemerintah

Kepala Bidang Kewirausahaan Dinas Koperasi dan UKM DIY, Hana Fais Prabowo mengatakan UMKM kini menjadi salah satu penopang utama ekonomi masyarakat di Yogyakarta.

Menurutnya, Pemerintah DIY terus mendorong pelaku usaha berkembang melalui ekosistem SiBakul Jogja.

Program tersebut tidak hanya berisi pendataan pelaku usaha, tetapi juga pendampingan, pelatihan, hingga perluasan akses pasar.

Pelaku UMKM juga difasilitasi dalam pengurusan legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, dan izin PIRT.

"Selain itu, pemerintah menghadirkan Markethub SiBakul Jogja sebagai ruang pemasaran digital untuk membantu produk lokal menjangkau pasar lebih luas," jelasnya ketika dihubungi pada Kamis (7/5/2026).

Pemerintah DIY juga memberikan subsidi ongkos kirim untuk meningkatkan daya saing produk UMKM.

Hingga Triwulan I 2026, tercatat lebih dari 12 ribu produk telah masuk dalam ekosistem pemasaran digital tersebut.

Secara keseluruhan, SiBakul Jogja telah merangkul sekitar 347.800 pelaku usaha, terdiri dari 329.543 usaha mikro, 16.126 usaha kecil, dan 2.131 usaha menengah.

Menurut Fais, pengembangan UMKM membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perbankan, akademisi, marketplace, hingga media.

“Membangun UMKM tidak bisa sendiri. Kolaborasi penting untuk membuka akses pembiayaan dan memperkuat daya saing,” papar Fais menambahkan.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.