Sosok Prof Nyak Amir, Anak Bungsu dari Pantonlabu yang Juga Ilmuan Terbaik Dipilih Jadi Rektor UTU
SERAMBINEWS.COM - Prof Dr Nyak Amir SPd MPd resmi dipilih sebagai Rektor Universitas Teuku Umar (UTU) Aceh Barat untuk periode 2026–2030.
Akademisi kelahiran Aceh Utara itu terpilih melalui pemungutan suara di Ruang Rapat Senat UTU, Kamis (25/6/2026).
Pemilihan dilakukan melalui mekanisme pemungutan suara oleh anggota Senat Universitas Teuku Umar bersama perwakilan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Di balik pencapaian tersebut, tersimpan perjalanan panjang seorang anak kampung yang tumbuh dengan kesederhanaan, ditempa oleh pendidikan, serta dibesarkan oleh doa dan dukungan keluarga.
Prof Nyak Amir lahir di Rawang Itik, Panton Labu, Aceh Utara, pada 25 November 1974.
Ia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara, pasangan almarhum H Muhammad Amin Abdul Latif yang berasal dari Alue Ie Puteh dan Hj Bati, perempuan asal Panton Labu.
Baginya, kedua orang tua adalah sosok yang menjadi fondasi utama dalam setiap langkah kehidupan.
Dukungan, doa, dan pengorbanan mereka menjadi energi yang terus mengiringi perjalanan akademik maupun kariernya.
Semangat itu juga diperkuat oleh keluarga besar, termasuk pakcik dan makcik, serta saudara-saudaranya yang selalu menjadi sumber motivasi untuk terus mengejar cita-cita.
Sejak kecil, Nyak Amir dikenal gemar membaca dan aktif berolahraga. Kebiasaan itu terus melekat hingga menyelesaikan pendidikan dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas di Panton Labu.
Kecintaannya terhadap dunia olahraga membawanya melanjutkan studi di Jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala.
Setelah meraih gelar sarjana, ia melanjutkan pendidikan Magister Pendidikan Olahraga di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Negeri Surabaya.
Hasratnya untuk terus belajar tidak berhenti di sana. Ia kemudian menempuh pendidikan doktoral di bidang Ilmu Keolahragaan dan berhasil meraih gelar doktor pada 2004.
Saat itu, ia tercatat sebagai doktor pertama di Indonesia di bidang ilmu keolahragaan.
Karier akademiknya dimulai pada 1999 sebagai dosen Jurusan Pendidikan Olahraga FKIP Universitas Syiah Kuala (USK)
Sejak saat itu, berbagai amanah dipercayakan kepadanya, mulai dari Ketua Sistem Perencanaan, Penyusunan Program dan Penganggaran FKIP USK, Sekretaris Penjaminan Mutu FKIP USK, Sekretaris Program Studi Magister Pendidikan Olahraga Pascasarjana USK, hingga Ketua Tsunami Resource Center Aceh.
Pengalaman Prof Nyak Amir tidak hanya berkutat di lingkungan kampus.
Ia juga pernah menjadi Ketua Divisi Pendidikan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Aceh, konsultan pendidikan di Malaysia, anggota Tim Visitasi Perguruan Tinggi Swasta Aceh, Tim Pengembangan Sekolah Khusus Olahraga Aceh,
Manajer Social Sport School Real Madrid Foundation Aceh, pengurus KONI Aceh, Ketua Program Studi Pendidikan Olahraga STKIP Getsempena, Konsultan Sekolah Khusus Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga,
Fasilitator Kemitraan Kepala Sekolah Kemendikbud RI, Ketua Umum Pengprov Perpani Aceh, hingga dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal Persatuan Panahan Indonesia.
Sebagai akademisi, produktivitasnya juga terlihat melalui berbagai buku yang diterbitkan serta karya ilmiah yang dipublikasikan di jurnal nasional maupun internasional.
Berbagai penghargaan pun diraihnya, termasuk predikat sebagai Ilmuwan Olahraga Terbaik.
Kontribusinya terhadap pembangunan olahraga di Aceh juga cukup besar.
Ia ikut menyusun Grand Design Pembangunan Olahraga Aceh, Grand Design Pembangunan Kepemudaan Aceh, hingga terlibat dalam penyusunan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pembangunan Olahraga Aceh.
Dedikasi panjang tersebut mengantarkannya meraih jabatan akademik tertinggi sebagai Guru Besar Ilmu Keolahragaan pada Jurusan Pendidikan Olahraga FKIP Universitas Syiah Kuala.
Di balik kesibukannya sebagai akademisi, Prof Nyak Amir juga dikenal sebagai sosok keluarga.
Pada 24 Agustus 2001, ia menikahi Luci Indrayanti SH, perempuan asal Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Dari pernikahan itu, keduanya dikaruniai empat orang anak, yakni Muhammad Suthan Nyak Arief, Shifa Amelia, Muhammad Rajama Raja Arief, dan Muhammad Raja Salman Nyak Arief.
Meski telah mencapai berbagai prestasi dan kini dipercaya memimpin Universitas Teuku Umar, Prof Nyak Amir tetap meyakini bahwa setiap keberhasilan tidak pernah lahir dari usaha seorang diri.
Ia selalu mengingat jasa orang tua, keluarga, para tengku, guru, dosen, rekan, dan sahabat yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Baginya, doa dan restu orang tua merupakan fondasi utama yang mengiringi setiap langkah, membuka jalan rezeki, serta menghadirkan keberkahan dalam kehidupan.
Filosofi itulah yang terus dipegang hingga mengantarkannya dari seorang anak kampung di Panton Labu menjadi pemimpin salah satu perguruan tinggi negeri di Aceh.
(Serambinews.com/Agus Ramadhan)