UPDATE Lansia Meninggal Tak Wajar di Surabaya Barat, Ada Luka Lebam dan Potongan Selotip
Titis Jati Permata June 26, 2026 08:32 AM

 

SURYA.co.id, SURABAYA - Seorang nenek berinisial WI (69) ditemukan meninggal dunia diduga dalam kondisi tak wajar di dalam rumahnya kawasan Jalan Candi Lontar, Lakarsantri, Surabaya Jawa Timur,pada Selasa (23/6/2026) sore. 

Selain karena tubuhnya ditemukan dalam keadaan tanpa busana dengan kondisi tertelungkup, terdapat bekas luka mencurigakan pada beberapa bagian tubuh. 

Contohnya, pada kedua pergelangan tangan korban, terdapat bekas luka bakar berukuran kecil.

Kemudian, pada kulit wajah korban, tampak berwarna kehitaman seperti memar. 

Bukan cuma karena terdapat sejumlah luka mencurigakan diduga akibat tindak pidana pada tubuh korban, beberapa benda pribadi korban juga hilang, seperti dompet dan ponsel pribadi. 

Ditemukan Anak Pertama

Menurut Ketua RT 03, RW 07, Lontar, Sambikerep, Surabaya, Khoirul Anam (45), saksi pertama kali melihat kondisi korban tergeletak tak sadarkan diri adalah anak pertama korban berinisial AK. 

Saksi AK sepulang kerja mendapati kondisi pagar dan pintu rumah dalam keadaan tertutup, dan kondisi lampu penerangan teras depan serata ruang tamu rumah, padam, pukul 17.00 WIB. 

Melihat kondisi rumah dalam keadaan gelap gulita,

Saksi AK mengira bahwa ibundanya sedang bepergian dengan adik kedua berinisial SI. 

Namun, perkiraan tersebut meleset setelah Saksi AK menelepon sang adik Saksi SI mengenai keberadaan sang ibunda. 

Baca juga: Breaking News: Nenek di Surabaya Ditemukan Meninggal Tak Wajar dalam Rumah

Ternyata Saksi SI sedang berada di tempat kerja, dan tidak sedang bepergian dengan sang ibunda. 

Merasa janggal dengan informasi tersebut, Saksi AK langsung membuka pintu pagar dan pintu rumah, 'bak tersambar petir di siang bolong', ternyata sang ibunda tak sadarkan diri di dalam rumah. 

"Pas pintu dibuka, sudah lihat jenazah. Versi dia pintu tertutup, karena kalau terbuka dia pasti sudah tahu kalau ibuknya begitu," ujarnya saat ditemui SURYA.co.id di Tandes Sabaya, pada Kamis (25/6/2026). 

Lokasi tempat tubuh korban tergeletak, menurut Khoirul Anam, berada di akses jalan antara ruang tamu dan ruang tengah rumah.

Bagian tubuh kaki berada di sisi ruang tamu, sedangkan tubuh bagian atas berada di sisi ruang tengah.

Posisinya tertelungkup, dalam keadaan tanpa busana atau kain penutup sama sekali.

Kedua tangannya berada di kedua sisi kepala, sedangkan kedua lutut kaki tampak saling menyilang.

Setahu Khoirul, kedua pergelangan tangan korban terluka berpola melingkar, sedangkan bagian wajah terdapat luka memar.

"Tangannya, lukanya melingkar keduanya, tertulungkup, tangan di dekat telinga. Kaki keduanya kayak nyilang," katanya.

Tim Inafis Polrestabes Surabaya Olah TKP

Khoirul menambahkan, pihaknya sempat mendatangkan salah satu warga yang bertugas sebagai petugas medis di puskesmas terdekat.

Ternyata, petugas medis tersebut tidak berani menyentuh korban karena terdapat beberapa luka secara kasat mata yang terbilang janggal.

Sehingga, pihaknya menghubungi Command Center 112 untuk dilanjutkan laporannya ke Markas Kepolisian setempat.

Lalu, Tim Inafis Polrestabes Surabaya tiba di lokasi untuk melakukan olah TKP.

Selanjutnya, jenazah diautopsi dan visum di RS Bhayangkara Surabaya, hingga rampung pukul 05.00 WIB, Rabu (24/6/2026).

Rumah Tak Berantakan

Menurut Khoirul, sejauh mata memandang secara kasat mata, dirinya tak mendapati adanya kejanggalan di dalam rumah tersebut. Terutama pada tata letak rumah, ornamen dan perabotan di dalam rumah. 

Seingatnya, tidak ada benda yang tampak rusak atau berserakan akibat upaya paksaan.

Bahkan, terdapat sepiring sisa makanan lontong mi yang diduga kuat sempat dimakan oleh korban.

Lontong mi tersebut diduga dibeli korban sejak pagi hari dari pedagang lontong mi keliling yang biasa melintasi depan rumah.

Namun, Khoirul tak menampik, berdasarkan informasi yang diketahuinya, ternyata terdapat benda pribadi milik korban yang dikabarkan masih hilang. Yakni ponsel Android dan dompet berisi KTP korban.

"Saya masuk awal gak ada barang jatuh, pecah rusak, atau bergeser atau berserakan. Ada piring, masih ada kuwahnya, habis makan lontong mi. Gak ada benda yang jatuh. Secara kasat mata, wajar semua," ungkapnya. 

Potongan Selotip Tertinggal

Selain itu, Khoirul mengungkapkan, terdapat benda mencurigakan yang tertinggal di dekat jenazah korban tergeletak.

Yakni, sebuah potongan selotip lakban berukuran panjang sejengkal tangan orang dewasa. 

Benda tersebut teronggok di lantai dekat jenazah, kondisinya; pada bagian perekat terdapat beberapa helai rambut tercerabut. 

"Kayak lakban bekas pakai, sudah sobek, itu nempel rambut. Ukuran panjang seperti panjang ponsel. Diduga untuk membungkam biar gak teriak," jelasnya. 

Tinggal Bersama Anak dan Cucu

Lantas, bersama siapa korban tinggal di rumah itu. Khoirul mengungkapkan, korban tinggal bersama kedua anak perempuannya, yakni Saksi AK dan SI. 

Saksi AK belum berkeluarga, sedangkan SI sudah berkeluarga meskipun telah berpisah dengan sang suami sejak dua tahun lalu. 

Namun, kesehariannya, kedua anak korban bekerja, berangkat pagi sekitar pukul 08.00 WIB dan baru pulang sekitar pukul 17.00 WIB. 

Kedua anak Saksi SI yang berusia 12 tahun dan enam tahun, terkadang dirawat oleh korban. 

Nah, sementara waktu, karena liburan sekolah, pada hari kejadian tersebut kedua anak Saksi SI sudah minta diantar ke rumah temannya untuk bermain. 

Sehingga, pada momen pagi hingga sore hari, korban dalam keadaan sendirian di rumah tersebut. 

"Kebetulan saat ini sedang libur sekolah, jadi cucunya minta main ke temannya. Mereka balik ketika setelah tahu," terangnya. 

Dikenal Baik dan Santun

Mengenai kebiasaan korban sehari-hari, Khoirul tak menampik bahwa korban dikenal sebagai pribadi yang baik dan santun. 


Bahkan, selama ini dikenal sebagai salah satu warga yang aktif kegiatan para ibu-ibu di permukiman tersebut. Seperti kegiatan ibu PKK. 


Selain itu, korban juga tidak pernah tampak terlibat pertengkaran apa pun dengan kedua anaknya atau para tetangga. 


"Warga sepuh di sana. Aktif di PKK juga ikut. Kemarin, acara makan-makan juga ikut. Tapi kalau kedua anaknya jarang," katanya. 


Namun, kesehariannya lebih banyak berada di dalam rumah.

Terkadang, korban memang keluar rumah berjalan untuk berbelanja pada pagi hari.

Sekaligus berjemur menghangatkan tubuh di bawah terik sinar matahari. 

"Beliau duduk-duduk aja istirahat aja. (Soal kunjungan tamu) itu yang hari itu kami engga tahu, di hari itu apakah ada orang. Selama ini gak ada yang sering-sering datang ke rumah. 

Tetangga Lihat Korban Keluar Rumah

Bahkan, beberapa tetangga sempat melihat korban berjalan kali keluar rumah menuju ke toko kelontong terdekat untuk membeli telur. 

Sejumlah saksi melihat momen tersebut pada pagi hari, saat di rumah tersebut masih terdapat kedua anak dan cucu korban. 

"Tetangga lihat dia beli telur, selasa pagi, jam 8 atau 7. Masih ada cucunya. Ya saat momen orang-orang pergi ke pasar. Artinya sempat keluar," jelasnya. 

Terlepas dari itu semua, Khoirul berharap pihak Kepolisian dapat segera mengungkap secara terang benderang penyebab kematian korban yang merupakan salah satu warganya. 

"Memang dari awal sudah sepakat, saat ditanya oleh tim IRC, sepakat melanjutkan mengungkapkan penyebab meninggal, apa hasil akhirnya semoga yang terbaik. Iya dipasrahkan ke Polisi semoga terungkap terang benderang," pungkasnya. 

 

Pantauan SURYA.co.id di rumah korban, terpantau tenda terpasang tepat di jalanan depan rumah korban.

Lalu, tampak deretan kursi plastik warna hijau berjajar di bahu jalan seberang teras rumah. 

Rumah tersebut tampak lengang, kondisi pintu rumah tertutup rapat.

Tapi pagar berbahan besi di teras tampak terbuka lebar.

Dan tampak pula deretan barang perabotan rumah menumpuk di pinggiran teras. 

Anak kedua korban SI tampak keluar dari rumah dan menyampaikan pihaknya enggan menyampaikan banyak hal terkait kejadian yang dialami sang ibunda. 

Karena, segala sesuatunya sudah diserahkan kepada pihak Kepolisian. 

"Langsung ke polisi aja kalau tanya tanya, mohon maaf," ujarnya saat ditemui SURYA.co.id di depan rumah, pada Kamis (25/6/2026) siang. 

Sementara itu, Kapolsek Lakarsantri Polrestabes Surabaya Kompol Imam Solikin mengatakan, kasus tersebut masih diselidiki oleh personelnya serta perbantuan Satreskrim Polrestabes Surabaya. 

"Perkara di-backup Satreskrim Polrestabes Surabaya," ujarnya saat dihubungi SURYA.co.id, Kamis (25/6/2026).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.