Piala Dunia FIFA: Pelatih Pantai Gading Emerse Faé Kritik Komentar 'Rasis' Bastian Schweinsteiger
Aurora Nightingale June 26, 2026 10:58 AM

Pelatih kepala tim nasional Pantai Gading, Emerse Faé, menanggapi dengan keras pernyataan mantan gelandang Jerman, Bastian Schweinsteiger, yang dituding menggunakan stereotip kuno terkait ras dalam menggambarkan tim-tim sepak bola Afrika di ajang Piala Dunia FIFA yang sedang berlangsung.

Kontroversi ini mencuat setelah Schweinsteiger, dalam siaran televisi Jerman ARD sebelum laga fase grup antara Jerman dan Pantai Gading, memberikan peringatan kepada penonton tentang apa yang diharapkan dari tim kuat asal Afrika Barat tersebut.

Dalam analisis pra-pertandingannya, peraih gelar juara Piala Dunia 2014 itu berkata, “Sepak bola Afrika itu sedikit berbeda, agak tidak ortodoks, agak liar, dan mungkin tidak terlalu terlatih secara taktis. Kita harus siap menghadapi ketidakpastian itu.”

“Kecewa terhadap sosoknya”

Faé menanggapi isu tersebut di momen yang sangat tepat. Pada hari Kamis, ia memimpin Pantai Gading meraih kemenangan meyakinkan 2-0 atas Curaçao, yang memastikan tim berjuluk “Gajah” itu lolos ke babak gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka.

Berbicara setelah pencapaian bersejarah tersebut, Faé menyatakan bahwa ia berharap komentar tersebut hanyalah bentuk ungkapan yang kurang tepat, namun tetap menegaskan perlunya menyoroti prasangka yang terkandung di dalamnya.

“Kita bisa menyebutnya rasis jika kita mau bicara apa adanya,” ujar Faé kepada para wartawan. “Ketika saya mendengar komentarnya, saya merasa kecewa. Kecewa terhadap sosoknya. Aneh dia berbicara seperti itu. Saya jadi bertanya-tanya apakah dia hanya ingin menciptakan sensasi untuk karier penyiarannya.”

Menimbulkan kecaman luas

Faé menekankan bahwa timnya mengandalkan kecerdasan taktis yang tinggi, perencanaan matang, serta disiplin strategi yang cerdas untuk meraih kemenangan — bukan sekadar kekuatan fisik yang mentah dan tak terkoordinasi.

Pernyataan Schweinsteiger itu telah menuai kritik keras di Jerman karena dianggap memperkuat stereotip era kolonial. Analis media Patrick Schnitzler menyoroti komentar tersebut di Instagram sebagai contoh “prasangka rasial yang tanpa sadar terus kita wariskan.”

Dalam tulisan di majalah Der Spiegel, jurnalis terkemuka Philipp Awounou menilai bahwa meskipun ia tidak percaya mantan bintang Bayern München itu bermaksud jahat, bahasanya tetap memperkuat pandangan keliru dari masa kolonial yang menggambarkan atlet Afrika sebagai sosok yang kacau atau kurang memiliki disiplin mental.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.