Sadewo Banggakan Banyumas Pengekspor Terbesar Gula Kelapa, Berharap Bantuan
khoirul muzaki June 26, 2026 11:07 AM

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Kabupaten Banyumas menuju sentra produksi gula semut dunia. 


Tak hanya menargetkan menjadi pusat kawasan ekspor gula kelapa nasional, Banyumas juga mengusulkan pembangunan laboratorium pengujian gula senilai sekitar Rp8 miliar.


Hal ini dinilai menjadi kebutuhan mendesak memperkuat daya saing produk ekspor.


Usulan tersebut mendapat respons positif dari Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin saat Launching Pilot Project Ekosistem Pemberdayaan Masyarakat Terintegrasi Berbasis Kawasan Ekspor di kawasan wisata Pereng, Desa Cilongok, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Kamis (25/6/2026).

 

Pihaknya akan mengupayakan skema pendanaan agar laboratorium tersebut terbangun.


Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, mengatakan Kabupaten Banyumas memiliki potensi yang sangat besar dalam industri gula kelapa. 


Bahkan, menurutnya, masih banyak pihak, termasuk di tingkat kementerian, yang belum mengetahui sekitar 90 persen kebutuhan gula semut dunia dipasok dari Indonesia.


"Dari jumlah itu, sekitar 80 persennya berasal dari Banyumas dan pusatnya ada di Cilongok," ujar Sadewo. 


Ia menilai capaian tersebut menjadi modal besar menjadikan Banyumas sebagai pusat pengembangan kawasan ekspor gula kelapa di Indonesia.


Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan komoditas kelapa, Banyumas juga memperoleh bantuan sebanyak 10.000 bibit kelapa genjah Bali dari Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.


Untuk mendukung program tersebut, diperkirakan dibutuhkan lahan seluas sekitar 625 hektare.


Saat ini, gula semut asal Banyumas telah diekspor ke berbagai negara, mulai dari Rusia, sejumlah negara di Eropa, hingga kawasan Timur Tengah.


Karena itu, Pemerintah Kabupaten Banyumas menyambut baik rencana pengembangan kawasan ekspor gula kelapa sebagai upaya memperkuat posisi Banyumas sebagai sentra gula semut dunia.


Terkendala Laboratorium Pengujian


Di balik besarnya potensi tersebut, Sadewo mengungkapkan masih terdapat kendala yang dihadapi pelaku usaha gula kelapa, terutama dalam proses pengujian kualitas produk.


Hingga kini Banyumas belum memiliki laboratorium yang mampu memastikan apakah gula semut yang diproduksi benar-benar bebas dari kandungan gula rafinasi. 


Sedangkan bebas rafinasi adalah sebagai syarat mendapat sertifikasi organik. 


Rantai produksi gula kelapa melibatkan banyak pihak, mulai dari penderes, perajin, pengepul kecil hingga eksportir.


Sadewo mencontohkan, pernah terjadi kasus ketika produk gula semut yang telah dikirim ke luar negeri dinyatakan mengandung gula rafinasi setelah dilakukan pengujian di negara tujuan dan kehilangan sertifikat organik. 


Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena laboratorium pengujian yang memenuhi standar ekspor masih berada di Eropa.


"Kalau Banyumas memiliki laboratorium sendiri, setiap hari bisa menguji sekitar 10 sampai 20 sampel gula," katanya.


Saat ini, biaya pengujian satu sampel gula mencapai sekitar Rp2,5 juta.


Di Jawa Tengah sendiri terdapat sekitar 30 perusahaan eksportir gula kelapa yang mengekspor produknya ke 56 negara.


Karena itu, Pemerintah Kabupaten Banyumas berharap mendapat dukungan pemerintah pusat untuk membangun laboratorium pengujian gula dengan nilai investasi peralatan sekitar Rp8 miliar.


Menurut Sadewo, laboratorium tersebut nantinya dapat dikelola oleh Dinas Perdagangan Kabupaten Banyumas.


Selain meningkatkan daya saing produk ekspor, keberadaan laboratorium juga dinilai berpotensi menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.