Dokter Spesialis Sunway Medical Centre Penang Ingatkan Penyakit Jantung Bisa Muncul Tanpa Gejala
Ayu Prasandi June 26, 2026 12:27 PM

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Penyakit jantung koroner tidak selalu diawali dengan nyeri dada hebat. Bahkan, kondisi tersebut dapat berkembang selama 10 hingga 15 tahun tanpa menimbulkan gejala yang disadari penderitanya.

Hal itu disampaikan Konsultan Penyakit Dalam sekaligus Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Sunway Medical Centre Penang, Dr. Zubin Othman bin Ibrahim, dalam program Cakap-cakap Kesehatan Tribun Medan.

Menurutnya, penyakit jantung koroner terjadi akibat penyumbatan pada pembuluh darah koroner yang bertugas menyuplai oksigen ke otot jantung.

“Masalah salur darah koroner ini boleh tersumbat secara tiba-tiba ataupun secara kronik. Kalau tersumbat tiba-tiba karena darah membeku, itulah yang menyebabkan serangan jantung. Kalau kronik, biasanya muncul sebagai nyeri dada ketika beraktivitas,” ujarnya.

Dr. Zubin menjelaskan, banyak masyarakat menganggap sakit jantung dan serangan jantung sebagai kondisi yang sama, padahal keduanya berbeda.

Ia mengatakan, penyakit jantung mencakup berbagai gangguan, mulai dari penyakit jantung koroner, gangguan katup jantung, gangguan irama jantung, hingga otot jantung yang melemah.

“Lebih kurang 50 persen masalah jantung adalah penyakit jantung koroner. Inilah yang paling sering menyebabkan nyeri dada ataupun serangan jantung,” katanya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan perubahan kecil pada kondisi tubuh.

Gejala yang patut diwaspadai antara lain nyeri dada, dada terasa berat seperti tertindih, nyeri yang menjalar ke leher atau lengan, mudah lelah saat beraktivitas, sesak napas, keringat dingin, hingga rasa ingin pingsan.

Menurutnya, keluhan tersebut sering kali disalahartikan sebagai gangguan lambung, stres, atau sekadar faktor usia.

“Kadang-kadang sakit jantung hampir sama dengan gastrik atau refluks. Ada orang diperiksa lambung, padahal sebenarnya masalahnya di jantung,” ujarnya.

Selain keluhan nyeri dada, penurunan kemampuan fisik juga dapat menjadi tanda awal.

Ia mencontohkan seseorang yang biasanya mampu berlari 10 kilometer atau naik tangga tanpa masalah, namun dalam beberapa minggu terakhir menjadi cepat lelah dan sesak.

“Itu perubahan yang harus diperhatikan. Kita harus tahu apa yang normal bagi tubuh kita dan apa yang sudah tidak normal,” katanya.

Dr. Zubin menegaskan penyakit jantung dapat berkembang diam-diam selama bertahun-tahun.

“Salur darah mungkin sudah mulai sempit sejak umur 25 atau 30 tahun, tetapi gejalanya baru muncul 10 hingga 15 tahun kemudian,” ujarnya.

Karena itu, ia menganjurkan pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama bagi pria berusia di atas 40 tahun dan wanita usia 45 hingga 50 tahun.

Pemeriksaan dasar yang disarankan meliputi pengecekan tekanan darah, gula darah, kolesterol, rekam jantung (EKG), hingga foto rontgen dada.

Sementara bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga penyakit jantung atau kolesterol tinggi, pemeriksaan sebaiknya dilakukan lebih awal.

Dr. Zubin juga menyoroti meningkatnya kasus penyakit jantung pada usia produktif yang dipicu gaya hidup tidak aktif.

Menurutnya, kebiasaan kurang bergerak, obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, serta kolesterol tinggi menjadi faktor risiko utama.

“Masalah utamanya adalah gaya hidup. Gaya hidup sedentari, kurang olahraga, obesitas, diabetes, dan darah tinggi semuanya berkaitan langsung dengan penyakit jantung,” katanya.

Ia menambahkan diabetes memiliki hubungan yang sangat kuat dengan penyakit jantung koroner.

Penderita diabetes yang kadar gula darahnya tidak terkontrol memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyumbatan pembuluh darah maupun serangan jantung.

“Kalau diabetes sudah lama tidak terkontrol, kemungkinan salur darah tersumbat menjadi lebih tinggi,” ujarnya.

Sebagai langkah pencegahan, Dr. Zubin mengingatkan masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat, rutin berolahraga, menjaga pola makan, melakukan pemeriksaan kesehatan setelah memasuki usia berisiko, serta mematuhi pengobatan apabila telah didiagnosis menderita penyakit jantung.

“Banyak orang lebih takut kepada dokter dan obat daripada penyakitnya sendiri. Padahal kalau sudah didiagnosis, teruskan pengobatan dan kontrol berkala agar penyakit tidak menjadi lebih berat,” katanya.

(cr26/tribun-medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.