SURYAMALANG.COM, BANGKALAN - Suasana duka mendalam menyelimuti ruang Sekretariat Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan, Jawa Timur menyusul kepergian mendadak sang Sekretaris Dinas, Ruly Yunis Setiawati (50).
Almarhumah ditemukan meninggal dunia di dalam mobil dinasnya yang terparkir di area Bandara Juanda, Sidoarjo, pada Rabu (24/6/2026) siang.
Kepergian sosok yang dikenal selalu datang paling awal ke kantor ini meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi seluruh jajaran staf dan rekan kerjanya.
Di ruang Sekretariat Dinas PRKP Pemkab Bangkalan pada Jumat (26/6/2026) pukul 07.30 WIB, terpantau tiga orang staf almarhumah Ruly duduk berjejer di meja kerja.
Sementara itu, satu staf lainnya terlihat duduk terpisah dengan jarak yang lebih jauh dari ruang kerja almarhumah.
"Biasanya jam segini (almarhumah) sudah datang, beliau selalu datang lebih dulu dari staf-stafnya," ungkap staf Sekretariat Dinas PRKP Pemkab Bangkalan, Grecia Virna Handayani, yang saat itu didampingi dua rekan kerjanya.
Baca juga: Temuan Jasad Wanita di Bilik Kos Sawahan Surabaya Pintu Digembok dari Luar, Perhiasan Masih Utuh
Berdasarkan pantauan di lokasi, ruang kerja almarhumah Ruly berlokasi di sudut terjauh pojok kanan dari pintu masuk Ruang Sekretariat Dinas PRKP Pemkab Bangkalan.
Selain beberapa perlengkapan kerja, di kursinya masih tertinggal sebuah bantal kecil berwarna merah yang biasa digunakannya untuk sandaran.
Sementara itu, kondisi di meja kerjanya kini sudah tampak bersih dari alat tulis kantor ataupun lembar-lembar kertas kerja.
Grecia menjelaskan, almarhumah Ruly pada pekan sebelumnya, tepatnya Sabtu (13/6/2026) pukul 09.00 WIB, masih sempat mengirimkan pesan chat di grup WhatsApp kantor.
Pesan tersebut mengabarkan bahwa almarhumah akan mewakili kepala dinas dalam rapat kepegawaian yang digelar pada Senin (15/6/2026).
"Almarhumah sosok yang supel, sering guyon, dan perhatian sekali terhadap para stafnya. Kami merasa kehilangan banget atas kepergian selamanya Ibu Ruly, terakhir bertemu di kantor Hari Senin (15/6/2026)," pungkas Grecia dengan nada sedih.
Duka mendalam yang sama juga tergambar jelas dalam diri Kepala Dinas PRKP Pemkab Bangkalan, Roniyun Hamid, saat dirinya mengecek langsung suasana ruang sekretariat hingga ruang kerja almarhumah Ruly.
Baca juga: Pejabat Bangkalan Tewas di Juanda Tidak Hamil, Polisi Buru Pria Rambut Tipis Berkulit Putih
"Bu Ruly Hari Rabu (17/6/2026) masih masuk kerja, cuma e-presensinya error, penuh, sehingga tidak bisa absen," ungkap Roniyun.
Sebagai informasi, E-Presensi ASN adalah aplikasi digital yang digunakan instansi pemerintah untuk mencatat dan mengelola kehadiran aparatur sipil negara secara elektronik.
Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan kedisplinan yang terintegrasi langsung dengan perhitungan Tunjangan Penghasilan Pegawai (TPP).
Roniyun menjelaskan, sama sekali tidak ada firasat apa pun yang ditunjukkan oleh almarhumah Ruly dalam beberapa hari sebelum dirinya ditemukan meninggal dunia di dalam mobil dinas PRKP tersebut.
Rutinitas almarhumah berjalan normal seperti biasa, yakni mengobrol seputar persoalan pekerjaan dan menyelesaikan tugas sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.
"Namun beberapa hari terakhir, almarhumah sempat cerita bahwa ibunya sakit dan sering mendampingi, saya memaklumi. Bu Ruly sosok yang bertanggung jawab, cekatan, mengerjakan cepat dan sesuai jadwal. Ketika saya berhalangan, Bu Ruly selalu siap hadir mewakili," jelas Roniyun.
Baca juga: Pamit ke Pujon Malang, Pejabat Bangkalan yang Tewas di Juanda Sempat Titip Pesan Terakhir ke Anak
Meski tercatat baru sekitar 1,5 tahun berdinas di lingkungan Dinas PRKP, lanjut Roniyun, almarhumah Ruly memang dikenal luas sebagai sosok yang sangat perhatian, baik terhadap rekan sesama kerja maupun kepada semua staf yang ada di lingkungan Dinas PRKP Bangkalan.
"Rabu (17/6/2026) menelpon ke stafnya untuk dibelikan 3 Kg telur, disumbangkan ke acara makan-makan" ungkapnya.
"Kebetulan ada teman kerja di sini punya tambak dan panen udang, Bu Ruly pesan telur khawatir ada staf yang tidak suka udang, perhatian sama teman-teman kerja," pungkas Roniyun mengenang kebaikan almarhumah.
Kepergian almarhumah juga meninggalkan duka mendalam bagi lingkungan rumah, serta keluarga besar Risang Bima Wijaya.
Selain bertindak sebagai kuasa hukum keluarga, Risang mengaku memiliki hubungan yang sangat dekat dengan almarhumah.
"Saya bersama istri, dengan suami dan almarhumah Mbak Ruly sudah seperti saudara, sosok almarhumah sangat baik. Di lingkungan keluarga sangat baik. Begitu juga dengan saudara-saudaranya, dengan tetangga dan lingkungan kerja juga sangat baik, tidak ada konflik," ungkap Risang, Rabu (24/6/2026) malam.
Baca juga: Wajah Sopir Diduga Bawa Jasad Pejabat Bangkalan ke Juanda Terekam Jelas di Pujon Malang
Risang menambahkan, almarhumah yang merupakan warga Peruma Lavebder/ Perumda, Kelurahan Mlajah, Kota Bangkalan ini meninggalkan satu anak.
Meski rumah tinggalnya berada di Perum Lavender, namun keluarga besar memutuskan untuk menempatkan rumah duka di Perumda.
Sebelum ditemukan meninggal dunia, almarhumah sempat dilaporkan hilang kontak.
Berdasarkan penelusuran SURYAMALANG.COM kepada sejumlah rekan kerjanya, Ibu Ruly disebutkan sudah tidak masuk kantor dan saluran chat WA miliknya sudah tidak aktif atau hanya bercentang satu sejak Senin (22/6/2026).
Namun, mundur beberapa hari sebelumnya, Bupati Bangkalan Lukman Hakim ketika dikonfirmasi menyampaikan masih mendapati almarhumah hadir di Pendapa Agung dalam kesempatan acara pisah sambut Dandim 0829 pada Rabu (18/6/2026) malam.
Mengenai kontak terakhir dengan keluarga, Risang memaparkan bahwa almarhumah masih sempat berkomunikasi via sambungan video call WA dengan adik korban pada Jumat (20/6/2026) malam.
Baca juga: 2 Kemungkinan di Balik Tewasnya Pejabat Bangkalan di Juanda: Jasad Direbahkan, Perhiasan Hilang
Bahkan keesokan harinya, Sabtu (21/6/2026) pagi, Ibu Ruly disebut masih menjalin komunikasi dengan suaminya.
"Hilang kontak mulai Sabtu siang, Sabtu paginya masih kontak dengan suami. Ketika video call dengan adiknya, korban diketahui masih menggunakan perhiasan kalung dan gelang. Sebelum autopsi tidak ada di leher dan di tangan, tetapi belum tentu hilang atau belum tentu diambil," pungkas Risang.