Kekhawatiran bahwa Piala Dunia 2026 tidak akan memberikan dampak signifikan bagi sektor pariwisata Kota New York terpatahkan. Lonjakan pemesanan hotel mulai terasa dan membuat tingkat hunian hotel di kota tersebut hampir melampaui 90%.
Pengawas Keuangan Kota New York, Mark Levine, sempat menyampaikan kekecewaannya di media sosial bahwa jumlah wisatawan yang datang masih jauh di bawah proyeksi FIFA.
"Jumlah pemesanan hotel di sini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jumlah penumpang yang tiba melalui Bandara JFK juga menurun dibandingkan tahun lalu," kata Levine, seperti dikutip dari , Jumat (26/6/2026).
"FIFA memproyeksikan akan ada 1,2 juta pengunjung ke New York dan New Jersey. Kita mungkin beruntung jika bisa mencapai sepertiga dari jumlah itu. Ini sangat mengecewakan," dia menambahkan.
Namun, data terbaru menunjukkan kondisi berbeda. Perusahaan analisis properti komersial, CoStar, menyebut tingkat okupansi hotel di New York melonjak hingga lebih dari 90%, menjadi yang tertinggi di antara seluruh kota tuan rumah Piala Dunia 2026.
melaporkan hampir seperempat kamar hotel dipesan pada pekan penyelenggaraan pertandingan pembuka yang berlangsung Sabtu, 13 Juni. Tarif rata-rata kamar hotel juga naik 38% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Hampir seperempat kamar hotel dipesan pada pekan pertandingan yang digelar Sabtu, 13 Juni," tulis .
Kenaikan okupansi dan tarif kamar itu memperkuat keyakinan pelaku industri pariwisata bahwa lonjakan pemesanan pada saat-saat terakhir mampu mengubah prediksi perlambatan ekonomi menjadi peluang pertumbuhan.
Data CoStar juga menunjukkan pada laga pembuka yang mempertemukan Brasil melawan Maroko di MetLife Stadium, tingkat hunian hotel di New York mencapai 88,6%. Rata-rata tarif kamar saat itu tercatat sebesar USD 406,01 (Rp 7,3 juta) per malam.
Tiga hari kemudian, saat Prancis menghadapi Senegal di stadion yang sama di East Rutherford, New Jersey, tingkat okupansi hotel meningkat menjadi 90,5%. Tarif rata-rata kamar juga naik menjadi USD 458,64 (Rp 8,25 juta) per malam.
Secara keseluruhan, Bank of America memperkirakan Piala Dunia FIFA 2026 akan menyumbang sekitar USD 45 miliar (Rp 808 triliun) terhadap produk domestik bruto (PDB) global. Dari jumlah tersebut, sekitar USD 19 miliar (Rp 341 triliun) diproyeksikan berasal dari Amerika Serikat.
Selain itu, ajang akbar sepakbola itu juga diperkirakan akan mendorong belanja konsumen di Amerika Serikat hingga mencapai USD 32 miliar (Rp 575 triliun). sebelumnya juga melaporkan bahwa dampak ekonomi Piala Dunia 2026 berpotensi melampaui nilai ekonomi yang dihasilkan dari rangkaian konser Taylor Swift yang memecahkan berbagai rekor.





