TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan Amerika Serikat akan segera membeli gandum, kedelai, dan jagung dari petani Amerika, menggunakan aset Iran yang dibekukan di bawah sanksi AS.
Trump mengatakan AS mampu dengan cepat melenyapkan kemampuan militer Iran.
"Kami memiliki pasar baru yang akan segera hadir, dan itu disebut negara Iran yang indah," kata Trump di Gedung Putih, Kamis (25/6/2026).
"Itu tempat yang indah. Apakah ada yang ingin pergi ke sana? Republik Islam Iran. Mereka sedang mengalami kesulitan pangan, dan kita akan mengambil sebagian uang mereka dan kita akan membelanjakannya, dan kita akan membeli gandum, kedelai, dan jagung, dalam jumlah besar, dan proses itu akan segera dimulai. Ini akan menjadi proyek yang cukup besar," tambahnya, lapor Anadolu Agency.
Sebagai tanggapan, Kepala Negosiator Iran, Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan klaim AS, Teheran akan menggunakan aset yang dicairkan untuk membeli produk pertanian Amerika adalah tidak benar.
“Amerika secara keliru mengklaim bahwa dana yang akan dikeluarkan akan digunakan untuk membeli produk pertaniannya. Sungguh aneh! Satu-satunya hasil yang kita tuai adalah apa yang telah kalian tabur selama bertahun-tahun: puluhan tahun ketidakpercayaan!” tulis Mohammad Bagher Ghalibaf dalam unggahan di platform X, Kamis (25/6/2026).
"Amerika tidak mengekspor apa pun selain kedelai hasil rekayasa genetika, janji-janji yang tidak ditepati, dan pernyataan-pernyataan kosong," lanjutnya.
Sementara itu, Gubernur Bank Sentral Iran, Abdolnaser Hemmati, pada Selasa (23/6/2026) membantah keabsahan pengumuman yang dikeluarkan oleh Presiden AS Donald Trump, yang menyatakan perjanjian tersebut mewajibkan Iran untuk mengeluarkan uang untuk ekspor ke AS.
Abdolnaser Hemmati menegaskan dana awal sebesar 12 miliar dolar AS yang dikeluarkan akan digunakan untuk membeli barang-barang kebutuhan pokok dan obat-obatan.
Baca juga: IRGC Tolak Jalur Baru Selat Hormuz, Oman Klaim Sesuai Hukum Internasional, Perdamaian AS-Iran Diuji
Ia menambahkan, hal ini akan memungkinkan Teheran untuk menggunakan uang biasa mereka untuk hal-hal lain.
Pada hari Rabu, Menteri Keuangan AS Scott Bisent mengulangi pernyataan Presiden Donald Trump bahwa sebagian besar aset Iran yang akan dicairkan akan digunakan untuk membeli makanan dan obat-obatan Amerika.
Sebelumnya, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan kepada wartawan dalam sebuah konferensi pada hari Senin bahwa aset Iran yang dibekukan yang akan dilepaskan akan digunakan untuk membeli kedelai, jagung, dan gandum Amerika demi kesejahteraan rakyat Iran.
Berdasarkan isi nota kesepahaman 14 poin yang ditandatangani pekan lalu, Amerika Serikat berjanji untuk menyediakan penggunaan penuh dana dan aset yang dibekukan atau dibatasi yang terkait dengan Republik Islam Iran.
Selain itu, AS akan mengakhiri semua jenis sanksi terhadap Republik Islam Iran, termasuk resolusi Dewan Keamanan PBB, lapor Al Arabiya.
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari 2026 setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis Iran menyusul gagalnya perundingan nuklir yang berlangsung di Jenewa.
Amerika Serikat dan Israel menuduh Iran tengah mengembangkan senjata nuklir. Namun, Teheran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya semata-mata ditujukan untuk kepentingan damai dan sipil.
Ketegangan di kawasan semakin meningkat setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Sebagai balasan atas serangan tersebut, Iran melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia.
Selain itu, Teheran juga memperketat pengawasan dan kontrol terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Konflik semakin meluas ketika Hizbullah membuka front pertempuran baru dari Lebanon. Israel kemudian merespons dengan melancarkan serangan udara ke Beirut serta sejumlah wilayah di Lebanon selatan.
Setelah sekitar 40 hari pertempuran, upaya mediasi yang dipimpin Pakistan berhasil menghasilkan kesepakatan gencatan senjata sementara pada 8 April 2026. Kesepakatan tersebut sekaligus membuka kembali jalur diplomatik antara Washington dan Teheran.
Perundingan kemudian berlanjut hingga kedua negara mencapai kesepakatan dan secara terpisah menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni 2026.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani salinan dokumen tersebut saat menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Prancis di Paris. Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani dokumen yang sama di Teheran.
Al Jazeera melaporkan Organisasi Maritim Internasional (IMO) PBB menangguhkan rencana evakuasi kapal setelah sebuah kapal berbendera Singapura diserang di Selat Hormuz.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pasukannya tetap bertahan di Lebanon selatan meski telah tercapai kesepakatan AS-Iran.
Di Bahrain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Washington dan negara-negara Teluk menolak segala bentuk pembatasan Iran di Selat Hormuz.
Sebaliknya, Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan tidak akan mengizinkan lalu lintas kapal tanpa persetujuan Teheran melalui selat tersebut.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)