TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN – Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Semarang tahun anggaran 2025 belum mampu memenuhi target.
Berdasarkan Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2025, PAD terealisasi sebesar Rp740,83 miliar atau 99,02 persen dari target Rp748,11 miliar.
Bupati Semarang, Ngesti Nugraha mengatakan, masih ada sejumlah sektor yang belum memenuhi target pendapatan sehingga akan menjadi bahan evaluasi pemerintah daerah dan digenjot pada 2026 ini.
Beberapa di antaranya adalah sektor parkir, pariwisata, hingga pajak hotel.
Baca juga: Awas Narkoba dan Judol, Bupati Ngesti Minta Karang Taruna Aktif Sosialisasi
"Kalau PAD memang tidak bisa full di 100 persen. Ada yang melebihi, ada juga yang tidak sampai."
"Misalnya parkir, pariwisata, tidak mencapai target. Itu akan kami evaluasi," ujarnya, Jumat (26/6/2026).
Data Raperda menunjukkan, pendapatan Dinas Pariwisata hanya terealisasi Rp9,01 miliar atau 74,55 persen dari target Rp12,08 miliar.
Sementara pendapatan Dishub yang salah satunya berasal dari retribusi parkir terealisasi Rp1,39 miliar atau 84,56 persen dari target Rp1,65 miliar.
Menurut Ngesti, belum tercapainya pendapatan sektor pariwisata lantaran jumlah pengunjung menurun.
Pada 2026 ini, sejumlah destinasi wisata milik Pemkab Semarang mulai menunjukkan peningkatan jumlah kunjungan seperti Bukit Cinta.
Peningkatan dirasakan seusai Pemkab Semarang melakukan penambahan wahana wisata.
Dia meyakini, peningkatan kunjungan wisata tersebut akan mendongkrak PAD pada 2026.
"Sekarang Bukit Cinta dengan penambahan wisata baru saat ini kenaikan cukup pesat. Rata-rata per pekan hanya 1.000 pengunjung, kemarin sampai 4.000 bahkan 6.000 saat Lebaran," terang Bupati Ngesti.
Dia menambahkan, beberapa destinasi wisata memang mengalami kenaikan pajak daerah, namun ada pula yang tidak mencapai target.
Dia menilai, perlu adanya edukasi pengembangan wisata, terutama milik pemerintah daerah. Pasalnya, setiap ada pengembangan pariwisata, jumlah pengunjung mengalami peningkatan yang signifikan.
"Swasta juga sama, kalau ada wahana baru akan meningkat. Kami perlu ada edukasi wisata yang kecil-kecil. Harapan kami, wisata yang kecil-kecil bisa tumbuh," katanya.
• Pemkab Semarang Instruksikan Sekolah Kembalikan Uang Pengadaan Seragam
Selain itu, sambung Ngesti, okupansi hotel di Kabupaten Semarang juga sempet menurun. Hal itu juga menjadi penyebab turunnya pendapatan sektor wisata.
"Pajak hotel juga turun. Okupansi 40 hingga 50 persen. Saya tanya di beberapa hotel terutama yang hotel-hotel besar," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dispar Kabupaten Semarang, Wiwin Sulistyowati terus berupaya mendongkrak tingkat kunjungan wisata di Kabupaten Semarang.
Biasanya, momentum liburan sekolah seperti saat ini menjadi waktu yang tepat untuk menggenjot kunjungan wisata, selain Lebaran.
"Kalau tempat wisata tidak bisa jadi patokan. Manakala tidak ada hal-hal baru, tidak ada yang datang ke situ," ujarnya.
Menurut dia, tren pada 2026 ini, pariwisata yang masih ramai dikunjungi adalah Bukit Cinta karena adanya wahana-wahana baru serta Benteng Willem yang masih hits bagi wisatawan.
"Saat weekend, kunjungan bisa sampai tiga lipat dari hari biasa," ucapnya. (*)