Dinkes Abdya Temukan 26 Kasus Kematian Ibu dan Balita Sepanjang 2026
Saifullah June 26, 2026 06:03 PM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Masrian Mizani I Aceh Barat Daya 

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menemukan 22 kasus kematian balita usia 0–59 bulan dan empat kasus kematian ibu sepanjang Januari hingga Juni 2026. 

Dinkes mencatat, total ada sebanyak 26 kasus kematian ibu dan anak di sejumlah wilayah kerja Puskesmas dalam Kabupaten Abdya.

Temuan tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah dalam upaya memperkuat kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak melalui pendekatan kolaboratif lintas sektor.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Abdya, Rinaldi menyebutkan, berdasarkan data Dinas Kesehatan Abdya, sebanyak 22 kasus kematian balita usia 0–59 bulan ditemukan di sejumlah wilayah kerja Puskesmas. 

Kasus terbanyak tercatat di wilayah Puskesmas Blangpidie dengan tujuh kasus.

Disusul Puskesmas Lembah Sabil, Lhang, dan Alue Sungai Pinang, masing-masing tiga kasus, dan Puskesmas Manggeng dua kasus.

Baca juga: Misteri Kematian Ibu dan Anak, Ditemukan Suami Jadi Kerangka di Atas Kasur, Polisi Temukan Petunjuk

Serta masing-masing satu kasus di wilayah kerja Puskesmas Bineh Krueng, Tangan-Tangan, Kuala Batee, dan Babahrot.

Menurutnya, beragam faktor medis menjadi penyebab kematian balita tersebut.

Antara lain asfiksia, gangguan pernapasan, berat badan lahir rendah (BBLR), kelainan bawaan atau kongenital, gangguan kardiovaskular, kejang, hingga komplikasi kesehatan lainnya. 

"Sebagian besar kasus meninggal dunia saat menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit rujukan, baik di Abdya maupun di luar daerah," kata Rinaldi, Jumat (26/6/2026).

Kasus Kematian Ibu

Sementara itu, empat kasus kematian ibu, sebutnya, tercatat berasal dari Kecamatan Blangpidie, Tangan-Tangan, dan Susoh. 

"Penyebab kematian didominasi komplikasi persalinan, perdarahan postpartum, serta komplikasi obstetrik lainnya," jelasnya.

Menurut Rinaldi, berbagai data tersebut menunjukkan bahwa tantangan kesehatan ibu dan anak masih memerlukan perhatian bersama. 

Baca juga:   Angka Kematian Ibu dan Anak di Bireuen Turun Signifikan, Ini Harapan Kadis

"Selain faktor keterlambatan penanganan, sejumlah kasus juga dipengaruhi kondisi medis yang telah dibawa sejak lahir atau kelainan kongenital yang membutuhkan penanganan spesifik dan berjenjang," paparnya.

Sebagian kasus yang terjadi, tambahnya, berkaitan dengan kelainan bawaan lahir atau penyakit kongenital yang membutuhkan deteksi dini dan penanganan cepat. 

"Karena itu penguatan layanan kesehatan sejak masa kehamilan menjadi sangat penting," ujarnya.

Rinaldi menjelaskan, secara nasional kematian balita usia 0–59 bulan merupakan salah satu indikator utama yang digunakan untuk mengukur kualitas pembangunan kesehatan masyarakat. 

"Indikator tersebut juga menjadi bagian dari target pembangunan kesehatan global dalam menurunkan angka kematian anak di bawah usia lima tahun atau under-five mortality rate," ungkapnya.

Karena itu, kata Rinaldi, Dinas Kesehatan Abdya terus memperkuat berbagai program kesehatan ibu dan anak.

Mulai dari peningkatan kualitas pelayanan antenatal care (ANC), pemantauan ibu hamil risiko tinggi, optimalisasi Posyandu, penguatan sistem rujukan maternal dan neonatal, hingga peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar.

Ia menilai, keberhasilan menekan angka kematian ibu dan balita sangat ditentukan oleh kecepatan deteksi risiko sejak dini. 

Baca juga: Cegah Kematian Ibu dan Anak, Buku KIA Kini Wajib Dimiliki

Dalam konteks tersebut, kata Rinaldi, peran keluarga, kader kesehatan, aparatur gampong, tokoh masyarakat, hingga lembaga pendidikan menjadi mata rantai penting dalam membangun sistem kewaspadaan kesehatan masyarakat.

"Kita tidak boleh menunggu kondisi ibu hamil atau anak sakit berat baru dibawa ke fasilitas kesehatan,” urai dia. 

“Edukasi keluarga, pemeriksaan kehamilan rutin, pemantauan tumbuh kembang anak, serta kesiapan sistem rujukan harus berjalan beriringan," ucapnya.

Rinaldi mengungkapkan, bahwa Pemerintah Kabupaten Abdya melalui Dinas Kesehatan terus berupaya maksimal menekan angka kematian ibu dan balita melalui berbagai langkah preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif yang terintegrasi. 

"Namun demikian, keberhasilan program tersebut memerlukan dukungan nyata seluruh elemen masyarakat," tuturnya.

Rinaldi menegaskan, bahwa upaya menekan angka kematian ibu dan balita tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan semata, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan hingga tingkat gampong. 

"Persoalan kematian ibu dan balita merupakan indikator penting pembangunan kesehatan daerah,” papar dia. 

“Karena itu, penanganannya harus dilakukan secara terpadu, mulai dari keluarga, kader kesehatan, pemerintah gampong, tenaga kesehatan, hingga lintas sektor lainnya," kata Rinaldi.

Ia berharap, semangat gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan sosial masyarakat ‘Nanggroe Breuh Sigupai’ dapat menjadi modal utama dalam menjaga keselamatan ibu dan anak.

"Menurunkan angka kematian ibu dan balita bukan hanya tanggung jawab Dinas Kesehatan,” terangnya. 

“Ini adalah tanggung jawab bersama. Mulai dari keluarga, kader Posyandu, pemerintah gampong, kecamatan, rumah sakit, hingga seluruh unsur masyarakat harus bergerak dalam satu irama," pungkas Rinaldi.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.