POS-KUPANG.COM – Para guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, mengikuti Sosialisasi Pekerjaan Konstruksi Jepang yang diselenggarakan oleh JAC di SMKN 2 Kupang pada Jumat (19/6/2026).
Sosialisasi ini digelar untuk memperkenalkan program Specified Skilled Worker (SSW) sebagai salah satu opsi pilihan karir bekerja di Jepang.
Sebanyak 54 guru dari SMKN 2 Kupang, SMKN 5 Kupang, dan SMKS Diakui Karya Kupang mengikuti kegiatan tersebut. Mereka mendapatkan informasi mengenai kebutuhan tenaga kerja konstruksi di Jepang, sistem kerja, budaya kerja, hingga persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengikuti program SSW.
Project Leader JAC, Naoya Shikano, mengatakan kebutuhan tenaga kerja konstruksi di Jepang saat ini masih sangat tinggi. Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengisi kebutuhan tersebut karena banyak lulusan SMK yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri.
“Kami melihat potensi besar dari lulusan SMK Indonesia. Melalui program SSW, mereka dapat mengembangkan keterampilan sekaligus memperoleh pengalaman bekerja di Jepang dengan sistem kerja yang modern,” kata Shikano.
Baca juga: Pelatihan Tenaga Kerja ke Jepang, Kurangi Angka Pengangguran dan PMI Non Prosedural di Belu
Sementara itu, Project Leader JAC, Jarot Septian Prakoso, menjelaskan terdapat dua jalur utama untuk bekerja di Jepang, yakni melalui program SSW secara langsung atau melalui program magang yang dapat dilanjutkan ke jalur SSW.
Program tersebut terbuka bagi masyarakat berusia minimal 18 tahun dan tidak dibatasi oleh latar belakang jurusan tertentu.
“Peluang ini terbuka untuk berbagai jurusan. Yang terpenting adalah kesiapan peserta untuk belajar dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan,” katanya.
Project Leader JAC, Naoya Shikano, kembali menjelaskan bahwa peserta program SSW harus memiliki kemampuan Bahasa Jepang dan lulus ujian keterampilan sesuai bidang yang dipilih. Adapun jalur magang masih menjadi pilihan yang banyak digunakan pekerja Indonesia untuk memulai karier di Jepang.
“Untuk program SSW, peserta perlu memiliki kemampuan Bahasa Jepang dan lulus ujian keterampilan. Sedangkan jalur magang menjadi salah satu alternatif untuk mendapatkan pengalaman kerja di Jepang,” jelas Shikano.
Project Leader, Jarot Septian Prakoso, ikut menekankan bahwa penguasaan Bahasa Jepang dan pemahaman budaya kerja Jepang menjadi faktor penting bagi calon pekerja agar lebih mudah beradaptasi saat bekerja di negara tersebut.
“Yang paling penting adalah belajar Bahasa Jepang dan memahami budaya Jepang. Bekal tersebut akan sangat membantu saat bekerja dan berinteraksi di lingkungan kerja,” tambahnya.
Kepala SMKN 2 Kupang, Hebner Dakabesy, S.Pd., M.Pd., menyambut positif kegiatan sosialisasi tersebut. Ia berharap para guru dapat meneruskan informasi yang diperoleh kepada siswa sehingga lulusan SMK di Kupang memiliki wawasan lebih luas mengenai peluang kerja internasional.
“Kita perlu mempersiapkan lulusan agar tidak hanya mencari pekerjaan di daerah sendiri, tetapi juga mampu memanfaatkan peluang kerja di luar negeri, termasuk di Jepang,” ujarnya.
Kepala SMKN 2 Kupang mengungkapkan bahwa sejumlah 3 siswa telah bekerja di Jepang sejak tahun 2025 melalui program Ginou Jisshuusei atau pemagangan teknis.
Keberhasilan ini didukung oleh program bantuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam memfasilitasi pelatihan bahasa Jepang yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2024 melalui program SMK Pusat Keunggulan.
Dalam pelaksanaannya, pihak sekolah juga bersinergi dengan lembaga penyalur resmi yang terdaftar di Kementerian Ketenagakerjaan RI.
Baca juga: Prabowo Ajak Pengusaha Jepang Investasi di Indonesia: Filosofi Kami Seribu Teman Terlalu Sedikit