- Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa pemutusan aliran dana ke Iran menjadi salah satu prioritas utama keamanan negaranya. Ia menilai, dana yang masuk ke Teheran pada akhirnya digunakan untuk mendukung kelompok bersenjata sekutu di sejumlah wilayah Timur Tengah.
Dalam pernyataannya (26/6/2026) di Markas Nasional Konferensi Pemberantasan Ekonomi Terorisme di Israel, Katz menyebut bahwa ancaman Iran tidak hanya bermula dari persenjataan militer.
“Ancaman Iran tidak dimulai dengan rudal, dan itu tidak dimulai dengan drone. Ini dimulai dengan uang dan penaklukan sumber daya negara,” ujar Katz dalam pidatonya.
Ia juga menuding pemerintah Iran mengalihkan sumber daya negara untuk memperkuat kemampuan militer.
Serta mendukung jaringan sekutu regional, alih-alih membangun sektor domestik seperti ekonomi dan infrastruktur.
Katz kemudian menegaskan bahwa setiap dana yang masuk ke Iran memiliki dampak langsung terhadap aktivitas militer di kawasan.
“Setiap dolar yang masuk ke kas Ayatollah adalah dolar yang menjadi rudal balistik di Iran, sebuah pesawat tanpa awak di Lebanon, roket di Gaza, dan kemajuan di Yaman. Setiap dolar yang mencapai Iran adalah dolar yang mungkin menemukan jalannya ke Hizbullah, Hamas, Houthi, dan proksi teror lainnya,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa uang yang mengalir ke Iran diduga berpotensi memperkuat berbagai kelompok yang dianggap sebagai ancaman di kawasan.
Selain itu, Katz menyinggung arah pengembangan kekuatan militer Israel di masa depan, termasuk menjadikan ruang angkasa sebagai salah satu fokus strategis pertahanan.
“Hari ini, tidak ada negara yang memiliki kemampuan untuk menyerang dari luar angkasa. Oleh karena itu, jika saya berkomitmen untuk pembentukan pertahanan, kebutuhan untuk berada di antara tiga negara teratas di dunia,” kata Katz.
Pernyataan tersebut muncul di tengah pembahasan kerangka awal kesepakatan Amerika Serikat–Iran yang disebut mencakup dana rekonstruksi sekitar 300 miliar dolar AS untuk Teheran serta pelepasan aset beku senilai 12 miliar dolar AS.
Di sisi lain, Israel tetap melanjutkan operasi militernya di Lebanon selatan meskipun terdapat upaya kesepakatan damai awal. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan pasukan Israel akan tetap berada di wilayah tersebut “selama diperlukan.”
Sementara itu, data dari otoritas kesehatan Lebanon menyebut ribuan korban jiwa dan luka-luka terjadi sejak konflik berlangsung, dengan jumlah korban terus bertambah akibat serangan militer di wilayah tersebut.
Program: Tribunnews Update
Host: Thalia Iza
Editor Video: Nathanael Moer Rahardian
Uploader: bagus gema praditiya sukirman