Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Puluhan anak mengikuti Pekan Kreativitas Anak dan Remaja (PKAR) Jemaat GPM Passo yang digelar di Gedung SD Negeri 1 dan 2 Passo, Kecamatan Baguala, Kota Ambon, Jumat (26/6/2026).
Kegiatan ini menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengembangkan kreativitas, memperluas wawasan, serta mengasah bakat melalui berbagai kelas pembelajaran yang disiapkan panitia.
Berbeda dari kegiatan anak pada umumnya, PKAR menghadirkan enam pojok belajar yang dirancang sesuai minat dan potensi peserta.
Enam kelas tersebut meliputi jurnalistik, teknologi informasi (IT), fotografi, public speaking, musik, dan dance.
Seluruh materi disampaikan oleh narasumber yang memiliki kompetensi di bidang masing-masing sehingga peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga pengalaman belajar yang aplikatif dan menyenangkan.
Baca juga: Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pelindo Petikemas Ambon Tanam 2.500 Pohon di Tawiri
Ketua Komisi Anak, Remaja, dan Katekisasi Jemaat GPM Passo, Elizabeth Apalem, mengatakan PKAR bertujuan membangun kreativitas sekaligus memperluas wawasan anak-anak melalui pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman.
"Kegiatan ini bertujuan membangun dan meningkatkan kreativitas anak-anak di Jemaat GPM Passo. Selain itu, kami ingin menambah wawasan mereka melalui berbagai pojok belajar yang menghadirkan narasumber sesuai bidangnya," ujarnya saat diwawancarai TribunAmbon.com, Jumat (26/6/2026).
Sebanyak 72 peserta berasal dari delapan sektor di Jemaat GPM Passo.
Masing-masing sektor mengirimkan sembilan orang yang terdiri atas enam peserta, seorang pemandu, dan dua orang pengasuh pendamping.
Elizabeth berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan jumlah peserta yang lebih banyak sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak anak.
"Kami berharap ke depan semakin banyak anak-anak yang bisa ikut terlibat karena kegiatan seperti ini sangat baik untuk perkembangan mereka," katanya.
Pada hari kedua pelaksanaan, panitia juga menyiapkan kegiatan outbound yang dikemas melalui berbagai permainan tradisional.
Permainan seperti tarompa, kaki setan menggunakan tempurung kelapa, lompat karung, hingga permainan kelompok lainnya dipilih untuk mengajak anak-anak kembali mengenal permainan tradisional yang mulai ditinggalkan.
Menurut Elizabeth, kegiatan tersebut juga menjadi salah satu cara mengurangi ketergantungan anak terhadap penggunaan gadget sekaligus melatih kekompakan dan kerja sama dalam tim.
"Anak-anak sekarang lebih banyak bermain gadget. Karena itu, melalui outbound kami menghadirkan permainan tradisional agar mereka bisa kembali mengenalnya sekaligus belajar bekerja sama dalam tim," jelasnya.
Dari enam pojok belajar yang tersedia, kelas jurnalistik menjadi salah satu materi yang mendapat perhatian khusus dari panitia.
Materi tersebut dipilih karena dinilai mampu membangun kemampuan komunikasi, meningkatkan budaya literasi, sekaligus melatih anak berpikir kritis dan kreatif sejak usia dini.
"Penentuan setiap pojok belajar disesuaikan dengan minat anak-anak. Namun menurut kami, pojok jurnalistik merupakan salah satu yang sangat penting dan harus tetap ada karena dapat menjadi bekal bagi perkembangan mereka di masa depan," pungkasnya. (*)