TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Ada masa ketika puluhan eksemplar koran harus diantar dari rumah ke rumah setiap pagi.
Kini, pemandangan itu tinggal kenangan bagi Zulfan (67), penjual koran senior di Kota Medan yang telah menghabiskan lebih dari lima dekade hidupnya di balik tumpukan surat kabar.
Pria yang berjualan di Jalan KS Tubun Medan itu masih membuka kiosnya sejak pukul 06.00 WIB setiap hari.
Seusai salat subuh, ia lebih dulu mengambil koran dari agen sebelum mulai melayani pelanggan.
Namun suasana yang ia temui kini jauh berbeda dibanding puluhan tahun lalu.
Masih jelas diingatannya, bagaimana dulu toko milik ayahnya yang terbesar di Jalan Kalimantan.
Tak sedikit toko yang berdiri megah menjual berbagai bacaan setiap harinya.
Potret kejayaan tabloid hingga koran itu pun masih terlihat di toko Zulfan, yang sekarang berdiri sederhana disudut Jalan Sumatera atau sekarang bernama Jalan KS Tubun.
Susunan tabloid tua masih terpajang rapi, dari terbitan tahun 2003 hingga ada yang lebih lawas lagi tahun 1997.
Zulfan sedikit bernostalgia, di sekitar tahun 1970-1997, masa kejayaan itu seperti tidak akan hilang.
Dari pagi hingga sore, ia bahkan tidak pernah duduk santai, karena diserbu pembeli.
“Dulu berbagai macam koran ada, koran merdeka, kompas, pikiran rakyat. Dalam sehari bisa ratusan eksemplar. Kami yang mengantar koran-koran itu ke rumah-rumah juga,” kata Zulfan kepada Tribun Medan.
Bersama ayah dan abang kandungnya, Zulfan bahkan pernah berjualan koran hingga pukul 00.00 WIB untuk memenuhi tingginya permintaan pembaca.
“Punya bapak yang paling besar, lengkap juga dulu. Yang paling tua termasuk. Paling jaya itu di masa Soeharto. Banyak kali koran yang kami jual,” ujarnya.
Tak hanya surat kabar, kios mereka juga dipenuhi majalah, tabloid hingga komik yang menjadi buruan anak-anak.
“Komik dulu juga banyak yang beli. Komik apa saja ada di sini. Anak-anak banyak yang beli,” katanya.
Zulfan mengaku sudah mengenal dunia jual beli koran sejak berusia 15 tahun. Ia mengikuti orang tuanya yang merantau dari Perbaungan ke Medan untuk mencari penghidupan.
“Saya sudah 50 tahun jualan. Dari umur 15 tahun saya sudah jualan koran, tabloid, majalah, komik ini. Dulu ikut orang tua,” ujarnya.
Meski sempat menikmati masa kejayaan media cetak, Zulfan mulai merasakan perubahan sejak akhir tahun 2004.
Penurunan penjualan semakin terasa memasuki tahun 2010 ketika masyarakat beralih memperoleh informasi melalui teknologi digital dan banyak media cetak berhenti terbit.
“Saat masa tsunami sudah mulai berkurang penjualan koran. Apalagi tahun-tahun 2010. Banyak juga media yang tutup,” ucapnya.
Kini, penghasilannya jauh dari cukup. Zulfan bertahan dengan keuntungan per eksemplar yang hanya seribu rupiah.
“Sekarang jauh dari Rp100 ribu pun enggak bisa dapat,” katanya.
Meski demikian, ia tetap mempertahankan kios yang sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Meskipun kini aroma kiosnya tak hanya diisi oleh tumpukan koran dan tabloid. Ada aroma roti dan berbagai cemilan mengisi mejanya yang menghadap ke jalan raya.
Deretan tabloid tua yang masih terpajang disana bukan tanpa alasan, bagi Zulfan ini menjadi pengingat untuknya, bahwa masa itu pernah ada.
Senyum Afgan muda dengan kacamata dan lesung pipinya yang manis, masih menyapa pelanggan Zulfan, yang kini datang hanya untuk mencari sebotol air mineral ataupun sebungkus roti.
Kepada Tribun Medan, Zulfan mengaku sudah punya ancang-ancang, kalau nanti media sudah tidak lagi menerbitkan edisi cetaknya. Ia bersiap untuk membuka toko kelontong biasa saja.
“Buka kedai biasa sajalah. Kalau sudah tidak ada lagi koran yang mau dijual. Mau bagaimana lagi, jaman sudah berubah,” pungkasnya.
(cr26/tribun-medan.com)