TRIBUNKALTIM.CO, TANA PASER - Industri perhotelan di Kabupaten Paser saat ini menghadapi tekanan berat akibat menurunnya tingkat hunian (okupansi) kamar.
Sementara di sisi lain biaya operasional meningkat, melemahnya daya beli masyarakat serta pengaruh kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah.
General Manager Hotel Kyriad Sadurengas Paser, Alle Mahrus, menyampaikan kondisi tersebut memaksa pelaku usaha perhotelan mengubah strategi bisnis dari orientasi pertumbuhan menjadi upaya mempertahankan keberlangsungan usaha.
"Kondisi bisnis perhotelan saat ini berada dalam fase tekanan berat dan menghadapi tantangan yang cukup fundamental, kami terpaksa beralih ke strategi bertahan hidup karena terjadi penurunan okupansi, sementara biaya operasional terus meningkat," jelas Alle, Jumat (26/6/2026).
Baca juga: Bupati Paser Fahmi Lantik 308 ASN, Seluruh Pejabat Diminta Segera Bekerja Secara Optimal
Menurutnya, sektor perhotelan selama ini masih sangat bergantung pada aktivitas pemerintah, terutama penyelenggaraan rapat, pertemuan, pelatihan, dan berbagai kegiatan kedinasan lainnya.
Hanya saja ketika belanja pemerintah ditekan melalui kebijakan efisiensi anggaran, dampaknya langsung dirasakan oleh industri hotel.
"Ketergantungan terhadap kegiatan pemerintah masih cukup besar, saat anggaran untuk rapat dan perjalanan dinas dikurangi, otomatis permintaan kamar hotel dan penggunaan fasilitas pertemuan ikut menurun," tambahnya.
Diungkapkan, sejumlah instansi yang sebelumnya telah melakukan pemesanan tempat untuk kegiatan terpaksa membatalkan agenda mereka karena adanya penyesuaian dan efisiensi anggaran.
"Ada beberapa instansi yang sudah melakukan booking untuk kegiatan tiba-tiba membatalkan, karena adanya kebijakan efisiensi anggaran. Kondisi ini tentu sangat memengaruhi pendapatan hotel," keluhnya.
Meski demikian, pelaku usaha perhotelan terus melakukan berbagai langkah adaptif untuk menjaga kelangsungan operasional.
Strategi yang ditempuh ialah melakukan ekspansi pasar ke segmen non-pemerintah, menekan biaya operasional dan pengeluaran perusahaan, hingga melakukan penyesuaian jumlah tenaga kerja.
"Kami berupaya mencari pasar baru, melakukan efisiensi biaya, dan berbagai langkah lainnya agar usaha tetap berjalan. Namun, jika kondisi ini berlangsung lama, tentu akan menjadi tantangan yang semakin berat bagi industri perhotelan," ungkapnya.
Ditegaskan bahwa industri perhotelan memiliki kontribusi signifikan terhadap penerimaan negara maupun daerah melalui pajak hotel serta efek berganda terhadap sektor ekonomi lainnya, seperti usaha kuliner, transportasi, dan jasa pendukung.
Karena itu, ia berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang mendukung keberlangsungan industri perhotelan di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan.
"Kami berharap ada kebijakan-kebijakan yang dapat mendukung industri perhotelan agar tetap bertahan dan mampu terus memberikan kontribusi bagi perekonomian daerah," pungkas Alle. (*)