Dini dan Dedikasi Guru Sekolah Rakyat: 24 Jam Menjaga Harapan Anak Keluarga Miskin di Banyumas
rika irawati June 26, 2026 07:12 PM

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Pukul empat dini hari, udara di lereng Baturraden masih dingin.

Kabut tipis menggantung di antara pepohonan yang mengelilingi kawasan UPT Kementerian Sosial Sentra Satria Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Saat sebagian besar orang masih terlelap, langkah-langkah kecil mulai terdengar menyusuri koridor asrama.

Anak-anak bergegas menuju musala melaksanakan salat Subuh berjamaah.

Suara sandal yang beradu dengan lantai itu sudah menjadi alarm alami bagi Khoirida Hardini Kurniani (31).

Tanpa perlu dering telepon genggam, ia tahu hari baru telah dimulai.

Perempuan yang akrab disapa Dini itu segera bangun, mengambil air wudu, lalu ikut memulai hari bersama lima puluh anak yang kini menjadi bagian dari kehidupannya.

Rumahnya bukan lagi di Kudus.

Sudah hampir setahun terakhir, kamarnya berada di kompleks asrama guru Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Banyumas. 

Baca juga: Progres Pembangunan Sekolah Rakyat Banyumas, Segera Beroperasi

Dari jendela kamarnya terlihat bangunan sekolah yang hanya berjarak beberapa langkah.

Setiap hari, ia hidup berdampingan dengan murid-muridnya tersebut.

Bukan hanya sebagai guru Informatika yang mengajar di kelas, melainkan juga sebagai sosok yang menyaksikan bagaimana anak-anak itu bangun sebelum matahari terbit, belajar, beribadah, berolahraga, menangis karena rindu rumah, hingga perlahan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri.

"Saya mulai mengajar sejak MPLS (masa pengenalan lingkungan sekolah, Red) tanggal 14 Juli 2025."

"Sekarang, tidak terasa sudah hampir satu tahun berada di sini," tuturnya kepada Tribunbanyumas.com, Jumat (26/6/2026). 

Kalimat itu terdengar sederhana, namun di baliknya tersimpan keputusan besar yang mengubah arah hidupnya.

Rela Tinggalkan Kampung Halaman

Sebelum bergabung dengan Sekolah Rakyat, Dini mengajar di salah satu SMA di Kabupaten Kudus. 

Hidupnya berjalan sebagaimana guru pada umumnya, dekat dengan keluarga dan dekat dengan ibunya.

Hingga suatu hari, pemerintah membuka rekrutmen guru Sekolah Rakyat melalui Kementerian Sosial.

Program itu menarik perhatiannya.

Bukan karena status ataupun fasilitas, yang membuatnya mantap justru sasaran program tersebut.

Sekolah Rakyat dibangun khusus untuk anak-anak dari keluarga desil 1 dan desil 2.

Mereka yang lahir dalam keterbatasan ekonomi dan selama ini memiliki akses pendidikan yang jauh lebih sempit dibanding anak-anak lain.

Dini merasa terpanggil.

Ia melihat kesempatan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada sekadar mengajar mata pelajaran.

"Saya tertarik karena program ini memang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu."

"Saya merasa, ini menjadi kesempatan untuk ikut berkontribusi," katanya.

Keputusan itu bukan tanpa konsekuensi.

Artinya, ia harus meninggalkan kampung halaman dan meninggalkan ibunya.

Meninggalkan rutinitas yang selama bertahun-tahun telah dijalani.

Kini, ia berstatus sebagai guru PPPK yang bertugas di bawah kementerian dan ditempatkan di Banyumas.

Dia tinggal di asrama guru, bersama tenaga pendidik lain yang kebanyakan juga berasal dari luar daerah.

Baca juga: Sadewo Banggakan Banyumas Pengekspor Terbesar Gula Kelapa, Berharap Bantuan

Bukan letak sekolah yang ada di pegunungan dan jauh dari pusat kota yang bikin Dini terasa berat.

Hidup jauh dari keluarga yang sering membuat hatinya gundah.

"Tentu kangen dengan ibu dan keluarga. Tapi saya juga bersyukur mendapat kesempatan mengajar di Sekolah Rakyat," ungkapnya. 

Sebulan sekali, bahkan apabila memungkinkan, dua kali dalam sebulan, ia pulang ke Kudus untuk melepas rindu.

Meski begitu, ia tidak pernah menyesali keputusannya.

Melihat langsung alasan mengapa Sekolah Rakyat hadir menjadi motivasi.

Tantangan di Lapangan

SRMP 13 Banyumas menjadi salah satu angkatan pertama Sekolah Rakyat yang dibuka pemerintah. 

Sekolah ini berada di lingkungan Sentra Satria Baturraden, Jalan Raya Barat Nomor 35, Baturraden.

Pada tahun ajaran 2025/2026, sekolah menerima 50 siswa, terdiri dari 26 siswi dan 24 siswa.

Seluruh siswa berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas.

Ada yang orang tuanya bekerja serabutan, ada pula yang tidak memiliki pekerjaan tetap.

Bahkan, ada keluarga yang kedua orang tuanya sama-sama menganggur.

Sekolah berbasis asrama itu didirikan agar anak-anak dari keluarga kurang mampu memperoleh kesempatan belajar yang sama dengan anak-anak lain.

Seluruh kebutuhan mereka dipenuhi.

Mulai dari tempat tinggal, makan, pakaian, perlengkapan mandi, perlengkapan mencuci, hingga kebutuhan belajar.

Dengan demikian, anak-anak dapat lebih fokus menempuh pendidikan tanpa terbebani persoalan ekonomi keluarga.

Namun, ketika pertama kali datang, tantangan yang dihadapi guru ternyata jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.

Banyak siswa datang dengan kemampuan akademik yang masih tertinggal.

Sebagian memiliki motivasi belajar yang rendah.

Tidak sedikit yang sebelumnya tumbuh di lingkungan dengan berbagai keterbatasan sehingga belum terbiasa dengan disiplin belajar.

"Banyak yang motivasi belajarnya masih rendah ketika pertama kali masuk. Kemungkinan karena kondisi keluarga dan lingkungan sebelumnya," katanya. 

Guru dituntut menjadi pendidik, pendamping, sekaligus orang tua kedua bagi anak-anak yang baru belajar menjalani kehidupan di asrama.

Menurut Dini, konsep Sekolah Rakyat memang berbeda dibandingkan sekolah pada umumnya.

Selain menerapkan Kurikulum Nasional, sekolah juga memiliki kurikulum asrama yang berfokus pada pembentukan karakter.

Bahkan, sebelum memasuki pembelajaran reguler, para siswa terlebih dahulu menjalani Kurikulum Persiapan selama kurang lebih sepuluh pekan. 

Pada masa itu, mereka dibimbing membangun disiplin, belajar hidup mandiri, menjaga kebersihan, mengatur waktu, menghormati sesama, hingga membiasakan diri hidup teratur.

"Di sini bukan hanya belajar mata pelajaran. Anak-anak juga dibentuk karakternya. Itu yang membedakan Sekolah Rakyat dengan sekolah lainnya," ujarnya. 

Baca juga: Di Hadapan Warga Desa Pekuncen, Kepala BNNK Banyumas Ingatkan Bahaya Narkoba

Setiap hari, para guru, wali asuh, dan wali asrama bekerja sebagai satu tim. 

Mereka tidak hanya mengejar capaian akademik.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap anak memiliki kesempatan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan memiliki harapan terhadap masa depannya.

Bagi Dini, itulah alasan mengapa setiap pagi ia selalu bersemangat membuka pintu kelas.

Sebab, di hadapannya, bukan sekadar murid yang harus diajarkan mata pelajaran Informatika, melainkan lima puluh anak yang sedang berusaha mengubah jalan hidup mereka melalui pendidikan.

Menumbuhkan Harapan yang Nyaris Padam

SUASANA KELAS - Suasana kelas saat Khoirida Hardini Kurniani (31) mengajar mata pelajaran Informatika dan Komputer di kelas Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (19/6/2026).
SUASANA KELAS - Suasana kelas saat Khoirida Hardini Kurniani (31) mengajar mata pelajaran Informatika dan Komputer di kelas Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (19/6/2026). (Tribun Banyumas/Permata Putra Sejati)

Ketika bel masuk berbunyi, Dini berdiri di depan kelas membawa sebuah laptop. 

Bagi sebagian siswa SMP, perangkat itu mungkin sudah menjadi benda yang akrab.

Namun, di ruang kelas SRMP 13 Banyumas, ceritanya berbeda.

Tidak semua anak pernah mengoperasikan komputer.

Bahkan, sebagian baru pertama kali menyentuh laptop setelah diterima di Sekolah Rakyat. Tak ada pilihan selain memulai semuanya dari awal.

Sebagai guru Informatika, Dini tidak bisa langsung berbicara tentang aplikasi, pemrograman, atau teknologi digital yang lebih kompleks.

Ia harus mengawali pelajaran dari hal-hal paling dasar, mengenalkan satu demi satu perangkat yang ada di hadapan mereka.

Ia menunjukkan mana perangkat keras, mana perangkat lunak.

Mengenalkan fungsi papan ketik, tetikus, layar monitor, hingga cara menyalakan dan mematikan komputer dengan benar.

Sedikit demi sedikit, anak-anak mulai berani mencoba.

"Saya mengajarkan mulai dari hardware, software, sampai bagaimana bersikap di media sosial dan menjaga etika ketika berinteraksi di dunia digital," katanya. 

Baginya, mengajarkan teknologi hanyalah sebagian kecil dari tugasnya.

Yang jauh lebih sulit justru membangun keyakinan dalam diri anak-anak bahwa mereka mampu belajar.

Selama bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan, tidak sedikit dari mereka tumbuh dengan rasa minder.

Ada yang merasa dirinya tertinggal dibanding teman sebaya.

Ada pula yang menganggap sekolah bukan sesuatu yang penting karena lingkungan tempat mereka tumbuh tidak memberikan contoh demikian.

Anak yang berhasil menyalakan laptop sendiri mendapat apresiasi.

Anak yang berani bertanya dipuji.

Anak yang mampu menyelesaikan tugas sederhana diberikan semangat agar percaya pada kemampuannya sendiri.

Di Sekolah Rakyat, proses belajar bukan sekadar mengejar nilai rapor.

Yang dibangun lebih dahulu adalah keberanian bermimpi.

Pendampingan pun tidak berhenti ketika bel pulang sekolah berbunyi.

Guru, wali asuh, dan wali asrama bekerja bersama hampir selama 24 jam. 

Jika siang hari guru mengajar di kelas, maka malam harinya mereka berperan sebagai wali asuh membantu anak-anak mengulang pelajaran, menyelesaikan tugas, hingga menjadi tempat bercerita ketika mereka mulai merindukan rumah.

Hubungan yang terbangun lebih menyerupai sebuah keluarga besar dibanding sekadar lingkungan sekolah.

"Kami saling berkoordinasi terus. Kalau ada anak yang mengalami kesulitan belajar atau ada perubahan perilaku, semua ikut mendampingi supaya anak itu bisa berkembang," tuturnya. 

Baca juga: Libur Sekolah Datang, Pengunjung Harian Lokawisata Baturraden Banyumas Naik Dua Kali Lipat

Di antara puluhan siswa yang ia dampingi, ada satu pengalaman yang hingga kini selalu diingatnya.

Seorang anak datang ke Sekolah Rakyat dengan kondisi yang membuat para guru terdiam.

Anak itu telah duduk di bangku Kelas 7 SMP. Namun, ia sama sekali belum bisa membaca.

Bukan sekadar membaca terbata-bata. Ia benar-benar belum mengenali rangkaian kata secara baik.

Bagi banyak orang, kondisi itu mungkin terasa sulit dipercaya.

Namun, bagi para guru di Sekolah Rakyat, kenyataan tersebut menjadi pengingat bahwa kemiskinan sering kali bukan hanya soal tidak ada uang, tetapi juga terbatasnya kesempatan memperoleh pendidikan yang layak.

Tidak ada yang menyalahkan anak itu. Tidak ada yang mencibir.

Guru Bimbingan Konseling, wali asuh, wali asrama, dan para guru mata pelajaran justru menyusun cara agar ia dapat mengejar ketertinggalannya.

Setiap malam, mereka bergantian mendampinginya.

Huruf demi huruf dikenalkan kembali. Kata demi kata dieja bersama.

Kalimat-kalimat sederhana dibaca berulang. Prosesnya berlangsung pelan.

Membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Namun tidak seorang pun menyerah.

Hari demi hari berlalu, pekan berganti bulan, perubahan kecil mulai terlihat.

Anak yang sebelumnya hanya menatap buku kini mulai berani mengeja, alu membaca kalimat pendek.

Hingga akhirnya, mampu membaca sendiri.

"Alhamdulillah sekarang dia sudah bisa membaca. Memang pemahamannya masih terus dilatih, tetapi perubahan itu membuat kami sangat bersyukur," kata Dini.

Baginya, keberhasilan itu jauh lebih membahagiakan daripada sekadar melihat nilai tinggi di atas kertas.

Sebab, yang mereka saksikan bukan hanya seorang anak yang berhasil membaca, melainkan seorang anak yang kembali memperoleh kesempatan mengejar masa depan.

Pengalaman itu juga mengubah cara pandang Dini sebagai pendidik.

Ia semakin yakin, tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanyalah anak-anak yang belum memperoleh kesempatan belajar lewat cara tepat.

Setiap anak memiliki waktu tumbuh berbeda. Setiap anak menyimpan potensi berbeda pula.

Tugas guru bukan sekadar mengajar, melainkan menemukan potensi itu, menjaganya agar tidak padam, lalu membantu menyalakan kembali harapan yang mungkin selama ini nyaris hilang karena kerasnya kehidupan.

Keyakinan itulah yang membuat Dini tetap bertahan jauh dari kampung halamannya.

Setiap kali melihat seorang anak berhasil melakukan sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil, rasa rindu kepada rumah seakan terbayar.

Di wajah-wajah sederhana itulah, ia menemukan alasan mengapa dirinya memilih datang ke Banyumas.

Karena sesungguhnya, yang sedang ia bangun bukan hanya kemampuan membaca, berhitung, atau mengoperasikan komputer.

Ia sedang membantu anak-anak itu membangun kepercayaan bahwa mereka pun layak memiliki cita-cita.

Menjadi Guru 24 Jam Sehari

MEMAHAMI MATERI - Khoirida Hardini Kurniani (31) membimbing siswa memahami materi pelajaran di kelas Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (19/6/2026). Khoirida mengajar mata pelajaran Informatika dan Komputer sekaligus ekstrakulikuler.
MEMAHAMI MATERI - Khoirida Hardini Kurniani (31) membimbing siswa memahami materi pelajaran di kelas Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (19/6/2026). Khoirida mengajar mata pelajaran Informatika dan Komputer sekaligus ekstrakulikuler. (Tribun Banyumas/Permata Putra Sejati)

Menjadi guru di Sekolah Rakyat ternyata tidak mengenal batas antara jam kerja dan kehidupan pribadi.

Begitu memilih tinggal di lingkungan asrama, Dini memahami bahwa tugasnya tidak berakhir ketika bel sekolah terakhir berbunyi.

Ia hidup bersama murid-muridnya. Rutinitasnya dimulai sejak dini hari.

Sekitar pukul empat pagi ia sudah terbangun.

Setelah menunaikan salat Subuh berjamaah, ia memanfaatkan waktu menyiapkan materi pelajaran, menyusun modul, atau memperbarui bahan presentasi yang akan digunakan di kelas.

Menjelang pukul 06.30 WIB, ia berjalan menuju gedung sekolah yang letaknya hanya beberapa langkah dari asrama guru.

Hari-harinya diisi dengan mengajar, berdiskusi dengan siswa, mengevaluasi pembelajaran, hingga menyusun berbagai administrasi pendidikan.

Namun, pekerjaan itu belum selesai ketika jam belajar berakhir sekitar pukul 16.00. WIB. 

Sore hari, ia menyempatkan diri memantau berbagai kegiatan siswa.

Sesekali, ia melihat latihan ekstrakurikuler, menyapa anak-anak yang sedang belajar di perpustakaan, atau sekadar berbincang dengan mereka mengenai aktivitas hari itu.

Malam hari menjadi babak lain dalam kehidupan Sekolah Rakyat.

Selepas salat Magrib, anak-anak mengikuti kegiatan mengaji, belajar malam, dan berbagai aktivitas pembinaan di asrama.

Guru, wali asuh, serta wali asrama kembali mendampingi mereka.

Baru sekitar pukul 21.00 WIB, ketika seluruh siswa kembali ke kamar masing-masing, suasana sekolah benar-benar mulai tenang.

Bagi sebagian orang, ritme kehidupan seperti itu mungkin terasa melelahkan.

Namun, bagi Dini, justru dari kebersamaan selama hampir 24 jam itulah ia mengenal murid-muridnya lebih dekat.

Ia mengetahui siapa yang mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Siapa yang pendiam, siapa yang sering menyembunyikan kesedihan karena rindu orangtua, dan siapa yang ternyata memiliki bakat luar biasa yang selama ini tidak pernah mendapat kesempatan berkembang.

Salah satu potensi yang paling mengejutkan muncul dari kegiatan ekstrakurikuler pencak silat.

Sebanyak 22 dari 50 siswa memilih mengikuti latihan tersebut.

Awalnya, kegiatan itu hanya dimaksudkan sebagai wadah pembinaan karakter, kedisiplinan, sekaligus kebugaran fisik.

Namun, perlahan, para guru melihat kemampuan anak-anak berkembang jauh lebih cepat dari perkiraan.

Kesempatan pertama untuk menguji kemampuan mereka datang saat mengikuti Kadindik Cup 2026.

Untuk pertama kalinya, SRMP 13 Banyumas mengirim tiga atlet.

Tidak ada yang memasang target muluk. Mereka hanya ingin memberi pengalaman bertanding kepada anak-anak.

Namun, hasil yang dibawa pulang justru melampaui harapan.

Julio Pandu Pribadi berhasil meraih Juara 1.

Aji Damar Saputro meraih Juara 2.

Sementara Nur Mauliza membawa pulang Juara 3.

Ketiganya menjadi juara pada kategori Jurus Tangan Kosong Praremaja.

Prestasi itu menjadi kebanggaan besar bagi seluruh keluarga besar Sekolah Rakyat.

Bukan semata-mata karena medali, melainkan karena keberhasilan tersebut membuktikan bahwa anak-anak dari keluarga miskin pun mampu berprestasi ketika memperoleh kesempatan yang sama.

Keterbatasan akademik tidak pernah bisa dijadikan ukuran tunggal untuk menilai kemampuan seorang anak.

Ada yang unggul dalam olahraga, ada yang cepat memahami keterampilan praktis, ada yang memiliki jiwa kepemimpinan, ada pula yang menunjukkan kepedulian tinggi kepada teman-temannya.

Sekolah Rakyat berusaha menemukan kelebihan itu satu per satu.

Dari Keterbatasan Menuju Harapan Baru

Harapan yang tumbuh di sekolah ternyata tidak bisa dilepaskan dari perjuangan orangtua di rumah.

Guru-guru beberapa kali melakukan kunjungan langsung ke rumah siswa.

Di situlah mereka menyaksikan kenyataan yang selama ini hanya terdengar melalui cerita.

Ada rumah berdinding sederhana. Ada keluarga yang hidup tanpa kendaraan.

Ada orangtua yang setiap hari hanya menunggu panggilan kerja serabutan agar bisa membawa pulang sedikit penghasilan.

Sebagian besar siswa berasal dari berbagai kecamatan di Kabupaten Banyumas.

Jarak menuju Baturraden tidaklah dekat.

Ada keluarga yang harus menempuh perjalanan hampir dua jam hanya untuk menemui anak mereka di Sekolah Rakyat.

Ketika jadwal kunjungan tiba, beberapa orangtua bahkan patungan menyewa kendaraan agar bisa datang bersama ke sekolah.

Pemandangan itu membekas di hati para guru.

Mereka menyadari, di balik setiap anak yang belajar di Sekolah Rakyat, ada orangtua yang sedang berjuang sekuat tenaga agar kehidupan anaknya kelak menjadi lebih baik.

Setiap kali masa libur tiba, para siswa memang diperbolehkan pulang.

Namun, proses pendidikan tidak berhenti. Mereka membawa jurnal kegiatan yang harus diisi selama berada di rumah.

Guru, wali asuh, dan orangtua tetap saling berkomunikasi untuk memantau perkembangan anak.

Pendampingan terus berlangsung meski mereka sedang tidak berada di lingkungan sekolah.

Salah satu wajah perjuangan itu tampak pada diri Prabu Suryo Lelono (13).

Siswa asal Karanglewas Kidul, Kecamatan Karanglewas, itu menjadi bagian dari angkatan pertama SRMP 13 Banyumas.

Berbeda dengan sebagian anak yang sempat menangis ketika pertama kali tinggal di asrama, Prabu justru mengaku cepat beradaptasi.

"Senang bisa sekolah di sini. Tidak masalah harus tinggal di asrama," ujarnya.

Di usia yang masih belia, Prabu sudah memiliki cita-cita yang sederhana namun jelas. Ia ingin menjadi seorang pengusaha.

Suatu hari nanti, ia bermimpi membuka sebuah kafe.

Di balik senyum dan optimisme Prabu, tersimpan perjuangan seorang ibu yang selama ini membesarkannya seorang diri.

Ibunya, Ratri Isnaeni (45), merupakan seorang single parent.

Untuk menghidupi keluarga, ia membuat berbagai makanan yang kemudian dijual di pasar.

Dalam kesehariannya, Ratri juga menjadi penerima Program Keluarga Harapan (PKH).

Kondisi ekonomi yang terbatas membuat biaya pendidikan menjadi beban yang tidak ringan.

Karena itu, kehadiran Sekolah Rakyat menjadi harapan baru bagi keluarganya.

Sistem pendidikan gratis dengan konsep asrama membuatnya merasa memiliki kesempatan memberikan masa depan yang lebih baik bagi anaknya.

"Sebagai orangtua, tentu berat melepas anak tinggal di asrama."

"Tapi, saya bismillah saja, semoga sekolah ini bisa membantu anak saya menjadi orang yang sukses," katanya.

Semangat yang sama juga dirasakan Kepala SRMP 13 Banyumas, Siti Isbandiyah.

Terapkan Kurikulum Nasional

Menurutnya, Sekolah Rakyat hadir bukan sekadar memberikan pendidikan gratis, melainkan membangun kehidupan baru bagi anak-anak yang selama ini tumbuh dalam keterbatasan.

Karena itu, sekolah menerapkan Kurikulum Nasional yang dipadukan dengan pendekatan yang lebih adaptif terhadap kondisi siswa.

"Selain kurikulum dari Kemendikdasmen, kami juga menerapkan kurikulum tailor made, yakni kurikulum yang fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa."

"Pembelajaran tidak hanya akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kehidupan bersama," ujarnya.

Konsep pendidikan di Sekolah Rakyat memang berbeda dengan sekolah reguler.

Guru tidak hanya hadir saat proses belajar mengajar berlangsung.

Mereka ikut membangun kehidupan sehari-hari anak-anak.

Untuk mendukung pembinaan di asrama, sebagian guru menetap di lingkungan sekolah, terutama mereka yang berasal dari luar daerah maupun yang belum berkeluarga.

"Kami sudah menyiapkan ruang khusus bagi guru dan kepala sekolah. Saya pribadi juga akan ikut tinggal di asrama, meski mungkin tidak setiap hari," kata Siti.

Saat ini, SRMP 13 Banyumas memiliki 29 orang tenaga pendidik, yang sudah termasuk TU, Operator, Bendahara, Wali Asuh, dan Wali Asrama. 

Pendampingan siswa juga diperkuat melalui sistem wali asuh.

Setiap sepuluh siswa didampingi satu wali asuh yang bertugas membimbing kehidupan sehari-hari mereka selama tinggal di asrama.

Sementara itu, orangtua tetap diberikan kesempatan mengunjungi anak-anak mereka melalui mekanisme yang disesuaikan dengan kondisi psikologis siswa.

"Ini menjadi tanggung jawab kita bersama membentuk karakter, kemandirian, dan masa depan anak-anak sejak dini," tegasnya.

Harapan itu kini bersiap memasuki babak baru. Dalam waktu dekat, seluruh aktivitas SRMP 13 Banyumas akan berpindah ke tempat baru yang telah dipersiapkan pemerintah.

Mereka akan pindah ke Sekolah Rakyat Terpadu yang dibangun di wilayah Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas.

Sekolah ini akan menjadi tempat bagi siswa SRMP 13 Banyumas, dalam satu lingkungan dengan siswa jenjang SD dan SMA. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.