TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Aliansi Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) terlibat cekcok dengan Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia dan Hukum, Siswanto saat aksi di Rektorat UNY, Rabu (24/6/2026) lalu.
Video cekcok yang kemudian diunggah di media sosial tersebut pun menjadi perbincangan warganet lantaran Wakil Rektor Bidang SDM dan Hukum UNY menyebut sampah.
Perwakilan Aliansi Mahasiswa UNY, Andri mengungkapkan aksi yang dilakukan beberapa waktu lalu memang bertepatan dengan wisuda.
Momen tersebut dirasa tepat untuk aksi penolakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan UNY.
"Kami pikir itu ketika wisuda ada lebih banyak orang, sehingga ketika kita melakukan aksi, pesan yang kita sampaikan bisa tersampaikan ke lebih banyak orang," katanya, Jumat (26/6/2026).
Saat melakukan aksi, para mahasiswa sempat diadang oleh satpam. Namun akhirnya massa menerobos dan melakukan aksi hingga menggelar spanduk di selasar Rektorat UNY.
Aksi dilakukan dengan orasi yang intinya mahasiswa menolak kampus mengelola SPPG. Alasannya program Makan Bergizi (MBG) merupakan salah satu program pemerintah yang perencanannya sangat buruk. Selain menimbulkan potensi korupsi, program tersebut juga berisiko membuat keracunan.
Menurut dia, kampus mestinya menempatkan diri sebagai institusi pendidikan dan tidak dengan mudah menerima program ambisius pemerintah.
"Kampus seharusnya sebagai kekuatan moral, sebagai kontrol sosial dari kebijakan publik karena kampus itu kan isinya para intelektual. Ketika kampus tidak menjadi ruang kritik atau penghasil gagasan untuk menjaga kepentingan publik, yang ada kampus hanya menjadi stempel penguasa untuk mendukung program-programnya," terangnya.
Ia pun menyayangkan sikap Wakil Rektor Bidang SDM dan Hukum UNY, Siswanto. Menurut dia, sebagai perwakilan universitas, wakil rektor bisa berkomunikasi dengan baik tanpa menghina peraga aksi.
"Kita kaget aja sih, khususnya saya sendiri syok dan diam gitu. Harusnya kan misal nggak boleh, bisa berkomunikasi lah dengan baik. Jangan sampai menghina aksi kami atau menghina peraga aksi. Itu (peraga aksi) juga kita buat, kita lelah, dan mengeluarkan biaya juga," lanjutnya.
Terpisah, Wakil Rektor Bidang SDM dan Hukum UNY, Siswanto mengungkapkan aksi yang dilakukan mahasiswa di Rektorat UNY tanpa izin.
Di samping itu itu, material teatrikal mengotori lantai. Ia menyebut ada tulisan di spanduk mahasiswa yang tidak pantas.
Pernyataan "sampah" yang ia lontarkan saat aksi lebih merujuk pada material teatrikal yang mengotori lantai.
"Kemarin ada beberapa mahasiswa yang mau melakukan teatrikal di hall Rektorat tanpa izin, padahal hall Rektorat sedang banyak mahasiswa dan orang tua setelah wisuda. Material teatrikal mengotori lantai dan ada tulisan tidak pantas. Nggih (pernyataan sampah merujuk pada atribut yang mengotori lantai)," ungkapnya.
Ia juga menyebut para mahasiswa menuduh UNY memiliki SPPG. Padahal hingga saat ini UNY tidak mengelola SPPG.
"Mereka menuduh UNY punya SPPG padahal sampai saat ini belum ada. Foto mobil SPPG itu sedang mengantar MBG ke TPA ( tempat penitipan anak) UNY yang memang diberi MBG," ujarnya. (maw)