Mahasiswa Farmasi UHO Kendari Olah Daun Kersen Jadi Transdermal Patch Antijamur, Lolos Pendanaan PKM
Desi Triana Aswan June 26, 2026 08:50 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Tim mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Pendanaan ini diperoleh setelah tim dari Farmasi tersebut lolos seleksi proposal yang diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Tim tersebut terdiri dari Gusti Ayu Diah Jumliani sebagai ketua, serta Feby Eryanti Asis, Nazwa Vianty Zalshafira Mulyana, Wa Ode Noer Ramadhani Mustafa, dan M Saldi sebagai anggota. 

Penyusunan proposal berlangsung sekitar empat bulan dan melewati berbagai tahapan penyempurnaan sebelum akhirnya dinyatakan lolos pendanaan.

“Kami sangat bersyukur karena bisa bersaing dengan 25.253 proposal yang masuk. Setelah melewati berbagai revisi, akhirnya proposal kami berhasil didanai oleh Kemendiktisaintek,” kata Gusti Ayu, Jumat (26/6/2026).

Gustu Ayu menyampaikan, topik tersebut dipilih karena meningkatnya ancaman kandidiasis sistemik akibat Candida albicans yang semakin sulit ditangani akibat resistensi terhadap obat antijamur konvensional.

Baca juga: Tim PKM Pascasarjana UHO Edukasi Warga Padeleu Kendari Cara Lestarikan dan Manfaatkan Tanaman Obat

Adapun daun kersen dipilih sebagai bahan utama karena mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan saponin yang berpotensi sebagai antijamur alami.

Transdermal patch adalah plester berobat yang ditempelkan pada kulit untuk mengantarkan obat secara terkontrol dan perlahan menembus kulit. 

“Harapannya, inovasi ini bisa menjadi alternatif terapi antijamur yang lebih aman, efektif, dan memberikan efek samping yang lebih rendah dibandingkan pengobatan yang tersedia saat ini,” ujarnya.

Ia menyebut, penelitian ini juga bertujuan meningkatkan efektivitas pemanfaatan ekstrak tanaman obat melalui sistem penghantaran obat berbasis bahan alam sehingga mampu bekerja lebih optimal dalam menangani kandidiasis sistemik.

Setelah melalui proses karakterisasi, bahan tersebut diformulasikan menjadi patch transdermal, kemudian diuji terhadap jamur Candida albicans melalui pengujian in vitro dan in vivo.

Penelitian akan dilaksanakan selama sekitar tiga bulan, mulai Juni hingga Agustus 2026, di Laboratorium Fakultas Farmasi UHO Kendari.

Selain menghasilkan alternatif terapi baru, tim berharap riset tersebut dapat meningkatkan nilai pemanfaatan tanaman kersen yang selama ini lebih dikenal sebagai tanaman peneduh.

“Kami ingin membuktikan bahwa bahan alam di sekitar kita memiliki potensi besar apabila dikembangkan dengan pendekatan ilmiah dan teknologi yang tepat. Ke depan, kami berharap penelitian ini dapat berlanjut hingga tahap uji klinis dan menjadi dasar pengembangan produk farmasi berbasis bahan alam Indonesia,” jelasnya. (*)

(TribunnewsSultra.com/Dewi Lestari)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.