'Vancouver Siap Jika Piala Dunia 2026 Segera Berakhir'
GH News June 26, 2026 10:08 PM
Vancouver -

Di saat para pencinta sepak bola tengah menikmati euforia Piala Dunia, kota-kota wisata di Kanada justru ingin event ini segera usai.

Alih-alih mendatangkan gelombang turis yang melimpah seperti yang dijanjikan, ajang olahraga terbesar ini malah memicu penurunan jumlah wisatawan yang memukul telak para pelaku bisnis kecil dan operator tur lokal.

Sebelum turnamen dimulai, pihak hotel di Vancouver dan Toronto menaikkan tarif secara agresif hingga mencapai USD 1200 (sekitar Rp21,55 juta) per malam demi menyambut lonjakan pariwisata. Bukannya untung, kebijakan ini justru bikin buntung.

Pihak hotel memaksa agen perjalanan yang biasanya membawa rombongan tur melewati kota-kota besar tersebut untuk menghentikan operasi mereka selama musim liburan puncak di Kanada. Lonjakan turis yang dinanti-nanti pun tidak pernah terwujud.

Pada pertengahan Mei, Royce Chwin, CEO agen pariwisata Destination Vancouver, mengungkapkan bahwa pemesanan kamar hotel untuk bulan Juni justru merosot 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Toronto pun hanya mencatat kenaikan tipis sebesar empat persen untuk hunian sewa jangka pendek.

Imbasnya, arus wisatawan ke kota-kota sekitar ikut anjlok. Bisnis kecil seperti Mt Robson Store & Gift Shop di kawasan Canadian Rockies menjadi salah satu yang paling terdampak. Sang pemilik toko suvenir, Bruce Baker, menumpahkan kekecewaannya:

"Jangan mulai membahasnya," kata pemilik toko suvenir, Bruce Baker, kepada .

"Ini bukan tambang emas seperti yang semua orang kira. Setidaknya di Qatar, semuanya berada di satu tempat. Terkadang di seberang jalan. Tapi sekarang semuanya tersebar, dan orang-orang mengikuti tim mereka. They datang untuk satu pertandingan lalu pergi," jawabnya.

Kekesalannya bahkan sudah di ubun-ubun.

"Seluruh kota sudah siap jika Piala Dunia segera berakhir," tegasnya.

Direktur tur Cosmos, Lynda Brown, menyebutkan bahwa rata-rata tarif hotel di Vancouver meroket hingga USD 900 (sekitar Rp16,16 juta) per malam selama Piala Dunia berlangsung. Tingginya biaya ini membuat banyak kamar akhirnya kosong tidak terjual.

Menurut Brown, beberapa jaringan hotel besar sengaja "mengunci" tanggal-tanggal tersebut sejak bertahun-tahun lalu demi meraup keuntungan dari kenaikan harga, yang pada akhirnya justru merugikan industri secara luas.

"Ini benar-benar memberikan pukulan telak kepada semua operator tur," katanya tentang Piala Dunia.

Kontras dengan Klaim Pemerintah dan Kota Tuan Rumah Lainnya

Kondisi sepi ini sangat bertolak belakang dengan optimisme yang sempat digaungkan oleh jajaran eksekutif kota di awal tahun.

Awal tahun ini, Wali Kota Vancouver, Ken Sim, mengatakan kepada CBC News bahwa catatan kedatangan mulai membaik.

"Kami benar-benar mendapatkan jumlah pengunjung yang setara dengan sekitar 30 hingga 40 Super Bowl di kota kami selama periode satu bulan," ucapnya.

Kenyataannya, kota-kota di bagian utara justru menjadi wilayah yang paling menderita akibat minimnya pergerakan turis. Ketika kota-kota tuan rumah lain mengalami lonjakan hunian yang masif seperti Miami yang naik hampir 30 persen, Mexico City sekitar 30 persen, serta Guadalajara dan Monterrey yang melesat hingga 90 persen, Vancouver dan Seattle justru menjadi dua kota unik yang mencatat penurunan performa dari tahun ke tahun. Sementara itu, Toronto mengekor di posisi tiga terbawah dengan pertumbuhan yang sangat minim.

Bonauli
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.