Yogyakarta (ANTARA) - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN Wihaji mengumpulkan para ayah dalam kegiatan bertajuk "Ngobrol Perkara GATI/Gerakan Ayah Teladan Indonesia (Ngopi) Lintas Tiga Generasi di Angkringan bersama Pak Wihaji" di Plaza Balai Kota Yogyakarta, Jumat sore.
"Ini bagian dari rangkaian kegiatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) Tahun 2026, yang kebetulan judul atau tema yang kita angkat ini adalah 'Ayah Wajib Hadir,'" kata Mendukbangga usai kegiatan yang dihadiri ratusan ayah tersebut di Yogyakarta, Jumat.
Menurut dia, kebetulan Kota Yogyakarta ini menjadi contoh yang baik dalam kampanye Ayah Wajib Hadir, di antaranya melalui Gerakan Ayah Mengambil Rapor (Gemar) di salah satu sekolah menengah atas di kota pelajar tersebut yang juga dihadirinya.
"Yogyakarta menjadi contoh kota untuk pembangunan keluarga, karena memang secara komprehensif lumayan angka harapan hidupnya, rata-rata 75 tahun ke atas paling tinggi di Yogyakarta, termasuk IPM-nya juga tinggi-tinggi," katanya.
Namun demikian, Wihaji mengingatkan tentang data yang sekitar 25 persen anak mengalami 'fatherless' atau kehilangan sosok ayah, maka pentingnya mengingatkan kembali dengan program-program termasuk program gemar gerakan ayah mengambil rapor.
"Dan itu bagian dari cara kita untuk mengingatkan supaya kita melayani anak tidak hanya masalah ekonomi, bayari SPP saja, tapi juga hadir di psikologisnya, dan ini tadi bagus sekali ayah-ayah banyak yang hadir, dari komunitas ayah dengan antusiasme yang bagus," katanya.
Dia mengatakan, pemerintah juga 'concern' dan perhatian terhadap perlindungan anak demi menciptakan generasi masa depan, sehingga sesuai arahan Presiden, pihaknya diminta untuk terjun ke lapangan untuk mengurusi pembangunan keluarga.
"Makanya kita kumpulkan ayah-ayahnya ini sebagai bagian dari upaya bersama-sama membangun keluarga, karena anak-anak mereka suatu saat akan menggeser, mengganti kita pada saat nantinya," katanya.
Menteri Wihaji juga berpesan kepada para ayah jangan bosan, jangan lelah untuk terus mengampanyekan tentang pentingnya generasi ke depan, karena setuju tidak setuju anak-anak adalah generasi penerus yang akan menggantikan orang tua saat ini.
"Karena itu terus kita kampanyekan, dan Yogyakarta menurut saya titik nol untuk kembali mengampanyekan bagaimana kesehatan mental ini sangat penting, dan tentu tidak lelah untuk terus mengedukasi pentingnya generasi yang lebih baik," katanya.
Baca juga: 1 dari 4 anak terancam "fatherless", Program GATI dorong ayah hadir





