SURYA.CO.ID, SURABAYA - Wakil Gubernur Jawa Timur (Wagub Jatim) Emil Elestianto Dardak, bersama Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Jatim Adhy Karyono meninjau langsung kerusakan di Gedung Negara Grahadi, Surabaya pada Jumat (26/6/2026) malam.
Peninjauan ini dilakukan pasca-unjuk rasa bertajuk "Indonesia Sekarat" yang berujung anarkis.
Baca juga: Unjuk Rasa Indonesia Sekarat di Surabaya Ricuh: Polisi Amankan Belasan Orang
Emil Dardak sangat menyayangkan tindakan sebagian massa aksi yang tidak lagi fokus menyuarakan aspirasi, melainkan sengaja melakukan perusakan fasilitas negara, dan melakukan tindakan penyerangan terhadap aparat kepolisian yang berjaga di lokasi.
"Ini yang kami sayangkan ya. Jadi sebagian massa tidak hanya fokus pada menyuarakan aspirasi, tapi malah fokus pada bagaimana caranya kemudian ini merusak. Dan rusaknya ini bisa berdampak lebih luas kepada stabilitas di tengah-tengah kita semua," ujar Emil di sela peninjauannya.
Menurut Emil, tindakan destruktif ini berpotensi mengganggu stabilitas keamanan masyarakat Jawa Timur secara luas.
Atas tindakan anarkis tersebut, pihak kepolisian telah bergerak cepat dan mengamankan puluhan demonstran yang diduga kuat melakukan perusakan.
Baca juga: Belasan Terduga Perusak dalam Demo Indonesia Sekarat di Gedung Grahadi Surabaya Ditangkap
Meskipun pintu aspirasi selalu terbuka lebar, Emil menegaskan bahwa tindakan kekerasan tidak dapat ditoleransi.
Ia juga mengapresiasi aparat keamanan yang tetap mengedepankan tindakan humanis saat mengendalikan situasi yang sangat berisiko.
Dalam bertugas, para petugas di lapangan menghadapi potensi cedera yang sangat tinggi.
Berdasarkan laporan, petugas tidak hanya dilempari batu, tetapi juga diserang secara fisik hingga dilempari bom molotov oleh oknum pengunjuk rasa.
"Tadi juga ada molotov ya. Jadi kami hadir di sini bersama Pak Sekda tentu menyampaikan apresiasi, dan Ibu Gubernur menyampaikan apresiasi kepada petugas keamanan yang bekerja luar biasa," tambah Emil.
Baca juga: Ratusan Massa Gelar Aksi Indonesia Sekarat di Depan Gedung Grahadi Surabaya
Ironisnya, fasilitas pagar yang dirusak oleh massa aksi merupakan bagian dari proyek renovasi Gedung Negara Grahadi yang belum lama rampung akibat kerusakan dari unjuk rasa serupa pada Agustus tahun lalu.
Pagar besi yang sedang dikonstruksi tersebut, justru dibongkar paksa dan beralih fungsi menjadi alat penyerangan.
Emil membandingkan pergerakan massa ini, dengan elemen mahasiswa yang dinilai lebih tertib dan kooperatif untuk diajak berdialog demi kepentingan publik.
"Kalau elemen mahasiswa kan jelas ya pakai jaket almamater, kami bisa berdialog. Tetapi yang ini mau ditanya aspirasimu apa, kami menawarkan diri berdialog, justru mereka yang diutamakan adalah bagaimana bisa melakukan serangan-serangan yang membahayakan keamanan dari insan abdi masyarakat juga," tutur Emil.
Baca juga: Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol M Luthfie Turun Amankan Unjuk Rasa di Gedung Grahadi yang Ricuh
Pada kesempatan yang sama, Sekdaprov Jatim Adhy Karyono membenarkan kondisi terkini Gedung Grahadi yang sedang dalam proses renovasi.
Area sisi barat gedung sebenarnya telah dibentengi dengan pagar besi dan baja ringan yang cukup kokoh, namun tetap roboh akibat aksi anarki.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim langsung mengerahkan petugas untuk membersihkan puing-puing sisa demonstrasi pada malam itu juga, guna mencegah penyalahgunaan material sisa.
"Nah tadi akibat demonstrasi ada kerusakan, sehingga hampir semua pagar besinya tadi sudah jalan pembersihannya. Kalau tidak, khawatir nanti dijadikan senjata lagi, untuk bisa digunakan untuk merusak lagi," jelas Adhy Karyono.
Kerusakan cagar budaya seperti Gedung Grahadi tidak hanya berdampak pada kerugian material APBD, tetapi juga mencederai nilai sejarah bangunan kebanggaan arek-arek Jawa Timur ini.
Pemprov Jatim mengimbau masyarakat agar menyampaikan aspirasi dengan cara yang bijaksanam, dan damai demi menjaga kondusivitas wilayah.