Sekolah Rakyat Jepara Jadi Rumah Generasi Tahfidz
rika irawati June 27, 2026 12:13 AM

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, JEPARA - Belajar di sekolah formal sejatinya tidak menghilangkan kesempatan pelajar mengenyam pendidikan dan memperdalam pengetahuan agama.

Bahkan, sekolah formal bisa saja disulap menjadi perpanjangan tangan pesantren.

Tempat di mana bimbingan pendidikan formal dan pendidikan agama diberikan seimbang dan beriringan.

Seperti yang terjadi di Sekolah Rakyat Dasar (SRD) 1 Jepara.

Bangunan sementara yang berdiri kokoh di Desa Pecangaan Kulon, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, itu bukan sekadar gedung SR rintisan, namun juga tempat 75 anak usia dini berproses dan belajar segala hal.

Termasuk, melahirkan generasi tahfidz.

Baca juga: Krisis Air Bersih Datang Lebih Awal, Warga Kedungmalang Jepara Kini Andalkan Bantuan dari BPBD

Sekolah Rakyat Jepara mencantumkan program tahfidz sebagai ekstrakurikuler unggulan.

Semata-mata dijalankan tidak hanya untuk menyeimbangkan pendidikan, lebih dari itu, sebagai bentuk upaya melatih kepribadian anak melalui pendidikan karakter.

Satu di antara calon generasi tahfidz dari Sekolah Rakyat Dasar 1 Jepara bernama Syamsul Huda.

Syamsul lahir dan tumbuh dari kalangan keluarga Al-Quran di Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, Jepara.

Di usianya yang baru memasuki 11 tahun, Syamsul kini duduk di bangku Sekolah Rakyat Kelas 5.

Selain orangtua, Syamsul mengidolakan kakak perempuannya yang besekolah sembari mondok di Kabupaten Kudus hingga menjadi ahli Al-Quran.

Dia pun memiliki keinginan besar mengikuti jejak sang kakak agar bisa fasih dalam mengaji, syukur-syukur bisa menjadi penghafal Al-Quran.

"Meski sekarang sekolahnya di Sekolah Rakyat, enggak langsung mondok, alhamdulillah bisa mengaji juga setoran hafalan ke pak kiai."

"Kayak di pondok gitu, ada ngajinya, enggak hanya sekolah pagi," terangnya, Jumat (26/6/2026).

Saat ini, Syamsul tengah membangun hafalan surat-surat pendek di juz 30 Al-Quran.

Target terdekatnya adalah hafal semua surat yang ada pada juz 30 tahun ini, dan berharap bisa hafal sebagian juz dalam Al-Quran begitu lulus sekolah dasar (SD).

Syamsul merupakan satu di antara siswa SRD 1 Jepara yang aktif mengikuti program ekstra tahfidz.

Untuk bisa menyongsong cita-citanya jadi penghapal Al-Quran ketika lulus Sekolah Rakyat, dia rajin melatih dan menambah hafalan setiap malam selepas waktu Isya.

Biasanya, dia memanfaatkan waktu 1-1,5 jam setiap malam untuk melatih hafalan.

Setelah itu, di-murojaah-kan kepada wali asuh sebelum hafalan disetorkan ke kiai atau guru ngaji.

Dia juga rutin murojaah hafalan surat-surat pendek kepada kakaknya ketika sedang liburan sekolah atau hari-hari libur di rumah.

"Tadinya maunya mondok saja, sekarang maunya sekolah sambil mengaji."

"Kalau bisa, sekolah di sini (SR) sampai lulus SMA, berusaha keluar sudah hafal 30 juz," harap dia.

Hal serupa juga dilakukan Fiki Naila Khusna, siswi 8 tahun asal Pendosawalan, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara.

Naila saat ini duduk di bangku Kelas 2 Sekolah Rakyat Jepara dan menjadi siswa yang juga aktif program ekstra tahfidz.

Bacaan Al-Quran Naila fasih dan enak didengar, selaras dengan cita-citanya yang ingin menjadi hafidhoh.

Selama bersekolah di Sekolah Rakyat Jepara, Naila belajar dan menghafal sungguh-sungguh guna mencari bekal sebanyak-banyaknya.

Dia berkeinginan, kelak bisa melanjutkan studi hingga ke perguruan tinggi, sekaligus menjadi santri pondok pesantren untuk meneruskan mimpinya menjadi penghafal Al-Quran.

Selama mengikuti pendidikan di SRD 1 Jepara, Naila meluangkan waktu untuk mengaji dan menghafal setiap malam menjelang istirahat dan pagi hari.

Khusus di hari Sabtu dan Minggu, dia mengaji dan menghafal di waktu siang serta malam hari.

Metode menghafalnya dimulai dari membaca berulang-ulang, disimak rekannya atau wali asuh, kemudian disetorkan kepada kiai selaku guru tahfidz.

"Orangtua mendukung, pas waktu sambangan sering ditanyain sudah hafal sampai mana, terus dites hafalan juga," tuturnya.

Baca juga: Nobar Piala Dunia 2026 di Alun-alun Jepara Mulai Babak Perempat Final, Sekaligus Ajang Festival UMKM

Kehadiran Syamsul dan Naila sebagain kecil potret berlangsungnya program tahfidz di SRD 1 Jepara.

Menjadi program pendidikan ekstra yang diharapkan bisa melahirkan ahli Al-Quran dari Bumi Kartini.

Tujuh Ekstrakurikuler

Kepala Sekolah Rakyat Dasar (RSD) 1 Jepara, Asri Linda Listyaningrum (49) mengatakan, program ekstra tahfidz mewadahi anak yang punya bakat minat di bidang hafalan Al-Quran.

Program ini bagian dari pendidikan khusus, selaras dengan tagline Pemerintah Kabupaten Jepara, 'Jepara yang Religius'.

"Di tahap awal ini, program tahfidz diikuti 15 anak dan bisa bertambah seiring perpindahan ke gedung sekolah rakyat permanen nantinya," ujar dia.

Asri menyampaikan, saat ini, ada 75 siswa yang belajar di SRD 1 Jepara.

Terdiri dari 37 siswa putra, dan 38 siswa putri.

Semua kegiatan siswa dipantau dan dimonitoring oleh 3 guru kelas, dua guru bantuan olahraga dan PAI, 4 tenaga kependidikan, 5 wali asrama, dan 12 wali asuh.

Sekolah Rakyat Dasar 1 Jepara sebagai rintisan, diresmikan pada 30 November 2025.

Setiap siswa mengikuti rangkaian kegiatan pendidikan dan kegiatan asrama dengan pantauan wali asrama dan wali asuh.

Selain kegiatan pendidikan, ada juga kegiatan ekstra yang menjadi tambahan skill bagi siswa SR.

Khusus di SRD 1 Jepara, ada tujuh kegiatan ekstrakurikuler mulai dari tari, tahfidz, sepak bola, pramuka, pencaksilat, rebana, juga kursus bahasa Inggris. 

Masing-masing siswa dipersilakan untuk memilih jenis ekstra yang diinginkan.

Kecuali ekstrakurikuler Pramuka, wajib diikuti semua anak didik. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.