TRIBUNWOW.COM - Di Dukuh Grembyuk, Desa Tanjung, Klego, Kabupaten Boyolali, tersimpan kisah mengharukan dari perjuangan seorang ayah disablitas netra demi wujudkan mimpi sang putra.
Pagi itu sekira pukul 06.00 WIB, Fatkhul Mungin (10) bersama ayahnya, Muhammad Fauzan (47) tengah berada di ruang tengah berukuran kecil miliknya.
Keduanya nampak duduk saling berhadapan.
Di depan mereka tampak sebuah wadah berisi adonan cilok.
Terlihat, tangan mungil Mungin dengan terampil membentuk adonan menjadi cilok satu per satu.
Sementara Fauzan menyiapkan bumbu kacang, kecap dan saos untuk ditata di sepeda tuanya.
Tak lupa, tungku berisikan arang diisi guna menghangatkan cilok dagangannya yang setiap hari menempuh jarak pulang pergi sejauh 15 km.
"Ngin, ewaki dorong gerobak (Ngin bantu dorong gerobak sepeda)," percakapan Fauzan kepada Mungin saat sang putra tengah menikmati liburan akhir semester dari Sekolah Rakyat Dasar 2 Surakarta.
Setelah semua dirasa siap, tepat pukul 08.00 WIB, cilok yang telah dipanaskan di atas tungku arang siap dijajakan.
Sebelum berangkat, Fauzan dibantu Mungin mengurus keperluan rumah terlebih dahulu sebelum pergi berjualan.
Mencuci, menyapu hingga masak di pagi hari jadi rutinitas Fauzan.
Aktivitas itu sudah akrab dilakukan Fauzan setelah istrinya (ibunda Mungin-red) dunia pada tahun 2019 lalu.
Setelah dirasa semua keperluan rumah selesai, dengan berhati-hati, Fauzan menurunkan sepedanya untuk berkeliling.
Jalanan naik turun khas daerah Klego jadi rintangan setiap hari yang dilalui Fauzan.
Tak jarang, Fauzan yang mengalami disabilitas netra karena mata kanan yang tak bisa melihat sering membuatnya terjatuh bahkan pernah terserempet motor saat berjualan cilok.
"Sering jatuh. Pernah tersenggol motor juga. Tapi ya harus tetap jalan karena memang ini mata pencaharian saya," ujar Fauzan dengan lirih saat ditemui TribunWow.com, Jumat (26/6/2026).
Begitu sepenggal kisah perjuangan dari Fauzan demi kebahagiaan anaknya Fatkhul Mungin.
Perjuangan Fauzan demi Wujudkan Mimpi Mungin
Keterbatasan penglihatan yang dialami oleh Muhammad Fauzan tak lantas buatnya putus asa dan berpangku tangan.
Dengan gigih, Fauzan coba untuk memberikan kehidupan layak bagi 3 putranya.
Meski akhirnya, putra bungsunya, Ghifar diasuh oleh saudaranya setelah kepergian sang istri.
"Kalau saya asuh sendiri aku ya kemampuan kurang memungkinkan, kalau saya tinggal cari ekonomi di rumah tidak ada yang rawati, tidak ada yang memperhatikan, tidak ada yang jaga kebersihannya. Kalau saya tinggal rawat anak, ekonomi kosong. Kalau tinggal ekonomi, anak jadi tidak terpantau."
"Dari bujang ekonomi saya memang di jalan, punya istri, punya anak sampai ditinggal istri memang ekonomi saya seperti ini, anak saya ketiga diasuh saudara sejak usia 25 hari," jelas Fauzan dengan nada bergetar.
Fauzan menyadari, fisiknya yang terbatas buat dirinya tak bisa melakukan pekerjaan lain selain berjualan cilok.
"Kalau mau kerja lainnya terbatas, karena kemampuan melihat saya tidak bisa semaksimal mungkin sama seperti teman-teman, kan anugerah ilahinya segini, kemampuan fisik mataku," ungkapnya.
Menjadi Ayah Sekaligus Ibu
Cobaan terbesar keluarga Fauzan datang pada 4 Februari 2019.
Ibunda Mungin meninggal dunia saat dirinya berusia 4 tahun dan sang adik bungsu berusia 25 hari.
Sejak saat itu, Fauzan bahu membahu jadi ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya.
Meski begitu, peran itu terasa ringan karena ada uluran tangan dari Mungin yang juga ternyata pandai dalam masak dan melakukan pekerjaan rumah lainnya.
"Kalau saya sedang sibuk, dia sering membantu. Bahkan dia sudah bisa memasak nasi goreng sendiri," tutur Fauzan dengan bangga.
Sekolah Rakyat Beri Harapan Besar dan Perubahan
Fauzan menceritakan, awal mula Mungin ikut mendaftar di Sekolah Rakyat Dasar 2 Surakarta.
Saat itu, Mungin sejatinya masih bersekolah di satu di antara SDN 2 Tanjung.
Namun, di semester kedua, Mungin memutuskan untuk pindah ke SRD 2 Surakarta.
Informasi awal datang dari seorang pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Puji yang menyarankan Fauzan untuk mendaftarkan Mungin ke SRD 2 Surakarta.
"Dulu sempat musyawarah dengan Mungin selama 1 bulan lebih sebelum anaknya mau karena lihat gedung di foto yang menurutnya bagus. Awalnya memang berat. Anak juga sempat belum mau karena harus jauh dari saya," kenangnya.
Dan benar saja, Mungin yang masuk pada awal Januari 2026 selama kurang lebih enam bulan di SRD 2 Surakarta mengalami banyak perubahan dalam kepribadiannya.
"Kalau dulu salat harus disuruh terus. Sekarang dengar azan langsung salat. HP juga sudah jauh berkurang," ujar Faujan.
Meski bangga melihat perubahan anaknya, Faujan mengakui rumah terasa jauh lebih sepi sejak DMuin tinggal di asrama.
"Dulu ramai. Sekarang ya sepi," katanya sambil tersenyum.
Namun rasa rindu itu perlahan berubah menjadi rasa syukur.
Baginya, kesepian merupakan risiko yang harus dilalui demi melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Terima Kasih Sekolah Rakyat hingga Harapan Fauzan
Rasa syukur tak berhenti disampaikan Fauzan saat menceritakan perubahan besar yang dialami Mungin seusai Sekolah di SRD 2 Surakarta.
"Saya tidak bisa membalas apa-apa selain berdoa. Semoga guru-guru selalu diberi kesehatan, rezeki yang halal, dan keberkahan karena sudah membimbing anak saya," ucapnya.
Sebagai orang tua, Fauzan berharap anaknya bisa tumbuh menjadi pribadi baik yang berguna bagi agama, masyarakat dan bangsa.
"Harapan saya sederhana. Semoga anak saya menjadi orang yang bermanfaat, ilmunya berguna, cita-citanya tercapai, dan kehidupannya kelak lebih baik daripada saya," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Perubahan Mungin di Mata Sang Kakak
Muhammad Awallun Ibni Abdillah atau akrab disapa Ibni mengungkapkan perubahan drastis yang dirasakannya setelah Mungin kembali ke rumah setelah 6 bulan lamanya di SRD 2 Surakarta.
Tak disangka, Mungin dulu yang jail dan tak bisa lepas dari Ibni kini menurutnya jadi pribadi yang jauh lebih baik, termasuk mau mengaji dan shalat tepat waktu.
"Sebelum masuk Sekolah Rakyat, dulu dia tidak pernah mau mengaji, sekarang sudah bisa mengaji. Dulu juga sering malas berangkat sekolah karena malas. Waktu SD dia sekolah di SD Negeri 2 Tanjung."
"Sekarang setelah masuk Sekolah Rakyat, dia jauh berubah. Dia lebih rajin salat, lebih rajin belajar, dan lebih sering membantu orang tua," kata Ibni kepada TribunWow.com, Kamis (25/6/2026).
Mungin pernah bercerita dengan Ibni, dulu sang adik hanya bisa bermain sepak bola biasa di lapangan.
Saat ini, Mungin bisa merajut mimpi dan cita-citanya itu dengan ikut Sekolah Sepak Bola (SSB) setelah masuk ke SRD 2 Surakarta.
"Muin pernah bercerita kalau sekarang di Sekolah Rakyat dia bisa ikut SSB. Dulu dia hanya bermain sepak bola biasa. Sejak masuk Sekolah Rakyat dia semakin ingin menjadi pemain sepak bola," ungkapnya.
Anak sulung dari tiga bersaudara itu berharap, Mungin bisa mewujudkan cita-citanya melalui SRD 2 Surakarta serta bisa membahagiakan sang ayah.
"Harapan saya untuk Mungin semoga cita-citanya tercapai dan bisa membahagiakan orang tua, semoga selalu diberi kelancaran dalam menempuh pendidikan," pungkasnya.
Mungin: Terima Kasih Sekolah Rakyat
Fatkhul Mungin atau akrab disapa Mungin menceritakan terkait kondisinya saat berada di SRD 2 Surakarta.
Kata Mungin, dirinya mengaku senang karena di sana lebih banyak memiliki teman.
Selain itu, fasilitas gratis baik peralatan sekolah, sandal maupun kebutuhan mandi semuanya sudah disediakan di sekolah.
"Setelah di SRD 2 Surakarta saya jadi nyaman karena banyak teman. Saya juga dapat makan gratis setiap hari dan dapat barang gratis seperti peralatan sekolah, sandal, alat mandi, ember, handuk, dan selimut," cerita Mungin kepada TribunWow.com, Kamis (25/6/2026).
Mungin mengaku, dulu dirinya yang suka tidur larut malam, kini berubah seketika semenjak tinggal di asrama SRD 2 Surakarta.
"Dulu sering tidur malam, sekarang dirumah setelah pulang di masa liburan saya bisa tidur lebih cepat seperti di asrama. Bisa tidur habis isya atau 9 malam dan bangunnya jam 4 pagi," ungkap Mungin.
Selain itu, di bidang minat dan bakatnya, Mungin yang dulu hanya bermain sepak bola di lapangan biasa kini bisa menimba ilmu di SSB setelah masuk ke SRD 2 Surakarta.
"Sebelum masuk SR saya main bola biasa setiap sore. Lapangannya jauh dari rumah dan saya jalan kaki bersama teman-teman. Di SR ada lapangan di belakang sekolah, bolanya juga sudah disediakan dan ada jadwal bermainnya. Di SSB kami memakai sepatu dan seragam. Kalau di rumah dulu main biasa, bahkan sering tidak pakai sepatu atau sandal. Di SSB juga dilatih oleh pelatih. Saya sudah merasakan perbedaannya," bebernya dengan nada semangat saat menceritakan.
Ia juga menceritakan dirinya pernah dipuji pelatih karena berhasil mencetak gol dan memberi assist dalam 1 pertandingan.
"Saya pernah dipuji pelatih karena bisa mengumpan dan mencetak gol. Untuk latihannya dibagi oleh pelatih berdasarkan kelompok umur. Saya masuk kelompok tahun 2015. Senang ikut SSB karena bisa bertemu banyak teman dan bisa latihan," jelasnya.
Untuk pelajaran, Mungin mengaku memfavoritkan murojaah dan olahraga.
"Di SRD 2 Surakarta kegiatan yang paling saya suka adalah murojaah setelah Subuh. Sebelum masuk SRD saya sudah hafal surat sampai Al-Fil. Sekarang hafalan terus dilakukan setiap hari, walaupun belum hafal semuanya. Salat juga selalu tepat waktu. Dan untuk pelajaran favoritku olahraga," ucapnya.
Selalu Bantu Orang Tua
Senada dengan Fauzan, Mungin juga menceritakan jika dirinya sering membantu sang ayah untuk menyiapkan cilok.
Hal itu sudah dilakukan Mungin sudah sejak lama.
"Di rumah saya sering membantu bapak. Biasanya mengisi adonan ke dalam tahu, membantu membuat dagangan, mendorong gerobak bakso, dan kadang ikut memasak.
Terkadang, Mungin juga melayani Fauzan dengan masak beberapa menu makanan untuk di makan bersama seperti nasi goreng, telur dan mie goreng.
Didikan Fauzan yang membiasakan Mungin untuk membantunya jadi sebab sang anak memiliki rasa tanggung jawab dan juga empati.
Lebih lanjut, Mungin juga turut membeberkan harapannya untuk program Sekolah Rakyat.
"Harapan saya untuk Sekolah Rakyat semoga tetap seperti sekarang. Saya senang karena semua perlengkapan sekolah gratis, seperti sepatu, buku, dan baju sekolah. Cita-cita saya tetap ingin menjadi pemain sepak bola ketika sudah besar. Saya berharap melalui Sekolah Rakyat saya bisa meraih cita-cita tersebut," pungkas Mungin yang ngaku menjadi penggemar berat kiper Timnas Indonesia, Ernando Ari.
Kemensos Terus Lakukan Perbaikan dan Pastikan Kebutuhan Dasar Sekolah Rakyat Terpenuhi
(TribunWow.com/Adi Manggala S)