Jakarta (ANTARA) - Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman menyatakan para peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang mengikuti latihan dasar kemiliteran (latsarmil) telah menjalani tes kesehatan sebelum pelatihan dilaksanakan.

"Sebelum pelaksanaan pelatihan itu dilangsungkan tes kesehatan. Semua saya rasa dilakukan tes kesehatan," kata Dudung dalam pernyataannya di Jakarta, Jumat.

Dudung mengatakan pelaksanaan pelatihan tersebut saat ini sedang dievaluasi dan diinvestigasi. Berdasarkan informasi yang diterimanya, belum ditemukan adanya unsur kelalaian terkait peristiwa tersebut.

Menurut dia, latihan militer untuk peserta SPPI tidak tergolong terlalu berat. Namun, kemungkinan terdapat faktor kesehatan atau faktor lain yang memengaruhi kondisi peserta selama mengikuti pelatihan.

"Setahu saya latihan militer untuk tingkatan seperti SPPI dan sebagainya tidak terlalu keras ya. Tapi mungkin karena dia sakit dan sebagainya. Tapi ini sedang dievaluasi dan ada investigasi," kata dia.

Dalam kesempatan itu, Dudung juga menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya tiga peserta SPPI dalam kegiatan tersebut dan berharap pelaksanaan pelatihan ke depan semakin memperhatikan prosedur serta faktor keselamatan guna mencegah timbulnya korban.

Terkait kelanjutan program pelatihan, Dudung menilai kegiatan semacam itu tetap penting untuk membangun disiplin, loyalitas, kerja sama, dan jiwa korsa peserta.

"Kami pun dulu sebelum jadi di lingkungan Kabinet Merah Putih, diretret dulu di Magelang, karena memang itu penting kalau menurut saya untuk meningkatkan disiplin, meningkatkan loyalitas, kerja sama, jiwa korsa, dan sebagainya. Ya mudah-mudahan itu tetap lagi dilaksanakan," pungkasnya.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan (Kemhan) pada Selasa (23/6) mengonfirmasi dua peserta Program SPPI untuk KDMP dan KNMP meninggal dunia saat menjalani latsarmil, yakni Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan Anisa, yang mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan, meninggal dunia akibat serangan panas (heat stroke).

Sementara itu, Yonanda, yang mengikuti pendidikan di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja, meninggal dunia setelah mengalami penurunan kondisi fisik pada Senin (15/6) dan sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, ia meninggal dunia akibat henti jantung.

Kemhan kemudian mengumumkan satu peserta lainnya, Novia Rahmadhani Sihotang, meninggal dunia pada Rabu (24/6). Novia merupakan peserta Program SPPI KNMP 2026 yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau, Jakarta.

Rico menjelaskan Novia mengalami gangguan kesehatan saat mengikuti latsarmil pada Senin (22/6). Ia kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Angkatan Udara Dr. Esnawan Antariksa untuk mendapat penanganan medis. Kondisinya terus menurun hingga meninggal dunia pada Selasa (23/6).