Ilmuwan Bongkar Hasil 'Gen Pelindung' yang Bikin Trio Saudari Bisa Hidup 100 Tahun
GH News June 27, 2026 07:08 AM
Jakarta -

Selama ini, gaya hidup sehat dan olahraga selalu digadang-gadang sebagai kunci utama berumur panjang. Tetapi, temuan terbaru pada tiga saudara perempuan asal Brasil mematahkan persepsi tersebut.

Para ilmuwan kini menduga bahwa faktor genetika atau keturunan justru memegang peran jauh lebih besar, dalam menjaga fungsi tubuh tetap prima di usia senja.

Diketahui tiga bersaudara asal Rio de Janeiro itu bernama Levita de Deus Nunes (109), Zoraide de Deus Mota (104), dan Zulina de Deus Nunes (103). Mereka baru saja dinobatkan Guinness World Records sebagai trio saudara kandung tertua yang masih hidup di dunia, dengan total usia gabungan 316 tahun.

Fenomena langka ini memicu para ilmuwan dalam proyek DNA Longevo dari Sao Paulo University, untuk memburu sesuatu yang disebut sebagai 'gen pelindung' dalam tubuh mereka. Gen inilah yang dicurigai mampu melindungi organ vital seperti jantung, otot, dan fungsi kognitif otak dari kerusakan akibat penuaan.

"Melalui pengujian DNA, kami mencari gen pelindung, dan kami tahu ada beberapa di antaranya," kata Mayana Zatz, ilmuwan yang mengkoordinasikan Pusat Penelitian Genom Manusia di universitas tersebut.

"Semakin banyak orang yang hidup hingga usia lebih dari 100 tahun, terutama keluarga dengan beberapa anggota keluarga yang berusia lebih dari 100 tahun, semakin akurat penelitian kita dalam mengidentifikasi mereka," lanjutnya, dikutip dari .

Mengapa Faktor Genetik Lebih Unggul?

Melalui studi ini, peneliti membandingkan DNA kelompok lansia berumur di atas 100 tahun yang tetap tangguh secara fisik dan mental, dengan lansia lain yang mengalami pikun, penurunan fungsi kognitif, atau penyakit kronis.

Hasilnya mengarah pada kuatnya komponen genetik bawaan dibandingkan sekadar faktor lingkungan luar.

Ben Meyers, CEO LongeviQuest, sebuah organisasi global yang memverifikasi rekor umur panjang, sepakat bahwa ada peran biologis yang masif pada tubuh ketiga saudari tersebut.

"Ketika para saudari mencapai usia tersebut, jelas ada komponen genetik yang kuat," kata Ben Meyers.

"Tetapi karena mereka tinggal berdekatan, mereka juga memiliki jaringan dukungan, dengan keluarga yang dapat membantu jika diperlukan. Tentu ada aspek komunitas juga," jelasnya mengenai faktor pendukung psikologis.

Asupan Selalu Segar dan 'Menyusui'

Menariknya, di samping modal gen yang kuat, ketiga lansia ini menjalani masa muda yang sangat sederhana, tetapi aktif. Zulina, misalnya, mengenang masa kecilnya yang dihabiskan berenang dan memancing di sungai tanpa terpapar makanan olahan modern.

"Semuanya segar. Kami tidak punya kulkas," katanya.

Bagi sang kakak, Zoraide, fondasi kesehatan masa depan juga dibangun sejak awal kehidupan.

"Menyusui sangat penting," tambahnya.

Di masa tuanya, mereka tetap hidup bahagia dan damai. Levita, yang pernah bekerja di jaringan televisi, mengaku tidak memiliki beban pikiran di masa senjanya.

"Saya memiliki masa kecil dan remaja yang baik. Saya tidak bisa mengeluh."

Kini, tim peneliti yang dipimpin oleh Joao Paulo Guilherme menargetkan untuk mengumpulkan sampel DNA dari 500 orang berusia 100 tahun ke atas.

Harapannya, teka-teki medis mengenai keberadaan gen pelindung ini bisa segera terpecahkan, dan membuka peluang baru dalam dunia sains untuk memanipulasi cara manusia menua dengan sehat di masa depan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.