TRIBUNJAKARTA.COM - Nama Abdul Haris Agam atau yang dikenal sebagai Agam Rinjani kembali menjadi sorotan publik.
Jika setahun lalu ia menuai pujian karena terlibat dalam proses evakuasi pendaki asal Brasil, Juliana Marins, kini rencana kedatangannya ke Gunung Rinjani justru memicu penolakan dari sejumlah pelaku wisata dan masyarakat setempat.
Agam berencana datang ke Gunung Rinjani bersama konten kreator sekaligus pegiat konservasi Panji Petualang untuk mengenang satu tahun proses evakuasi Juliana Marins yang meninggal dunia setelah terjatuh ke jurang Gunung Rinjani pada Juni 2025.
Namun, rencana tersebut mendapat penolakan dari Forum Wisata Lingkar Rinjani.
Menanggapi polemik yang berkembang, Panji Petualang akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat Lombok, khususnya Suku Sasak dan para pelaku wisata di kawasan Gunung Rinjani.
"Mohon maaf yang seluas-luasnya untuk semua keluargaku di Lombok. Khususnya untuk semua pihak yang tersinggung atau tersakiti karena postingan ku," ujar Panji melalui akun Instagram @panjipetualang_real.
Panji mengaku awalnya tidak mengetahui adanya persoalan lama antara Agam dengan sejumlah relawan dan komunitas di kawasan Rinjani.
Menurutnya, rencana membuat konten itu muncul setelah dirinya bertemu Agam di Jakarta dan membahas momen satu tahun proses penyelamatan Juliana Marins.
Namun setelah unggahan tersebut dipublikasikan, Panji baru mengetahui bahwa masih ada persoalan yang belum selesai antara Agam dan sejumlah relawan di Rinjani.
Ia juga mengakui kesalahan karena menyematkan istilah "Pawang Gunung Rinjani" dalam unggahannya.
"Khususnya untuk masalah caption-ku terkait Pawang Gunung Rinjani, itu memang salah," kata Panji.
Ketua Forum Wisata Lingkar Rinjani, Royal Sembahulun, mengatakan penolakan terhadap rencana kedatangan Agam bukan hanya soal pembuatan konten.
Menurut Royal, masih ada persoalan yang belum terselesaikan terkait donasi yang dihimpun saat proses penyelamatan Juliana Marins pada 2025.
Ia menyebut dana tersebut semestinya digunakan untuk mendukung kebutuhan operasi penyelamatan, termasuk membantu relawan, porter, serta biaya peralatan yang digunakan selama evakuasi.
"Ada banyak janji dan utang yang belum diselesaikan, terutama yang berkaitan dengan donasi Juliana. Jangan sampai kedatangannya ke Rinjani justru menjadi ajang pencitraan di tengah masalah yang belum tuntas," ujar Royal.
Selain persoalan donasi, Forum Wisata Lingkar Rinjani juga menolak penyematan julukan "Pawang Rinjani" kepada Agam.
Menurut mereka, gelar tersebut memiliki makna budaya dan tidak bisa diberikan secara sembarangan karena berkaitan dengan nilai adat dan kearifan lokal masyarakat di sekitar Gunung Rinjani.
Tokoh adat Sembalun, Mertawi, turut memberikan penjelasan mengenai ramainya penyematan gelar "Pawang Rinjani" kepada Agam.
Ia menegaskan bahwa gelar tersebut bukan sekadar julukan, melainkan bagian dari tradisi yang hanya bisa diberikan melalui musyawarah masyarakat adat di lingkar Gunung Rinjani.
"Menurut tradisi kita, khususnya yang tinggal di lingkar Rinjani, tidak semudah itu untuk menyebut diri sebagai Pawang Rinjani," ujar Mertawi.
Ia menjelaskan bahwa sejak dahulu gelar tersebut diberikan kepada sosok yang memiliki tanggung jawab adat, moral, dan spiritual terhadap Gunung Rinjani serta masyarakat di sekitarnya.
Karena itu, Mertawi berharap siapa pun tidak sembarangan menggunakan atau menyematkan gelar tersebut tanpa melalui mekanisme adat yang berlaku.
Sebagai informasi, Agam Rinjani dikenal luas setelah ikut membantu proses evakuasi Juliana Marins, wisatawan asal Brasil yang terjatuh ke jurang sedalam sekitar 600 meter di kawasan Cemara Nunggal, Gunung Rinjani, pada Juni 2025.
Berdasarkan hasil autopsi, Juliana meninggal dunia akibat trauma berat setelah mengalami benturan keras yang menyebabkan patah tulang belakang, dada, dan paha serta kerusakan organ dalam.